Ngopene Soengenep, Menjaga Warisan, Menyemai Peradaban

Redaksi Nolesa

Jumat, 31 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto: istimewa)

(foto: istimewa)

Oleh | Dr. Moh. Zeinudin

OPINI, NOLESA.COM – Tahun 2025 menandai usia ke-756 Kabupaten Sumenep, sebuah perjalanan panjang yang tidak sekadar menunjukkan rentang waktu, melainkan bukti daya tahan sebuah peradaban.

Tema Hari Jadi tahun ini, “Ngopene Soengenep”, yang berarti merawat Sumenep mengandung pesan filosofis yang dalam: bahwa kemajuan sejati bukan hanya hasil dari pembangunan fisik, tetapi terutama buah dari kesadaran kolektif untuk menjaga nilai, tradisi, dan kearifan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sumenep bukan sekadar daerah di ujung timur Madura. Ia adalah mosaik sejarah dan kebudayaan Nusantara, tempat di mana Islam, tradisi lokal, dan semangat kemanusiaan berpadu indah dalam harmoni.

Nilai gotong royong, kejujuran, dan kearifan lokal bukan sekadar simbol budaya, tetapi merupakan roh sosial yang selama berabad-abad menjadi penyangga harmoni masyarakat Sumenep.

Baca Juga :  Generasi Muda dan Ekonomi Hijau

Namun, di tengah arus modernisasi yang cepat, nilai-nilai itu kini menghadapi tantangan serius. Globalisasi telah membawa kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga menimbulkan disrupsi sosial dan moral.

Banyak anak muda kita yang tumbuh tanpa akar sejarah yang kuat, terpesona oleh budaya instan, dan terkadang terlepas dari identitasnya sebagai orang Sumenep.

Di sinilah urgensi tema Ngopene Soengenep menemukan relevansinya: ia adalah ajakan untuk kembali meneguhkan jati diri.

Sebagai akademisi dan tokoh agama, saya memandang bahwa merawat Sumenep harus dimaknai sebagai gerakan kebudayaan dan keilmuan.

Merawat bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa setiap perubahan berpijak pada nilai luhur.

Pendidikan misalnya, harus menjadi medium utama dalam pewarisan budaya dan pembentukan karakter.

Sekolah dan perguruan tinggi di Sumenep mesti mengembangkan ilmu yang membumi, yakni ilmu yang peka terhadap realitas sosial, tetapi tetap berpijak pada nilai spiritual dan moral yang kokoh.

Baca Juga :  Talk Show Literasi: Membaca Budaya dan Menulis Peradaban

Dalam konteks pemerintahan dan pembangunan daerah, Ngopene Soengenep dapat diterjemahkan sebagai komitmen etis untuk membangun dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Kejujuran, yang merupakan inti ajaran agama dan budaya, harus menjadi fondasi birokrasi. Gotong royong, yang menjadi identitas sosial masyarakat Madura, perlu dihidupkan kembali dalam kerja kolaboratif antara pemerintah, ulama, akademisi, dan masyarakat sipil.

Lebih jauh, merawat Sumenep juga berarti menjaga warisan sejarah dan kebudayaan yang menjadi kebanggaan daerah ini.

Dari keraton hingga masjid agung kuno, dari musik saronen hingga tradisi petik laut, semua itu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun masa depan.

Kebudayaan adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Tanpa merawatnya, kita kehilangan arah sebagai sebuah bangsa kecil yang berperadaban.

Baca Juga :  Blangkon Pak Bupati

Saya percaya, Sumenep akan berkemajuan jika ia berbudaya; dan ia akan berbudaya jika ia tetap setia pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Tema Ngopene Soengenep seharusnya tidak berhenti pada slogan seremonial, tetapi menjadi gerakan moral yang hidup di tengah masyarakat, gerakan untuk memperkuat integritas, memperdalam ilmu, memperhalus budi, dan mempererat solidaritas sosial.

Semoga di usia ke-756 ini, Sumenep tumbuh menjadi daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga beradab dalam budi.

Karena sejatinya, kemajuan tanpa budaya hanya melahirkan kekosongan, sementara budaya tanpa kemajuan hanya menjadi nostalgia.

Maka, mari kita rawat Sumenep dengan ilmu, iman, dan kebersamaan agar tetap menjadi tanah yang subur bagi lahirnya manusia berakhlak, berilmu, dan berperadaban. (*)

*) Akademisi dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sumenep

Berita Terkait

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:58 WIB

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Berita Terbaru