Refleksi Hari Santri Nasional 2025

Redaksi Nolesa

Jumat, 24 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh Abd. Kadir

ESAI, NOLESA.COM – Semalam, 22 Oktober 2025, saya menghadiri undangan Harlah ke-3 Pesantren Tahfidzul Qur’an Abdul Qadir, Andulang, Gapura yang sekaligus dikemas dengan Peringatan Hari Santri Nasional. Acara yang diselenggarakan oleh Pengurus Anak Cabang Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PAC JQH NU) Kecamatan Gapura ini ditempatkan di Hotel Asmi, Sumenep.

Selain memperingati Harlah ke-3 yang memperkenalkan Pesantren Tahfidzul Qur’an Abdul Qadir dengan berbagai aktivitas santri yang ada, dan juga selayang pandang Pesantren Tahfidzul Qur’an Abdul Qadir selama 3 tahun berdiri, termasuk juga pemberian penghargaan bagi santri-santri hafidz teladan, dikemas pula pelantikan PAC JQH NU, Kecamatan Gapura oleh Pengurus Cabang JQH NU Kabupaten Sumenep. Ada juga taujihat di akhir acara yang disampaikan penasihat pertama PAC JQH NU Kecamatan Gapura, Kiai Syahid Munawar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam taujihat-nya beliau memaparkan fenomena santri dan pesantren sebagai benteng peradaban bangsa. Bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum untuk mengenang, meneguhkan, dan meneladani perjuangan para santri yang telah mengukir sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen "Tinggal Matanya Berkedip-kedip" Karya Ahmad Tohari

Jejak sejarah dan spirit perjuangan para santri yang ditandai dengan Peringatan Hari Santri merujuk pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menggugah semangat santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Semangat jihad dalam konteks itu bukanlah perang fisik semata, melainkan perjuangan mempertahankan martabat dan kedaulatan bangsa.

Ditegaskan pula bahwa oleh beliau, dalam konteks perang melawan penjajah, banyak kiai dan santri dari Sumenep yang juga ikut serta dalam peperangan. Mereka pahlawan, yang menjadi pelaku sejarah perjuangan melawan penjajah khususnya pada agresi militer Belanda kedua tahun 1947, seperti Kiai Abdullah Sajjad, Kiai Zainal Arifin, Kiai Abi Sujak dan beberapa kiai lainnya.

Baca Juga :  Melintasi Bayang Kelam dalam 'William' Karya Risa Saraswati

Dalam konteks ini, peringatan Hari Santri Nasional bisa dipahami sebagai pengingat bahwa santri bukanlah sekadar murid pesantren tetapi juga agen perubahan bangsa. Santri adalah penjaga agama dan negara. Bagi santri, penegasan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, merupakan sebuah keniscayaan. Mereka menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, menghadirkan Islam yang ramah, moderat, serta menghormati keberagaman. Inilah yang menjadi jihad santri di era modern.

Oleh karena itu, jika dulu santri berjuang dengan bambu runcing dan doa, kini jihad santri adalah jihad ilmu, literasi, teknologi, dan akhlak. Santri masa kini dituntut menjadi generasi cerdas yang mampu menghadirkan solusi atas persoalan bangsa dengan semangat keilmuan dan keteladanan moral.

Di sisi lain, diakui bahwa pesantren adalah pusat peradaban yang tidak hanya sekadar menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga laboratorium kehidupan. Di sinilah santri belajar tentang kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Dari pesantren lahir tokoh-tokoh bangsa yang berjiwa luhur dan berpandangan luas. Untuk itu, menjadi penting meneguhkan identitas santri di tengah tantangan zaman.

Baca Juga :  Ketika Pagi Tak Sekadar Bahagia: Sebuah Analisis Objektif terhadap Naskah Drama Bangun Pagi Bahagia karya Andy Sri Wahyudi

Fenomena terbaru tentang “pelecehan” terhadap santri dan kiai oleh salah satu stasiun televisi di Indonesia, sepertinya menyajikan penyadaran bahwa eksistensi santri betul-betul diuji: apakah masih bisa bertahan dengan originalitas kesantriannya seraya tetap bisa beradaptasi dengan modernitas, atau akan terjebak dengan modernitas yang akan menghilangkan identitasnya.

Untuk itu, di era digital ini, santri ditantang untuk tetap teguh memegang nilai-nilai keislaman sambil adaptif terhadap perubahan. Santri harus mampu menjadi pionir peradaban baru yang berbasis pada ilmu, iman, dan amal saleh. Menjadi santri berarti siap berkhidmat untuk agama dan bangsa dengan ilmu, akhlak, dan keikhlasan. Dari pesantren, santri menyalakan lentera peradaban untuk Indonesia yang berkemajuan dan berkeadaban. (*)

*) Pembina LP4Q JQH NU Kabupaten Sumenep

Berita Terkait

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Program MBG Presiden Prabowo dan Ancaman Inkompetensi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:05 WIB

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB