Muhasabah: Belajar Menggali Kekuatan Jiwa

Redaksi Nolesa

Jumat, 26 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Sujono

MIMBAR, NOLESA.COM – “… Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu…” (At-Taghaabun; 14-15)

Sebagai Muslim, anak-anak itu telah dibesarkan dengan pendidikan Islam. Melewati masa kecilnya dengan hafalan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta doa-doa shalat. Dan mengisi masa belianya dengan mengaji di masjid-masjid, madrasah maupun pesantren.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tetapi, Ada tetapinya…

Ketika menginjak masa remaja, tak ada kebanggaan di dadanya untuk berkata, “Isyhadu bi anna muslimun! Saksikanlah bahwa aku adalah seorang Muslim.”

Mereka telah belajar halal dan haram. Mereka juga telah belajar makruh dan sunnah. Bahkan puasa-puasa sunnah mereka lakukan demi memperoleh ranking pertama di sekolah, atau untuk memperoleh beasiswa yang tak seberapa jumlahnya, atau bahkan sekedar untuk bisa mengerjakan ujian esok hari.

Tetapi, Ada tetapinya juga…

Ketika mereka mulai menginjak dewasa, apa pun dilakukan untuk memperoleh seperiuk nasi, termasuk dengan menjual agama.

Anak-anak itu…

Ketika kecil mereka dibesarkan dengan tangis orangtua agar kelak menjadi orang yang berguna. Ketika mulai beranjak besar, airmata itu masih belum berhenti mengalir karena banyaknya biaya sekolah yang harus dipikir orangtua.

Tetapi, Ada tetapinya lagi…

Ketika mereka telah benar-benar besar, orangtua terkadang masih harus menangis karena anak-anak itu telah melupakan agamanya atau bahkan menodainya. Ada yang bahagia melihat betapa “hebat” anaknya, tetapi diam-diam menabung beratnya pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Na’udzubillahi min dzalik…

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah, pahala yang besar.” (Al-Anfaal: 28)

Baca Juga :  Mabrur Tanpa Berhaji

Sebagai cobaan, anak-anak bisa membawa kita lebih dekat kepada Allah Ta’ala. ‘Amal kita dan anak-anak kita saling disusulkan, sehingga bisa bersama-sama di surga, kelak setelah Kiamat tiba.

Tetapi…

Kalau kita salah menata mereka, anak-anak itu bisa menjadi musuh orangtua; di dunia, di akhirat, atau kedua-duanya.

Dan di antara penyebab kehancuran itu adalah NIAT kita yang salah tatkala mendidik mereka; atau pendidikan yang keliru saat mereka kita besarkan; atau kedua-duanya; NIAT dan perlakuan sama buruknya.

Kadang ada orangtua yang kurang bisa mendidik anaknya, tetapi karena NIAT-nya yang jernih dan pengharapannya yang kuat, Allah memberi pertolongan. Anak-anak itu menjadi perhiasan orangtua-nya, di dunia dan di akhirat. Anak-anak itu membawa kebaikan yang besar, penuh dengan barakah, pada hari ia dilahirkan, dimatikan dan dibangkitkan kembali.

Ada tetapinya…

Anak-anak itu bisa menjadi musuh orangtua-nya. Kehadirannya menjadi sebab lahirnya keburukan, kerusakan dan kehancuran. Mereka menyebabkan orang-orang berpaling dari agamanya. Mereka membuat orang-orang yang beriman mengalami keraguan, dan orang-orang yang masih lemah keyakinannya semakin jauh dari Tuhannya. Mereka menjadi sebab kerusakan bukan karena tidak berpengetahuan. Bahkan boleh jadi mereka sangat luas pengetahuannya. Tetapi tidak ada iman di hati mereka, kecuali sangat tipis. Wallahu a’lam…_

Baca Juga :  Membenahi Institusi Kepolisian Kita

Maka Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka BERHATI-HATILAH kamu terhadap mereka;…” (At-Taghaabun: 14-15)

Ada perintah di sini. Perintah untuk BERHATI-HATI terhadap mereka. Selebihnya, ada pelajaran yang patut kita renungkan dari peristiwa-peristiwa yang telah berlalu atau pun yang masih terpampang di hadapan kita.

Sesungguhnya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Ada hukum-hukum sejarah yang mengikatnya. Kitalah yang harus menemukan prinsip-prinsip itu.

Anak-anak itu…

Mereka mendapatkan pembelajaran ibadah, sehingga banyak surat-surat pendek yang dihafal saat usianya belum melewati lima tahun. Tetapi pembelajaran itu hanya untuk otaknya. Tidak untuk jiwa. Padahal pangkal perubahan adalah pada jiwa. Bukan otak yang cerdas. Orang yang tahu, tidak dengan sendirinya bertindak sesuai dengan pengetahuannya.

Sederhananya begini; Seorang dokter Spesialis Penyakit Dalam yang meninggal karena terlalu banyak merokok, bukan tidak tahu bahaya merokok. Bahkan sangat tahu. Hanya saja pengetahuan bahaya merokok hanya tersimpan di otak. Tidak menggerakkan jiwa. Karena begitu kecilnya pengaruh pengetahuan di otak bagi perubahan sikap dan perilaku, maka perusahaan rokok tidak pernah khawatir mencantumkan peringatan pemerintah tentang bahaya merokok di setiap kemasannya.

Baca Juga :  Inilah Kisah Buhlul

Sebaliknya…

Kalau hati sudah tersentuh dan jiwa sudah tergerakkan, pengetahuan tentang risiko tak akan membuat kaki berhenti melangkah. Mereka yang pergi berjihad di medan perang karena membela agama Allah, bukan tidak tahu kalau nyawa bisa melayang. Tetapi ketika keyakinan sudah kokoh, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan dengan kematian.

Ya, letaknya pada jiwa. Tetapi alangkah sering kita lupa pada jiwa. Ya, letaknya pada iman. Tetapi alangkah sering kita mengabaikannya. Ya, letaknya pada ‘aqidah yang menghidupkan hati. Tetapi alangkah sering kita hanya mengurusi otaknya. Padahal otak saja tidak cukup.

Teringatlah saya dengan Jean Jacques Rousseau. Kata Rousseau; “Semua penyakit kemanusiaan timbul karena manusia hanya mempertajam akalnya dan mengesampingkan panggilan hati nuraninya.”

Artinya; “Hebatnya pengetahuan agama tanpa iman yang kokoh, justru bisa menjadi sebab rusaknya agama.”

Semoga ada yang bisa kita renungkan. Semoga Allah menolong kita dan anak-anak kita semua. Aamiin…

Kutipan Hadits;

Ketika Ibnu Abbas masih amat kecil, Nabi Saw, mengajarkan kalimat yang membekas dalam jiwa. Kata Nabi Saw; “Jagalah (hak) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Kenalilah Dia di saat kau bahagia, niscaya Dia akan mengenalmu di saat kau susah…” (Imam Ahmad).

*penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB