Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Tanggal 12 Agustus kemarin, Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Braji, menyelenggarakan Haul ke-4 KH. Kariman Wirayudha.
Haul kali ini menghadirkan KHR. Achmad Azaim Ibrahimy bersama Majelis Shalawat Sokarajjah. Bagi saya haul kali ini snagatlah istimewa. Dihadiri lebih dari enam ribu jamaah, pelaksanaannya bertepatan dengan bulan kemerdekaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Artinya, haul ini bisa jadi adalah bagian dari kado kemerdekaan bagi bangsa ini. Bahwa dengan tajuk “Al-Karimiyyah Bershalawat” di bulan Agustus ini, masyarakat mengisi dengan aktivitas haul akbar dan bershalawat bersama Majelis Shalawat Sokarajjah.
Seperti yang disampaikan Dr. KH. Abuya Busyro Karim, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, bahwa sejatinya haul ini merupakan upaya untuk meneladani para pendahulu khususnya KH. Kariman Wirayudha, tokoh yang memiliki karomah/kemuliaan dalam kehidupannya sehngga begitu banyak manfaat yang ditebarkan kepada masyarakatnya. Ini yang diharapkan dan selalu diupayakan untuk bisa diteladani dari para pendahulu dengan haul ini.
Beliau menegaskan bahwa sebagaimana dipaparkan dalam buku beliau yang ke-12, “Kalam Abuya: Jendela Salikin”, dengan mengutip kitab Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah: “Madarijussalikin”, bahwa kemuliaan seseorang itu terkategori dalam 5 hal. Pertama, ‘alimun zahidun. Kalau dalam Bahasa Madura, mereka ‘alem dan tapa. Artinya bahwa mereka para pendahulu/sesepuh yang memiliki kemuliaan ini adalah orang-orang alim dan selalu menjaga diri dari hal-hal syubhat.
Kedua, faqihun sufiyyun. Mereka parapendahulu yang mendapatkan kemuliaan ini adalah golongan orang-orang yang ahli fiqih yang sufi. Mereka alim di bidang fiqih, dan dengan kealimannya mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa tendensi apa-apa, karena hati mereka bersih.
Ketiga, fakirun syakirun. Bahwa orang-orang yang diberikan kemuliaan ini adalah mereka yang meskipun tergolong tidak mampu, tetapi mereka tetap bersyukur. Artinya, bahwa realitas ini tingkatnnya sudah di atas faqirun sobirun: ketika tidak mampu masih tetap sabar.
Keempat, ghaniyun mutawadu’un. Orang-orang ini adalah mereka yang terkategori orang kaya dan disertai ketawadu’an yang luar biasa. Tak ada kesombongan karena kekayaannya.
Kelima, syarifun sunniyun. Orang-orang yang mulia, memiliki derajat/pangkat duniawi yang tinggi dengan tetap melaksanakan sunnah-sunnah Rasul. Mereka tidak lalai karena kedudukannya yang terhormat dalam konteks duniawi untuk tetap menjadi orang-orang taat dalam beragama.
Sementara itu, dalam konteks haul para sesepuh Al-Karimiyyah ini, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy menegaskan bahwa haul ini akan menghadirkan 2 hal: solahul qolbi dan nuzulurrohmah. Dengan haul ini, berarti kita mengaji sejarah orang saleh, seperti sohibul haul.
Kita juga dikenalkan dengan manakib mereka sehingga kita dianugerahi solahul qolbi, hati yang bersih. Selain itu dengan haul pula kita akan dianugerahi rahmat dan kasih sayang Allah swt dalam kehidupan kita.
Mereka para sesepuh memang sudah lama meninggalan kita. Tetapi, kesalehan mereka tetaplah hidup dan terus dikaji dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana keikhlasan, ketawadu’an dan perilaku keseharian mereka, dalam beribadah secara individual dan ibadah secara sosial, ini yang menjadi poin penting dan utama. Semoga kita selalu mendapat barokah dari para guru dan sesepuh yang telah membimbing ruhani kita, khususnya sohibul haul, KH. Kariman Wirayudha. Aamiin.(*)
*Dosen INKADHA Beraji










