Catatan Sederhana Haul KH Kariman Wirayudha

Redaksi Nolesa

Jumat, 15 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh | Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Tanggal 12 Agustus kemarin, Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Braji, menyelenggarakan Haul ke-4 KH. Kariman Wirayudha.

Haul kali ini menghadirkan KHR. Achmad Azaim Ibrahimy bersama Majelis Shalawat Sokarajjah. Bagi saya haul kali ini snagatlah istimewa. Dihadiri lebih dari enam ribu jamaah, pelaksanaannya bertepatan dengan bulan kemerdekaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artinya, haul ini bisa jadi adalah bagian dari kado kemerdekaan bagi bangsa ini. Bahwa dengan tajuk “Al-Karimiyyah Bershalawat” di bulan Agustus ini, masyarakat mengisi dengan aktivitas haul akbar dan bershalawat bersama Majelis Shalawat Sokarajjah.

Seperti yang disampaikan Dr. KH. Abuya Busyro Karim, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, bahwa sejatinya haul ini merupakan upaya untuk meneladani para pendahulu khususnya KH. Kariman Wirayudha, tokoh yang memiliki karomah/kemuliaan dalam kehidupannya sehngga begitu banyak manfaat yang ditebarkan kepada masyarakatnya. Ini yang diharapkan dan selalu diupayakan untuk bisa diteladani dari para pendahulu dengan haul ini.

Baca Juga :  Taklid Buta Politik dalam Pusaran Pemilu 2024

Beliau menegaskan bahwa sebagaimana dipaparkan dalam buku beliau yang ke-12, “Kalam Abuya: Jendela Salikin”, dengan mengutip kitab Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah: “Madarijussalikin”, bahwa kemuliaan seseorang itu terkategori dalam 5 hal. Pertama, ‘alimun zahidun. Kalau dalam Bahasa Madura, mereka ‘alem dan tapa. Artinya bahwa mereka para pendahulu/sesepuh yang memiliki kemuliaan ini adalah orang-orang alim dan selalu menjaga diri dari hal-hal syubhat.

Kedua, faqihun sufiyyun. Mereka parapendahulu yang mendapatkan kemuliaan ini adalah golongan orang-orang yang ahli fiqih yang sufi. Mereka alim di bidang fiqih, dan dengan kealimannya mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa tendensi apa-apa, karena hati mereka bersih.

Baca Juga :  Awas Politik Identitas!

Ketiga, fakirun syakirun. Bahwa orang-orang yang diberikan kemuliaan ini adalah mereka yang meskipun tergolong tidak mampu, tetapi mereka tetap bersyukur. Artinya, bahwa realitas ini tingkatnnya sudah di atas faqirun sobirun: ketika tidak mampu masih tetap sabar.

Keempat, ghaniyun mutawadu’un. Orang-orang ini adalah mereka yang terkategori orang kaya dan disertai ketawadu’an yang luar biasa. Tak ada kesombongan karena kekayaannya.

Kelima, syarifun sunniyun. Orang-orang yang mulia, memiliki derajat/pangkat duniawi yang tinggi dengan tetap melaksanakan sunnah-sunnah Rasul. Mereka tidak lalai karena kedudukannya yang terhormat dalam konteks duniawi untuk tetap menjadi orang-orang taat dalam beragama.

Sementara itu, dalam konteks haul para sesepuh Al-Karimiyyah ini, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy menegaskan bahwa haul ini akan menghadirkan 2 hal: solahul qolbi dan nuzulurrohmah. Dengan haul ini, berarti kita mengaji sejarah orang saleh, seperti sohibul haul.

Baca Juga :  Menyiapkan Generasi Emas dengan Memaksimalkan Usaha Kesehatan Sekolah

Kita juga dikenalkan dengan manakib mereka sehingga kita dianugerahi solahul qolbi, hati yang bersih. Selain itu dengan haul pula kita akan dianugerahi rahmat dan kasih sayang Allah swt dalam kehidupan kita.

Mereka para sesepuh memang sudah lama meninggalan kita. Tetapi, kesalehan mereka tetaplah hidup dan terus dikaji dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana keikhlasan, ketawadu’an dan perilaku keseharian mereka, dalam beribadah secara individual dan ibadah secara sosial, ini yang menjadi poin penting dan utama. Semoga kita selalu mendapat barokah dari para guru dan sesepuh yang telah membimbing ruhani kita, khususnya sohibul haul, KH. Kariman Wirayudha. Aamiin.(*)

*Dosen INKADHA Beraji

Berita Terkait

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah
Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur
Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd
MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren
Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir
Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Senin, 6 April 2026 - 15:50 WIB

Bohong Akut

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:15 WIB

Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:28 WIB

Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:09 WIB

Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd

Berita Terbaru

Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumenep, H. Hosnan Abrory naik sepeda ontel ke kantor DPRD Sumenep (Foto: Istimewa)

Daerah

Aksi Nyata Fraksi PDIP DPRD Sumenep Dorong Penghematan BBM

Jumat, 17 Apr 2026 - 16:25 WIB

Ketua DPD PDIP Jatim, Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Said Abdullah Tegaskan Kedekatan PDIP Jatim dengan NU

Minggu, 12 Apr 2026 - 18:45 WIB