Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Redaksi Nolesa

Jumat, 14 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Anggun Cahyaningrum

(Mahasiswa Prodi PBSI STKIP PGRI Sumenep)


Membincang tentang rokat, orang Madura tampaknya memiliki cara sendiri dalam menyeimbangkan alam makro (dunia) dan alam mikro (diri). Dalam hal ini, rokat adat (di Jawa disebut ruwat) digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan usaha tersebut. Menurut cerita turun-temurun, kebiasaan rokat adalah salah satu cara masyarakat membangun kehidupan yang harmonis. Dipahami bahwa tradisi rokat dilatarbelakangi oleh adanya kepercayaan turun-temurun (latar belakang historis) dan diperkuat oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi (latar belakang sosiologis) di tengah-tengah masyarakat Madura.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada awalnya, kepercayaan masyarakat dalam konteks rokat ini dianggap menyimpang. Masyarakat meyakini bahwa mereka tidak bisa melihat apa yang akan terjadi pada mereka di masa depan, terutama dalam hal penderitaan, bencana, bahaya atau penyakit. Diyakini pula bahwa segala macam penderitaan dapat menimpa manusia kapan saja. Ketiadaan kekuatan ini membuat masyarakat mencari “pertunjukan” untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Melalui rokat, masyarakat berharap terhindar dari segala keburukan tersebut dengan meminta “restu” dari leluhurnya yang mereka percayai masih bisa dimintai pertolongan. Oleh karena itu, kerabat mereka yang masih hidup akan menyambut arwah para leluhur dalam upacara-upacara keadatan.

Namun, lambat laun, dengan pesatnya perkembangan Islam di Madura, masyarakat mulai menyadari bahwa dalam praktiknya terdapat hal-hal yang dianggap bertentangan dengan agama. Karena itu, budaya ini mengalami proses islamisasi. Akibat perkembangan tersebut, kini rokat menjadi ritual yang tidak ditentang oleh umat Islam Madura. Rokat telah berkembang menjadi tradisi Islam dengan doa-doa yang penuh pengharapan akan pertolongan Tuhan. Namun, arwah leluhur tetap dilibatkan sebagai perantara untuk menyatakan niat tersebut. Hal ini dilakukan karena arwah harus berada di wilayah lain yang “dekat” dengan Tuhan.

Baca Juga :  Pemdes Banbaru Dukung Pelaksanaan Petik Laut Rokat Tasek

Ritual adat Madura ini dapat dilakukan untuk kepentingan pribadi (individu) dan untuk kepentingan umum (masyarakat). Perayaan diadakan bersama untuk kebaikan bersama. Salah satu rokat yang ada adalah Rokat Pandhaba (pandawa). Upacara ini diadakan dengan berbagai alasan penting, misalnya kelahiran mereka yang dianggap bagian dari pandhaba macan dengan sifat kembar seperti pandhaba panganten (laki-laki dan perempuan), Pandhaba lema’ (kelima bersaudara), Pandhaba Tanges. (salah satu dari lima bersaudara yang telah meninggal), atau pandhaba eret (lima bersaudara: empat laki-laki dan satu perempuan atau empat perempuan dan satu laki-laki). Upacara ini penting agar orang yang lahir di salah satu jenis tersebut dapat terhindar dari hal-hal negatif.

Rokat Pandhaba adalah ritual siraman yang dimaksudkan untuk menyelamatkan anak Pandhaba dari kesengsaraan yang akan datang dan menjaganya dari segala bahaya yang mungkin mengganggu perjalanannya keliling dunia, dan dilakukan sebelum pernikahan. Rokat pandhaba merupakan ritual yang menandai peristiwa penting yang berkaitan dengan adat dan kepercayaan masyarakat. Setelah melakukan rokat pandhaba diyakini membawa rasa aman bagi individu atau masyarakat yang melakukan ritual adat rokat pandhaba. Dalam melaksanakan ritual, tindakan tersebut bersifat sakral agar seseorang dapat menemukan tujuan spiritualnya.

Baca Juga :  Sepuluh Fakta Unik Burung Perkutut, yang Kedua Bikin Merinding

Pandhaba adalah istilah yang digunakan untuk menyebut seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang diyakini mempunyai nasib buruk atau nasib buruk tertentu, sehingga menjadikan anak tersebut sebagai mangsa Batara Kala. Mangsa Batarakara dianggap pembawa sial dan bisa menjadi sasaran atau mangsa Batara Kala. Batara Kala sering dianggap sebagai dewa atau entitas yang terkait dengan malapetaka atau kehancuran. Menurut kepercayaan masyarakat Madura, jika seorang anak tidak melaksanakan tradisi Rokat Pandhaba, maka Batara Kala akan melahapnya. Tradisi ini melibatkan seorang ibu yaitu menyiram anak yang dianggap pandhaba. Percikan adalah air yang melambangkan berkah atau perlindungan. Dan pertunjukan “Mamaca” merupakan semacam ritual atau doa yang dilakukan pada saat prosesi Rokat Pandhaba. Ini mungkin melibatkan pembacaan mantra doa, atau serangkaian kata-kata khusus untuk tujuan spiritual atau perlindungan.

Inilah ciri-ciri anak yang tergolong anak pandhaba dan harus dirokat:

1. Pandhaba Macan (laki-laki atau perempuan tunggal/satu)

2. Pandhaba Ontang-Anteng (tiga bersaudara, satu putra, dua putri)

3. Pandhaba Panganten (dua bersaudara, satu laki-laki dan satu perempuan)

4. Pandhaba Lema’ (lima bersaudara dan satu laki-laki atau perempuan)

Apabila ada anak yang termasuk dalam kategori di atas maka ia dianggap perlu dirokat, sedangkan saudara-saudaranya jika bukan pandhaba tidak perlu dirokat. Misalnya saja seseorang mempunyai satu orang anak laki-laki dan dua orang putri, maka hanya anak laki-laki saja yang harus dirokat karena termasuk dalam kategori pandhaba ontang-anteng. Penyebabnya karena anak-anak yang termasuk dalam kategori pandhaba akan dianggap hidup dengan kesialan yang mengancamnya, sehingga kesialan tersebut dibuang begitu saja dalam prosesi rokat. Nasib buruk yang ditimbulkannya ada kaitannya dengan diri anak, seperti mengalami gangguan jiwa, berperilaku tidak wajar, seperti makan dan bisa makan dalam porsi yang tidak wajar, dan pada harta bendanya, misalnya ada barang yang cepat rusak atau hancur.

Baca Juga :  Spiritualisme dan Nasihat Hidup Masyarakat Jawa

Dalam proses awalnya, pelaksanaan tradisi Rokat Pandhaba meliputi dua tahap utama. Tahap pertama adalah “mamaca” dan tahap kedua adalah penyiraman pada anak pandabha. Dengan kata lain, perjalanan tersebut melibatkan menyiram anak pandabha yang dilanjutkan dengan pembacaan doa dan ayat dari kitab khusus atau kitab rokat. Berbeda dengan saat ini, sistem Rokat Pandhaba telah mengalami pergeseran. Tidak ada lagi ritual “mamaca” seperti dulu. Sebaliknya, ritualnya lebih fokus pada pembacaan surat-surat Al-Quran. Usai pembacaan surah Al-Quran, tradisi dilanjutkan dengan prosesi menyiram anak pandhaba dengan air. Dalam hal ini, pergeseran ritual menunjukkan bagaimana masyarakat Madura beradaptasi dengan perkembangan zaman modern dan cara berpikir yang lebih efektif. Meskipun terdapat perubahan dalam cara pelaksanaannya, namun tradisi Rokat Pandhaba tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya dan spiritualitas masyarakat Madura, dengan harapan dapat memberikan perlindungan, perlindungan dan keberkahan kepada anak-anak pandhaba.

Berita Terkait

Semacam Mokel, Begini Asal Mula Tradisi Telasan Apen H-1 Idul Fitri di Sumenep
Gagasan Bupati Ji Fauzi Jadikan Sumenep Sebagai Kota Keris Diganjar Penghargaan
Eman-eman, Jangan Sampai Terlewatkan, Berikut Jadwal Event Oktober Bulannya Sumenep
Hari Batik Nasional: Memperingati Warisan Budaya Indonesia
5 Alasan Kenapa Sumenep Disebut “Kota Keris”
Mengenal Baju Adat Soe yang Dikenakan Sri Mulyani pada HUT RI Ke-78
Presiden Jokowi Kenakan Busana Ageman Songkok Singkepan Ageng Pada HUT RI Ke-78, Apa Maknanya?
Pesona dan Keunggulan Keris Sumenep

Berita Terkait

Jumat, 14 Juni 2024 - 13:11 WIB

Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Sabtu, 23 Maret 2024 - 11:00 WIB

Semacam Mokel, Begini Asal Mula Tradisi Telasan Apen H-1 Idul Fitri di Sumenep

Selasa, 28 November 2023 - 14:04 WIB

Gagasan Bupati Ji Fauzi Jadikan Sumenep Sebagai Kota Keris Diganjar Penghargaan

Sabtu, 7 Oktober 2023 - 23:02 WIB

Eman-eman, Jangan Sampai Terlewatkan, Berikut Jadwal Event Oktober Bulannya Sumenep

Senin, 2 Oktober 2023 - 08:00 WIB

Hari Batik Nasional: Memperingati Warisan Budaya Indonesia

Selasa, 29 Agustus 2023 - 10:00 WIB

5 Alasan Kenapa Sumenep Disebut “Kota Keris”

Kamis, 17 Agustus 2023 - 15:50 WIB

Mengenal Baju Adat Soe yang Dikenakan Sri Mulyani pada HUT RI Ke-78

Kamis, 17 Agustus 2023 - 15:00 WIB

Presiden Jokowi Kenakan Busana Ageman Songkok Singkepan Ageng Pada HUT RI Ke-78, Apa Maknanya?

Berita Terbaru