SUMENEP, NOLESA.COM – Langkah Riyatun tampak lebih ringan saat kembali memasuki Poli Mata RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Perempuan berusia 59 tahun asal Desa Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang, itu datang bukan lagi dengan rasa cemas seperti kunjungan pertamanya, melainkan untuk memastikan proses pemulihan matanya berjalan dengan baik.
Hari itu merupakan kunjungan ketiganya setelah menjalani operasi pterigium, yakni pertumbuhan jaringan pada permukaan mata yang dapat mengganggu penglihatan. Sebelumnya, keluhan tersebut membuat aktivitas sehari-harinya terasa kurang nyaman.
Awalnya, Riyatun hanya berniat memeriksakan kondisi matanya. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa jaringan yang tumbuh perlu diangkat melalui tindakan operasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang tidak ia duga, tindakan medis itu dilakukan pada hari yang sama.
“Saya kaget karena langsung dioperasi saat itu juga. Awalnya saya pikir masih dioperasi beberapa hari lagi,” tutur Riyatun sambil menunggu antrean kontrol.
Baginya, keputusan dokter untuk segera melakukan tindakan menjadi kabar yang melegakan. Ia tidak perlu menunggu lama dengan gangguan yang selama ini mengurangi kenyamanan penglihatannya.
Selama menjalani pemeriksaan hingga operasi, Riyatun mengaku mendapatkan pelayanan yang membuatnya merasa tenang. Menurutnya, dokter maupun tenaga kesehatan memberikan penjelasan dengan baik serta melayani pasien secara ramah.
Kini, ia rutin menjalani kontrol untuk memantau perkembangan kondisi matanya. Harapannya sederhana, proses penyembuhan berjalan lancar sehingga ia bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa terganggu masalah penglihatan.
Poli Mata RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep sendiri melayani berbagai penanganan gangguan mata, mulai dari kelainan refraksi, katarak, glaukoma, gangguan retina, hingga pterigium. Selain layanan pemeriksaan, poli tersebut juga melayani berbagai tindakan operasi sesuai indikasi medis.
Pelayanan di Poli Mata didukung tiga dokter spesialis mata, tiga perawat, serta fasilitas pemeriksaan yang menunjang proses diagnosis dan penanganan pasien.
Bagi Riyatun, pengalaman itu menjadi titik balik. Ia datang dengan keluhan yang mengganggu penglihatannya, lalu pulang dengan harapan baru setelah mendapatkan penanganan medis. Kini, setiap kali kembali ke rumah sakit untuk kontrol, rasa cemas yang dulu menyertainya telah berganti dengan keyakinan bahwa kondisi matanya akan segera pulih sepenuhnya.
Penulis : Wail Arrifki









