Novita Hardini Bongkar Ancaman Struktural Industri Film

Redaksi Nolesa

Selasa, 3 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novita Hardini Bongkar Ancaman Struktural Industri Film (Foto: Ist)

Novita Hardini Bongkar Ancaman Struktural Industri Film (Foto: Ist)

JAKARTA, NOLESA.COM – Anggota DPR RI Komisi VII Novita Hardini menegaskan bahwa industri film nasional saat ini berada di persimpangan jalan antara momentum kebangkitan dan ancaman struktural yang belum ditangani secara serius oleh negara.

Pernyataan tegas Novita Hardini tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional bersama pejabat eselon I Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Senin kemarin, 2 Februari 2026.

Novita menilai film Indonesia telah membuktikan diri sebagai instrumen strategis dalam mempromosikan pariwisata, identitas daerah, serta diplomasi budaya. Sejumlah film populer seperti Laskar Pelangi, Ada Apa dengan Cinta, 5 cm, hingga Petualangan Sherina disebutnya mampu mengangkat citra daerah sekaligus mendorong perputaran ekonomi kreatif.

“Film bukan sekadar hiburan, tetapi medium strategis yang efektif memperkenalkan wajah Indonesia ke dunia,” ujar Novita yang juga dikenal sebagai pemeran Fatimah dalam film Buya Hamka.

Namun, di balik capaian tersebut, legislator perempuan satu-satunya dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII itu mengingatkan adanya kebocoran ekonomi serius yang hingga kini belum diatasi negara. Persoalan klasik seperti distribusi yang timpang, keterbatasan jumlah layar, serta lemahnya akses permodalan masih menjadi hambatan utama industri film nasional.

Kondisi tersebut, lanjut legislator cantik itu diperparah oleh masuknya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berpotensi mengancam keberlangsungan kerja para pelaku kreatif.

“AI jangan dipoles sebagai inovasi jika faktanya justru menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Pidato Anies Baswedan dalam Deklarasi Capres Partai NasDem

Selain persoalan produksi dan distribusi, Novita juga menyoroti buruknya sistem pengarsipan film nasional. Ia menilai negara gagal menjaga memori kolektif bangsa. Dari sekitar 4.400 film yang diproduksi sejak 1926 hingga 2025, sekitar 1.500 film dilaporkan hilang akibat belum direstorasi dan diarsipkan secara layak.

“Generasi muda hari ini banyak yang bahkan tidak mengenal tokoh perfilman kita sendiri, seperti Adi Bing Slamet atau Benyamin. Ini bentuk kegagalan negara dalam menjaga warisan budaya,” ujarnya.

Politisi PDI Perjuangan tersebut juga mengkritik tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor intellectual property (IP), sementara IP lokal justru tidak mendapat perlindungan dan dukungan yang memadai. Ia menegaskan tanpa keberpihakan anggaran dan skema pembiayaan yang serius, Indonesia akan sulit bersaing di pasar global.

Baca Juga :  BPS Pastikan Data Nasional Akurat dan Sesuai Standar Internasional

Sebagai perbandingan, Novita mencontohkan Korea Selatan yang memiliki venture capital khusus industri film. Sementara di Indonesia, pembiayaan masih mengandalkan skema bantuan negara yang dinilainya tidak realistis.

“Bantuan maksimal Rp500 juta tidak akan menggerakkan industri film. Itu bahkan hanya cukup untuk tahap penulisan skenario. Kita butuh venture capital khusus film, bukan kebijakan setengah hati,” tandasnya.

Menutup pernyataannya, Novita menegaskan Panja industri film ke depan harus menjadi instrumen serius untuk membenahi ekosistem perfilman nasional, mulai dari perlindungan hak cipta, penguatan pembiayaan, hingga memastikan kehadiran negara secara utuh.

“Tanpa keberpihakan nyata, kejayaan film Indonesia hanya akan menjadi nostalgia, bukan masa depan,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Cara Menko PM Kampanyekan Hidup Sehat di Bulan Ramadan
Rp878 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera
Saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah, Presiden Prabowo Minta Waspada
Keterangan Seskab Teddy Terkait Pertemuan Presiden Prabowo dengan Maruar Sirait
Legislator PKB Ingatkan Pentingnya Kesiapan Infrastruktur Jelang Mudik 2026
Novita Hardini: Ekonomi Kreatif Tak Boleh Tinggalkan Pekerjanya
Seskab Teddy dan Wagub Emil Bahas Percepatan Infrastruktur dan Program Prioritas Presiden di Jatim
Novita Hardini Ingatkan Krisis SDM dan Peran Penyiaran Publik

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 20:00 WIB

Cara Menko PM Kampanyekan Hidup Sehat di Bulan Ramadan

Minggu, 8 Maret 2026 - 15:04 WIB

Rp878 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera

Selasa, 3 Februari 2026 - 21:08 WIB

Novita Hardini Bongkar Ancaman Struktural Industri Film

Selasa, 3 Februari 2026 - 07:57 WIB

Saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah, Presiden Prabowo Minta Waspada

Jumat, 30 Januari 2026 - 22:52 WIB

Keterangan Seskab Teddy Terkait Pertemuan Presiden Prabowo dengan Maruar Sirait

Berita Terbaru

Ramadan 1447 H, JMSI Sumenep Santuni Anak Yatim dan Janda (Foto: Ist)

Daerah

Ramadan 1447 H, JMSI Sumenep Santuni Anak Yatim dan Janda

Senin, 9 Mar 2026 - 19:42 WIB

Cara Menko PM Kampanyekan Hidup Sehat di Bulan Ramadan (Foto: Ist)

Nasional

Cara Menko PM Kampanyekan Hidup Sehat di Bulan Ramadan

Minggu, 8 Mar 2026 - 20:00 WIB

Rp878 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera (Foto: Ist)

Nasional

Rp878 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera

Minggu, 8 Mar 2026 - 15:04 WIB