Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Redaksi Nolesa

Kamis, 15 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh AHMAD FARISI*


Hasil quick count (hitung cepat) sementara memperlihatkan perolehan suara Ganjar memperihatinkan.

Padahal, suara partai pengusung utamanya, PDI Perjuangan, memimpin perolehan suara terbesar dibanding partai-partai lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut quick count sementara berbagai lembaga survei, rata-rata perolehan suara Ganjar stagnan di angka 16 persen. Lebih rendah ketimbang suara PDI-P yang mendapatkan lebih dari 17 persen suara.

Itu artinya, tidak semua pemilih PDI Perjuangan memilih Ganjar. Sebab, di balik angka 16 persen suara yang diperoleh Ganjar-Mahfud, di situ masih terakumulasi suara PPP, Perindo, dan Partai Hanura sebagai partai-partai pendukungnya.

Secara sederhana, anjloknya suara Ganjar ini sekonyong-konyong bisa dilihat dari dua faktor utama. Yakni, ’faktor Mahfud’ dan keputusan Ganjar yang mengambil jalan oposisi terhadap Jokowi.

Faktor Mahfud

Di saat PDI Perjuangan memilih Mahfud MD sebagai cawapres Ganjar, perhitungan saya, PDIP telah melakukan kesalahan cukup berat secara elektoral.

Mengapa? Karena jika hitung-hitungan PDI P memilih Mahfud sebagai cawapres Ganjar adalah untuk memberi insentif elektoral bagi Ganjar, keputusan itu sama sekali tidak tepat.

Baca Juga :  Penting! Seperti ini Pesan Ketua PC NU Sumenep Ketika Menghadiri Haflatul Imtihan Taufiqurrahman

Secara kapasitas dan keilmuan, Mahfud MD memang tidak diragukan. Ia merupakan sosok intelektual dan pakar hukum yang berpengalaman luas dijagat perpolitikan Indonesia. Bisa dikatakan, ia adalah sosok yang sempurna pada konteks ini.

Namun, satu hal yang luput dari perhatian kita semua. Bahwa secara elektoral, Mahfud MD sangatlah lemah. Ia tidak memiliki pengaruh yang cukup kuat di kelompok manapun. Bahkan dikalangan pemilih NU-Madura sebagai basis utamanya.

Karena itu, tak heran bila hari ini, hasil quick count memperlihatkan, Mahfud MD kalah di kampung halamannya sendiri, Madura. Sebab, secara rasional, ia tak cukup dikenal oleh masyarakat akar rumput.

Jadi, bisa dikatakan, sejauh ini, Mahfud MD hanya tenar dikalangan masyarakat menengah ke atas. Itu pun di kalangan tertentu, seperti masyarakat kampus dan sejalur dengan dunianya.

Sebab itu, menjadi wajar bila hasil quick count memperlihatkan kehadiran Mahfud MD tidak memberi insentif elektoral yang cukup berarti bagi Ganjar.

Baca Juga :  Melihat Segumpal Realitas Kehidupan Masyarakat dalam Sastra

Salah Menempuh Jalan

Indikator utama lainnya yang juga tidak bisa dipisahkan dari anjoknya suara Ganjar adalah posisi politik Ganjar yang menempuh jalan oposisi terhadap Jokowi.

Padahal, secara elektoral Jokowi memiliki pengaruh yang kuat di kalangan pemilih PDI Perjuangan yang juga pemilih Ganjar sendiri.

Karena itu, bisa dikatakan, posisi Ganjar-Mahfud yang memilih menyerang posisi politik Jokowi pasca terjadinya pecah kongsi antara Jokowi dan PDIP, adalah keputusan yang tidak tepat.

Keputusan itu mungkin tepat untuk menggambarkan posisi moral-etis Ganjar, tapi salah secara elektoral. Sebab, disadari atau tidak, elektabilitas Ganjar yang sempat memuncak pada 2022, itu sama sekali tak bisa dipisahkan dari faktor Jokowi.

Karena itu, sebagai capres yang memiliki basis pemilih yang sama dengan Jokowi, tak seharusnya Ganjar menempuh jalan oposisi terhadap Jokowi. Sebab, dengan menempuh jalan oposisi, itu sama saja Ganjar menggembosi suaranya sendiri.

Fenomena itu bisa kita lihat di akhir 2023 lalu pasca Gibran dipinang oleh Prabowo. Pada saat itu, Ganjar terlihat bingung dan tidak memiliki posisi yang jelas. Antara tetap mengusung tema keberlanjutan atau tidak.

Baca Juga :  Luhut dan Kejahatan terhadap Konstitusi: Harap-harap Cemas Perpanjangan Masa Jabatan Presiden

Di satu sisi, pasca dicalonkannya Gibran sebagai wapres, posisinya sudah jelas tidak mendapat dukungan dari Jokowi. Di sisi lain, jalan oposisi telah diborong oleh pasangan Anies-Muhaimin.

Ganjar bingung dan dilematis. Hingga akhirnya ia benar-benar menempuh jalan oposisi terhadap Jokowi. Dan itulah keputusan Ganjar yang diambil untuk memukul dirinya sendiri secara elektoral.

Mungkin, hasil yang berbeda bisa kita lihat hari ini, andaikan Ganjar pada saat itu mengambil jalan moderat dalam menyikapi dinamika politik Jokowi dan PDIP. Yakni, kalem menyikapi preferensi politik Jokowi. Sehingga, meski tak secara langsung didukung Jokowi, paling tidak dirinya tak kehilangan suara sepenuhnya dikalangan pemilih Jokowi.

Hasil yang berbeda mungkin juga bisa kita lihat hari ini, andai saat disodorkan nama Mahfud sebagai cawapres, Ganjar mampu berpikir logis dan realistis. Tidak semata-mata mengiyakan.


*) Pengamat politik

Berita Terkait

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia
Sudah Waktunya Madura Naik Level
Berebut Tiket Cawabup Fauzi
Sedekah Sebagai Bukti Iman
Indonesia Negara Bersama
Mahluk Tuhan Paling Dahsyat
Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 
Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif

Berita Terkait

Jumat, 17 Mei 2024 - 10:07 WIB

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia

Rabu, 15 Mei 2024 - 14:19 WIB

Sudah Waktunya Madura Naik Level

Selasa, 14 Mei 2024 - 18:41 WIB

Berebut Tiket Cawabup Fauzi

Jumat, 10 Mei 2024 - 08:17 WIB

Sedekah Sebagai Bukti Iman

Senin, 25 Maret 2024 - 04:23 WIB

Indonesia Negara Bersama

Rabu, 20 Maret 2024 - 07:02 WIB

Mahluk Tuhan Paling Dahsyat

Kamis, 22 Februari 2024 - 13:01 WIB

Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 

Kamis, 15 Februari 2024 - 16:26 WIB

Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB