Menelusuri Semangat Intelektual dan Warisan Pemikiran Ranggawarsita

Redaksi Nolesa

Selasa, 29 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Aditiya Widodo Putra

ESAI, NOLESA.COM – Saya masih ingat pertama kali menginjakkan kaki di halaman Museum Negeri Provinsi Jawa Tengah Ranggawarsita, Semarang. Bangunannya kokoh bergaya arsitektur joglo post-modernisme. Hal yang pertama kali membuat saya bertanya-tanya yaitu, Mengapa Ranggawarsita dipilih sebagai nama untuk museum sebesar ini? Siapa sih sebenarnya Ronggowarsito itu?

Pertanyaan itu langsung terjawab begitu saya melangkah masuk. Karena di dalam museum, tepat di ruang pertama, ada panel besar yang menjelaskan siapa Ranggawarsita beserta dengan karya dan perjalanan hidupnya. Saya membaca satu per satu penjelasan. Ternyata, Ranggawarsita adalah pujangga keraton Surakarta pada abad ke-19. Tapi bukan pujangga biasa – beliau juga seorang filsuf, peramal, dan guru spiritual. Di dalam etalase kaca, saya juga melihat salinan naskah Serat Kalatidha dan Serat Pustaka Raja yang ditulis dengan aksara Jawa di atas kertas daluwang (kertas tradisional).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari situlah saya mulai benar-benar tertarik lalu mulai menggali dan mencari lebih dalam lagi tentang Ranggawarsita. Pencarian itu membawa saya menyelami kisah lengkap perjalanan hidup Ranggawarsita. Dan saya akan menceritakan sedikit tentang siapa sebenarnya Ranggawarsita itu dalam artikel ini. Tanpa berlama-lama lagi langsung kita masuk ke dalam inti pembahasan-nya.

Siapa Sebenarnya Ranggawarsita?

Ranggawarsita lahir pada tahun 1802 di Desa Pajang, sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tembok barat daya Keraton Surakarta (Solo), di tanah yang saat itu masih sangat kental dengan suasana kejawen dan hiruk-pikuk kehidupan istana.

Nama kecilnya adalah Raden Mas Bagus Burham. Nama resmi beliau adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita — gelar “Raden” menandakan darah biru keturunan bangsawan, sementara “Ngabehi” adalah pangkat rendah dalam birokrasi keraton yang menunjukkan bahwa keluarganya bukanlah keluarga istana inti, melainkan golongan priyayi atau pegawai keraton yang terhormat namun sederhana.

Baca Juga :  Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Ayahnya, Mas Pajangswara, adalah seorang pujangga keraton yang bertugas menulis sejarah, menyusun silsilah raja-raja, dan menggubah tembang-tembang pujian untuk keperluan upacara kerajaan – sebuah jabatan yang sangat dihormati karena pada masa itu, kemampuan menulis dan mengolah kata dianggap sebagai ilmu tinggi yang hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Dari ayahnya itulah Ranggawarsita kecil mewarisi bakat sastra dan kecintaan pada aksara, karena sejak masih kanak-kanak ia sudah diperkenalkan pada naskah-naskah lontar, kitab-kitab kuno berbahasa Jawa Kuno dan Kawi, serta diajari membaca dan menulis huruf Jawa dengan tekun di bawah bimbingan sang ayah di pendopo kecil belakang rumah mereka.

Selain itu, lingkungan keraton yang penuh dengan para abdi dalem, seniman, dan cendekiawan juga turut membentuk cara berpikirnya, karena beliau sering mendengar diskusi-diskusi tentang filsafat, politik, dan moral di antara para pejabat istana, sehingga sejak usia dini beliau sudah akrab dengan berbagai perspektif dan pandangan hidup.

Namun demikian, kehidupan mereka jelas tidaklah mewah. Sebagai priyayi rendahan, keluarga Ranggawarsita hidup sederhana, bahkan terkadang harus berhemat, tetapi ayahnya selalu memastikan bahwa pendidikan sang putra tidak pernah terabaikan, karena ia yakin bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya warisan yang tidak akan pernah habis dimakan waktu.

Ranggawarsita muda juga diketahui gemar mengembara. Ia pergi ke pesantren Tegalsari di Jawa Timur, berguru kepada Kyai Kasan Besari. Di sana beliau belajar agama Islam secara mendalam, juga tasawuf (ilmu kebatinan), dan perhitungan hari (primbon).

Baca Juga :  Kritik Sastra Objektif Lapisan Cerita dalam Cerpen Senyum Karyamin Karya Ahmad Tohari

Setelah ayahnya wafat, Ranggawarsita diangkat menjadi pujangga keraton pada usia sekitar 30 tahun. Tugasnya mulia yaitu menulis sejarah raja-raja, menggubah tembang (puisi Jawa), dan memberi nasihat moral kepada sultan. Tapi tugas itu juga berat, karena pada zamannya, Keraton Solo sudah berada di bawah bayang-bayang Belanda.

Zaman yang Sulit – Dan Ramalan yang Lahir

Saya sangat terkesan saat membaca ulasan tentang Serat Kalatidha, karya Ranggawarsita yang paling terkenal. Dalam tembang itu, beliau melukiskan jaman edan – zaman gila – di mana orang baik justru disusahkan, orang jahat dihormati, dan alam sendiri tampak murka. Beliau berargumen bahwa hal itu diakibatkan dari ketidakadilan dan lupa diri, juga karena manusia telah meninggalkan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh leluhur. Yang membuat saya terpukau adalah betapa tepatnya gambaran itu untuk banyak periode dalam sejarah Indonesia, bahkan hingga masa modern ini.

Selain itu, Ranggawarsita juga menulis ramalan tentang Ratu Adil yang akan datang di masa depan, memulihkan keadilan dan membawa rakyat keluar dari penderitaan. Ramalan ini menjadi sebuah pesan politik halus yang mengkritik penguasa yang lalim dan memberi harapan bagi rakyat kecil yang kehilangan arah. Banyak orang kemudian menafsirkan itu sebagai kedatangan pahlawan pembebas dari penjajahan, dan bahkan beberapa pemimpin perjuangan di abad 20 mengutip ramalannya untuk membakar semangat rakyat dalam melawan Belanda.

Selain Serat Kalatidha, Ranggawarsita juga menggubah Serat Sabdajati dan Serat Wirid Hidayat Jati, sebuah teks mistik-spiritual yang berisi ajaran tasawuf Jawa (kebatinan), tentang pencarian hakikat hidup, dan dialog antara guru dan murid tentang makna Tuhan dan diri. Karya besarnya yang lain adalah Serat Pustaka Raja, sebuah buku sangat tebal yang berisi sejarah Jawa mulai dari masa mitologi, kerajaan Hindu-Buddha, hingga masa kolonial Belanda, yang ditulisnya dengan ketelitian luar biasa selama bertahun-tahun. Semua tulisannya bercampur antara fakta sejarah, alegori puitis, dan firasat spiritual, sehingga setiap pembaca bisa menangkap makna berbeda sesuai dengan tingkat pemahaman mereka masing-masing.

Baca Juga :  Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen "Tinggal Matanya Berkedip-kedip" Karya Ahmad Tohari

Kehidupan Pribadi yang Sederhana

Ranggawarsita bukanlah orang kaya. Beliau hidup sederhana di sebuah rumah kecil di sisi timur keraton dan lebih suka berdialog dengan rakyat jelata daripada bersantap dengan bangsawan. Karena itu, banyak rakyat mencintainya, tapi sebagian pejabat keraton curiga padanya – mereka takut ramalan-ramalannya bisa memicu pemberontakan.

Ranggawarsita menikah beberapa kali dan memiliki banyak anak, tetapi tidak semua keluarganya hidup tenang. Salah satu putranya bahkan diasingkan oleh Belanda karena dianggap ikut gerakan perlawanan. Ronggowarsito sendiri tetap bertahan di istana sampai akhir hayatnya, menulis hingga tangan gemetar karena usia. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873, di usia 71 tahun. Konon, pada hari kematiannya, banyak rakyat datang melayat, menangis bagai kehilangan kakek mereka sendiri.

Begitulah secara singkat tentang Ranggawarsita. Beliau bagaikan cermin yang menunjukkan bahwa orang Jawa punya pemikir sehebat Aristoteles atau Ibnu Sina – hanya saja bahasanya tembang, bukan risalah Yunani.

Akhir kalimat, Belajarlah dari sejarah, hiduplah sederhana, dan jangan pernah berhenti menulis – karena tulisan lebih panjang dari usia.

Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih.

*) Seorang penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang—kota yang mengajarkan saya bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada.

Berita Terkait

Bajjra 3: Refleksi atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian II)
Empat Hari di Mulyodadi
Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)
Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E
Jantung Batik Solo
Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan
Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan
Taruhan Masa Depan: Remaja Terikat Judi Online

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 10:37 WIB

Menelusuri Semangat Intelektual dan Warisan Pemikiran Ranggawarsita

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:28 WIB

Bajjra 3: Refleksi atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian II)

Senin, 15 Juni 2026 - 15:15 WIB

Empat Hari di Mulyodadi

Senin, 8 Juni 2026 - 11:45 WIB

Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:26 WIB

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Berita Terbaru

Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim menerima piagam penghargaan Syariah Award Jawa Timur dari Wagub Emil (Foto: Istimewa)

Daerah

Tiga Piala untuk Sumenep

Senin, 28 Sep 2026 - 19:01 WIB