Emosi dan Kehilangan: Interpretasi dalam Seribu Wajah Ayah

Redaksi Nolesa

Rabu, 15 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Desi Nur Khayati (Foto: dokumen pribadi)

Desi Nur Khayati (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Desi Nur Khayati

(Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Dinamika kehidupan manusia selalu menyuguhkan hal-hal yang tidak diperkirakan, manusia sering kali ditemukan dengan kisah-kisah yang menyentuh hati, yang tidak hanya menggambarkan pengalaman individu, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang hakikat kemanusiaan. Salah satu karya sastra yang mampu merangkum esensi ini adalah novel Seribu Wajah Ayah karya Azhar Nurun Ala. Dalam novel ini, kita diajak untuk memahami kehidupan, kehilangan, dan pentingnya keluarga melalui perjalanan emosional tokoh utamanya, kamu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nurun Ala menggunakan sudut pandang orang kedua dengan sebutan “kamu”. Penggunaan sudut pandang orang kedua atau narator yang mengidentifikasi dirinya dengan tokoh Ayah, memberikan dimensi yang mendalam terhadap pengalaman dan pemikiran Ayah. Melalui pendekatan ini, pembaca tidak hanya disajikan dengan cerita yang diceritakan tentang Ayah, tetapi mereka juga diajak untuk merasakan secara langsung perjalanan emosional yang dalam serta memperkuat hubungan emosional antara pembaca dan cerita yang disampaikan.

Seribu Wajah Ayah adalah novel yang menjelaskan tentang seorang ayah yang membesarkan anaknya seorang diri. Cerita ini diterbitkan oleh Nurun Ala dan menceritakan tentang seorang anak yang kembali mengenang kisah hidupnya bersama sang ayah tercinta. Melalui sepuluh foto dalam sebuah album kenangan, sang anak seakan kembali ke pusaran waktu saat Ia baru dilahirkan hingga akhirnya tumbuh dewasa. Kepingan-kepingan kenangan kembali bermunculan setiap kali melihat foto-foto di album kenangan satu per satu.

Hal pertama yang terbelesit oleh seseorang saat membaca judul novel ini tentu tentang sosok ayah. Namun, ada pokok bahasan lain yang juga memiliki pesan moral untuk pembaca yaitu perihal kehilangan. Dalam novel ini, sosok “kamu” diceritakan lahir sudah dalam keadaan piatu, ibu meninggal ketika baru melahirkannya. Kejadian tersebut tentu merubah kehidupan sosok Ayah. Hari yang bahagia itu ternyata juga menjadi hari yang paling menyakitkan.

Elizabeth Kubler-Ross dalam (Qayumah, 2019) menjelaskan bahwa berkabung memiliki lima tahap yaitu penyangkalan, kemarahan, negosiasi, depresi, dan penerimaan.

“Tambahkan umurnya, ya Allah! Aku ingin melihat senyumnya ketika melihat anak kami tumbuh dan dewasa menjadi anak yang saleh. Tambahkan umurnya, ya Allah! Aku ingin melihatnya tersenyum bahagia karena orang yang telah bertahun-tahun dirindukannya kini telah hadir dan menanti hangat pangkuannya. Bukankah Engkau Maha Berkehendak dan Maha Mengabulkan Doa?” (Seribu Wajah Ayah, hal.13).

Baca Juga :  Prosa Eka: Cinta yang Ambivalen dan Krisis Lingkungan

Kutipan tersebut memberikan gambaran pada tahap kemarahan dalam proses berkabung, di mana Ayah yang berduka memohon kepada Tuhan untuk menambah umur ibu yang telah meninggal, agar dapat menyaksikan anak-anaknya tumbuh dan berkembang serta dapat bertemu kembali dengan orang yang dirindukannya. Hal ini menunjukkan adanya perasaan marah dan keinginan untuk mengubah kenyataan yang tidak dapat diubah.

Kepergian ibu mengharuskan ayah menjadi seorang yang harus serba bisa. Ia harus bisa menjadi sosok ibu dengan segala pekerjaan rumah tangga dan mengurus seorang bayi. Meskipun peran ganda ini dapat dilihat sebagai bentuk kemandirian dan tanggung jawab yang tinggi, tidak jarang hal tersebut menimbulkan tantangan dan kritik sosial. Masyarakat terkadang memandang sosok Ayah dengan sebelah mata, menganggapnya tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku. Namun, ayah tak mempedulikan hal itu, tanpa rasa canggung Ia rutin membawa anaknya ke posyandu meskipun hanya ada para ibu-ibu disana.

Menjadi sosok ayah yang harus berperan tentunya tidak mudah. Namun, hal tersebut tidak memengaruhi ayah untuk mencari istri baru. Keputusan ini mencerminkan tanggung jawab dan kesetiaan yang luar biasa. Ia memahami bahwa anaknya membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang utuh setelah kehilangan sosok ibu. Meskipun harus berperan ganda sebagai ayah sekaligus ibu, Ia rela mengorbankan kesempatan untuk membangun hubungan baru demi memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Tindakan ini menunjukkan kekuatan karakter yang luar biasa, di mana Ia mampu mengatasi kesedihan dan kesepian, serta tetap tegar dalam menjalankan peran yang berat. Lebih dari itu, Ia tetap mampu memberikan kasih sayang yang tulus dan melimpah kepada anak-anaknya, membuktikan bahwa anak adalah prioritas utama dalam hidupnya.

Dalam novel ini terdapat banyak kutipan-kutipan dan nilai keagamaan terutama agama Islam.

Baca Juga :  Erotisme Penyadaran

“Ayahmu diam-diam mengagumi keanggunan dan kelembutan sikap ibumu. Dan ibumu tak pernah ragu mengakui dalam hatinya bahwa ayahmu adalah lelaki idamannya. Maka Allah mempersatukan keduanya, hingga mereka bukan hanya hidup bersama, tetapi melebur. Manunggal.” (Seribu Wajah Ayah, hal.8)

Hal ini menggambarkan bahwa pernikahan merupakan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah, di mana kedua orang tua saling menghormati dan Allah telah mempersatukan mereka untuk hidup bersama dalam kesatuan sikap dan perilaku.

Penggunaan istilah-istilah Islam yang kompleks dan cukup banyak dalam novel ini dapat menjadi konsekuensi yang penting. Pertama, hal ini dapat memperkuat pengalaman baca bagi pembaca yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama Islam, meningkatkan kedalaman cerita, dan menghasilkan rasa kepuasan spiritual yang mendalam. Namun, di sisi lain, penggunaan istilah-istilah yang kompleks ini juga dapat menyebabkan kesulitan bagi pembaca yang kurang akrab dengan terminologi agama Islam.

Salah satu akibat yang mungkin timbul adalah adanya kesenjangan pemahaman antara pembaca yang akrab dengan istilah-istilah Islam dan mereka yang kurang familiar. Bagi pembaca yang kurang paham tentang agama Islam, penggunaan istilah-istilah tersebut dapat mengganggu alur cerita dan mengurangi keterlibatan emosional mereka dalam narasi. Mereka mungkin merasa terputus dari pengalaman membaca karena kesulitan memahami makna dan signifikansi istilah-istilah tersebut.

Selain itu, penggunaan istilah-istilah Islam yang kompleks juga dapat menciptakan potensi untuk salah interpretasi atau pemahaman yang salah. Pembaca yang tidak memahami secara mendalam tentang agama Islam mungkin dapat menafsirkan secara keliru atau menyimpulkan hal-hal yang tidak sesuai dengan niat penulis. Ini bisa mengaburkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dan mengurangi efektivitas novel sebagai alat untuk menyampaikan nilai-nilai atau pesan-pesan moral.

Sayangnya, dalam novel Seribu Wajah Ayah adalah beberapa konsep cerita yang disajikan dengan ringkasan yang ambigu. Dalam beberapa alur cerita, pembaca merasa kebingungan setelah membacanya. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya penjelasan yang rinci mengenai kejadian yang melibatkan sosok ibu dan ayah. Penjelasan yang rinci tentang sosok ibu ayah dapat membantu pembaca memahami dengan lebih baik dinamika cerita. Selain itu, pengembangan karakter yang lebih mendalam untuk tokoh-tokoh pendukung seperti paman dan bibi akan memberikan dimensi yang lebih kaya pada cerita, sehingga mengurangi kebingungan pembaca. Dengan demikian, penyusunan ulang beberapa bagian cerita dengan penekanan pada penjelasan yang lebih terperinci dan pengembangan karakter yang lebih baik mungkin diperlukan.

Baca Juga :  Pengalaman Ilmiah vs Pengalaman Spiritual

Seperti karya sastra pada umunya dalam novel ini juga memiliki nilai moral. Jika nilai-nilai agama Islam yang terlalu kompleks dan kurang bisa dimengerti oleh beberapa kalangan, nilai moral ini bisa menjadi alternatif dalam mendapatkan amanat dalam novel ini. “Kamu pun merasa sudah cukup dewasa, mulai berani mengambil keputusan-keputusan sendiri, menentukan arah hidupmu sendiri.” (Seribu Wajah Ayah, hal.79)

Dalam kutipan tersebut mengajarkan tentang keberanian dalam mengambil Keputusan dalam hidup. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, karena dibutuhkan keyakinan dan keberanian untuk bertindak dengan tepat. Karya sastra, khususnya novel, memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai moral kepada pembaca. Melalui cerita dan pengalaman karakter yang dikembangkan seperti pada kutipan tersebut, novel dapat menjadi media efektif untuk menggambarkan berbagai macam moral serta cara menghadapinya. Selain itu, novel ini juga dapat membantu pembaca untuk lebih memahami kompleksitas permasalahan hidup yang sering dihadapi manusia.

Tokoh yang disebut “Kamu” dalam novel Seribu Wajah Ayah ini juga menceritakan tentang pulangnya tokoh Kamu setelah menerima telepon dari pamannya atas kabar kematian Ayahnya. Tokoh Kamu saat itu sedang menempuh pendidikan dan berada jauh dari sang ayah. Sebelum meninggal, ayahnya meminta agar Ia pulang karena rindu dan kesepian, namun hal tersebut tidak pernah diturutinya.

Saat tokoh Kamu pulang kerumah, Ia hanya bisa menangis di kamar Ayah dan menemukan sebuah album foto yang masih terlihat terawat. Dengan rasa penasaran, pelan pelan Ia membuka album itu. Album itu berisi foto kehidupan Anak dan Ayah yang telah tersusun secara rapi dan urut dari waktu ke waktu. Potret demi potret yang Ia lihat, Ia mulai mengingat kejadian yang terdapat pada album tersebut. Rasa sesal pun memenuhi perasaannya.

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Tuhan, Manusia, dan Alam
Bermekaran Bersama Bunga Tulip dengan Puisi Surajiya
Keperibadian Tan Malaka dalam Kacamata Generatif Bourdieu
Pengembangan Diri dengan Upaya Merawat Emosi
Melihat Proses Politik Indonesia Pasca Reformasi 1998
Kisah Klasik Aristoteles tentang Seni Berbicara
Misteri Mitos Madura dalam Cerita Pendek
Khazanah Kebudayaan Masyarakat Jawa

Berita Terkait

Minggu, 19 Mei 2024 - 05:53 WIB

Tuhan, Manusia, dan Alam

Rabu, 15 Mei 2024 - 10:39 WIB

Emosi dan Kehilangan: Interpretasi dalam Seribu Wajah Ayah

Senin, 13 Mei 2024 - 07:30 WIB

Bermekaran Bersama Bunga Tulip dengan Puisi Surajiya

Kamis, 9 November 2023 - 06:22 WIB

Keperibadian Tan Malaka dalam Kacamata Generatif Bourdieu

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 09:25 WIB

Pengembangan Diri dengan Upaya Merawat Emosi

Rabu, 9 Agustus 2023 - 17:50 WIB

Melihat Proses Politik Indonesia Pasca Reformasi 1998

Senin, 8 Mei 2023 - 01:50 WIB

Kisah Klasik Aristoteles tentang Seni Berbicara

Jumat, 5 Mei 2023 - 16:51 WIB

Misteri Mitos Madura dalam Cerita Pendek

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB

Khoirus Safi' (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Kebodohan dan Ingin Diakui Tanpa Mengetahui

Minggu, 19 Mei 2024 - 09:00 WIB