Ciri-ciri Tua yang Sering Tidak Disadari Oleh Kita

Redaksi Nolesa

Jumat, 25 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NK Gapura (jurnalis muda Sumenep)

NK Gapura (jurnalis muda Sumenep)

Oleh NK Gapura*


: Dari Kantor DPRD Sumenep

“Masa muda berakhir ketika egoisme berakhir; kedewasaan dimulai ketika seseorang hidup untuk orang lain,” kata Hermann Hesse, penyair dan novelis Jerman-Swiss.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Niat dari catatan ini adalah sekedar urun rembuk, berbagi pandangan seputar menjadi tua, baik secara usia atau logika.

Dan mungkin saja, dalam catatan ini, tidak ada kaitannya dengan ucapan Hermann Hesse, yang saat berusia 15 tahun pernah mencoba bunuh diri dan pada tahun 1946 memenangkan nobel sastra.

Saya adalah satu dari sekian orang awam yang percaya bahwa menjadi tua itu pasti. Hanya saja, tanda-tanda tua itu jarang sekali kita sadari.

Dalam amatan saya, yang tentu saja subjektif dan amatiran, tanda-tanda tua adalah kita yang selalu punya waktu luang untuk menceritakan masa lalunya.

Baca Juga :  Pilkada 2024: Mengapa PKB dan PDI-P Lebih Baik Beda Jalan?

Tidak hanya itu, bahkan kita sering membangga-banggakannya. Kita menjadi lupa bahwa takdir dan waktu akan terus bergerak, menciptakan kisah buruk dan kisah baiknya bersama-sama. Dan biasanya selalu berbeda di setiap zamannya.

Saat kita selalu punya waktu luang, menceritakan masa lalu dan terus menerus membanggakannya, hanya ada tiga kesimpulan yang (mungkin) tidak kita sadari kehadirannya.

Pertama, kita telah merasa cukup untuk belajar. Masa lalu seakan telah mengajari banyak hal. Dan setiap pelajaran dari masa lalu, yang sebenarnya sangat subjektif itu, ditasbihkan menjadi satu-satunya guru. Tentu saja itu keliru. Hanya saja jarang sekali kita mau menyadari itu.

Baca Juga :  Sufi Perempuan: Gradasi Marginal yang Belum Selesai

Memang, kata orang, pengalaman adalah guru. Tapi bukankah tidak setiap guru layak ditiru(?). Hidup ini sudah terlalu beragam. Kadang ujug-ujug ada yang mengaku guru hanya karena tidak ingin ada yang tahu bahwa sebenarnya hanyalah gelandangan.

Karena kita telah menjadi tua, pengalaman yang ditasbihkan menjadi guru tidak pernah kita kritisi kehadirannya. Tanpa kita sadari, guru itu sering kita ambil manfaatnya semata. Itu kesalahan pertama.

Kedua, menceritakan masa lalu dan seringkali membanggakannya, apa untung yang ingin kita terima? Legitimasi? Apresiasi? Atau pujian berbentuk puisi?

Harus kita sadari, kadang pujian diberikan hanya untuk menyudahi kepongahan. Pujian kadang diberikan oleh mereka yang dewasa, yang tahu bahwa orang tua selalu membutuhkannya.

Baca Juga :  Abu Bakar Ba’asyir, Islam, dan Pancasila

Biasanya, pujian demi pujian akan dilontarkan. Tujuannya sederhana, agar cerita dan kebanggaan yang membuncah itu bisa segera dihentikan. Hanya saja, kita yang telah menjadi tua, sering alpa.

Ketiga, karena telah menjadi tua, kita selalu merasa mampu untuk membuat rekayasa, drama dan lengkap dengan segala intriknya. Setiap pengalaman yang sering kita bangga-banggakan,diguru-kan, diyakini akan menjadi kunci keberhasilan. Padahal tidak.

Kita berhak percaya diri, meyakini bahwa semua rekayasa, drama dan semua intriknya akan sesuai dengan yang kita ingini.

Akan tapi, tanpa disadari, kita tidak ubahnya boneka tua yang punya keterampilan menari, semua akrobatnya berapi-api. Tapi dari kejauhan, kita menjadi bahan tertawaan.

Ganding, 25 April 2025

*jurnalis muda Sumenep

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru