Oleh NK Gapura*
: Dari Kantor DPRD Sumenep
“Masa muda berakhir ketika egoisme berakhir; kedewasaan dimulai ketika seseorang hidup untuk orang lain,” kata Hermann Hesse, penyair dan novelis Jerman-Swiss.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Niat dari catatan ini adalah sekedar urun rembuk, berbagi pandangan seputar menjadi tua, baik secara usia atau logika.
Dan mungkin saja, dalam catatan ini, tidak ada kaitannya dengan ucapan Hermann Hesse, yang saat berusia 15 tahun pernah mencoba bunuh diri dan pada tahun 1946 memenangkan nobel sastra.
Saya adalah satu dari sekian orang awam yang percaya bahwa menjadi tua itu pasti. Hanya saja, tanda-tanda tua itu jarang sekali kita sadari.
Dalam amatan saya, yang tentu saja subjektif dan amatiran, tanda-tanda tua adalah kita yang selalu punya waktu luang untuk menceritakan masa lalunya.
Tidak hanya itu, bahkan kita sering membangga-banggakannya. Kita menjadi lupa bahwa takdir dan waktu akan terus bergerak, menciptakan kisah buruk dan kisah baiknya bersama-sama. Dan biasanya selalu berbeda di setiap zamannya.
Saat kita selalu punya waktu luang, menceritakan masa lalu dan terus menerus membanggakannya, hanya ada tiga kesimpulan yang (mungkin) tidak kita sadari kehadirannya.
Pertama, kita telah merasa cukup untuk belajar. Masa lalu seakan telah mengajari banyak hal. Dan setiap pelajaran dari masa lalu, yang sebenarnya sangat subjektif itu, ditasbihkan menjadi satu-satunya guru. Tentu saja itu keliru. Hanya saja jarang sekali kita mau menyadari itu.
Memang, kata orang, pengalaman adalah guru. Tapi bukankah tidak setiap guru layak ditiru(?). Hidup ini sudah terlalu beragam. Kadang ujug-ujug ada yang mengaku guru hanya karena tidak ingin ada yang tahu bahwa sebenarnya hanyalah gelandangan.
Karena kita telah menjadi tua, pengalaman yang ditasbihkan menjadi guru tidak pernah kita kritisi kehadirannya. Tanpa kita sadari, guru itu sering kita ambil manfaatnya semata. Itu kesalahan pertama.
Kedua, menceritakan masa lalu dan seringkali membanggakannya, apa untung yang ingin kita terima? Legitimasi? Apresiasi? Atau pujian berbentuk puisi?
Harus kita sadari, kadang pujian diberikan hanya untuk menyudahi kepongahan. Pujian kadang diberikan oleh mereka yang dewasa, yang tahu bahwa orang tua selalu membutuhkannya.
Biasanya, pujian demi pujian akan dilontarkan. Tujuannya sederhana, agar cerita dan kebanggaan yang membuncah itu bisa segera dihentikan. Hanya saja, kita yang telah menjadi tua, sering alpa.
Ketiga, karena telah menjadi tua, kita selalu merasa mampu untuk membuat rekayasa, drama dan lengkap dengan segala intriknya. Setiap pengalaman yang sering kita bangga-banggakan,diguru-kan, diyakini akan menjadi kunci keberhasilan. Padahal tidak.
Kita berhak percaya diri, meyakini bahwa semua rekayasa, drama dan semua intriknya akan sesuai dengan yang kita ingini.
Akan tapi, tanpa disadari, kita tidak ubahnya boneka tua yang punya keterampilan menari, semua akrobatnya berapi-api. Tapi dari kejauhan, kita menjadi bahan tertawaan.
Ganding, 25 April 2025
*jurnalis muda Sumenep









