Budaya Ekologis, Konflik, dan Misteri Kebun Cengkih

Suci Ayu Latifah

Minggu, 6 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Judul Buku       : Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga

Penulis              : Erni Aladjai

Penerbit            : KPG

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun Terbit     : Januari 2021

Tebal                : 146 halaman

ISBN               : 978-602-481-527-1

 

Erni Aladjai menunjukkan kode-kode budaya ekologis melalui Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga (KPG, 2021). Tentang bagaimana alam lingkungan bergerak bagi kehidupan manusia. Alam berjaya oleh tanam-tanaman yang ditanam para pencinta tanaman. Keluarga Haniyah penyuka tanaman. Ibu Haniyah, bahkan nenek buyut Ala bergumul bersama pohon-pohon cengkih di hutan.

Budaya ekologis merayap setiap fragmen cerita. Mengambil sebuah latar desa bernama Kon, terdeskripsikan dikelilingi lautan dan pegunungan hijau. Masyarakat bermata pencaharian sebagai petani cengkih. Mereka menanam cengkih dan memanennya. Panen cengkih di desa Kon merupakan momen gembira yang dirasakan masyarakat pedesaan wilayah Timur Indonesia. Orang-orang menggelar pesta rakyat di hutan. Seperti yang dilakukan keluarga Ala setiap tahunnya. Ala, Bibi Ati, Paman Hairun, Paman Hasan Bibi Gede memetik cengkih di pagi hingga sore hari di kebun Haniyah.

Selain pesta memetik cengkih, desa Kon juga mengenal tradisi berbagi cengkih. Orang-orang pedesaan yang tidak memiliki kebun cengkeh memungut cengkih-cengkih yang gugur karena angin atau hujan. Cengkih-cengkih itu kemudian dijual kembali pada pemilik kebun. “Bibi Gia meminta izin untuk mencari cengkih-cengkih yang jatuh kemudian dijual kembali pada Ibu,” (hal. 74).

 

Konflik Petani Cengkih

Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga, novel pemenang DKJ 2019 yang saya baca setelah Aib dan Nasib karya Minanto. Kedua novel yang masing-masing menyabet kejuaraan ini esensinya berkutat pada konflik ekonomi-sosial. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga bercerita kehidupan masyarakat petani cengkih di Desa Kon. Sementara, Aib dan Nasib kehidupan masyarakat rural di Indramayu. Sama-sama mengangkat konflik sosial kedua novel berjarak titik fokusnya. Haniyah berepisentrum petani cengkih, sedangkan Aib dan Nasib gejolak masyarakat rural terkontaminasi digital.

Baca Juga :  Inspirasi Kehidupan dari Dalai Lama dan Nelson Mandela

Berlatar waktu 1992, orang-orang pemerintah menurunkan aturan Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkih (BPPC). Pertama penjualan cengkih hanya diperbolehkan di Koperasi Unit Desa (KUD), lalu ke BPPC. Kedua, harga cengkih ditetapkan oleh pemerintah. Aturan yang dicetuskan orang ibu kota tersebut menyiksa para petani cengkih di desa Kon. Masyarakat dengan ketus menilai ketidakwajaran harga cengkih, yang semula 85 ribu per kilonya menjadi 15 ribu per kilo. Novel dimulai lewat narasi Haniyah istirahat di rumah Teteruga pada tahun 1990. Ia cukup lelah setelah seharian membersihkan gulma di kebun cengkih.

Sambil mendengarkan radio, tokoh janda ini melepas lelah dengan menyeduh minuman hangat dari rebusan cengkih, serai, pandan, kayu secang, jahe, dan gula aren. Stilistika penceritaan novel, Haniyah bertindak meneruskan warisan keluarga. Warisan kebun cengkih ibunya di rawat baik bersama Ala dan saudara. Sejak gadis, ibunya mengajak Haniyah menyukai tanaman—menanam dan memanen cengkih.  Menariknya, di sekitar rumah juga ditanami beberapa jenis tanaman. Salah satunya, pohon gandaria di sisi kiri rumah. Lalu, ada bunga-bunga terompet di sekitaran kolom penyu. Haniyah pula memelihara ternak, seperti ayam dan bebek manila.

Penulis asal Makasar bercerita dengan tenang. Ia membabat habis aktivitas budaya ekologis masyarakat di desa Kon. Penceritaan banyak berkutat di kebun cengkih dan perkampungan. Kehidupan sebagai petani cengkih ditonjolkan lantaran mata pencaharian itulah penyelamat ekonomi mereka. Potretisasi kehidupan yang tak menguntungkan. Ironi cukup nyata. Limpah-melimpah panen cengkih bukan lagi momen yang ditunggu-tunggu masyarakat Desa Kon. Kegembiraan teramat sumir. Sepuluh karung cengkih kering dengan harga segitu tak bisa mengembalikan modal petani membiayai panen seujung kuku pun (hal. 134).

 

Baca Juga :  Menyongsong Peradaban Politik Media Sosial yang Berkeadaban

Menyusuri kehidupan dua tokoh episentrum novel, Haniyah dan Ala tinggal di rumah Teteruga. Rumah yang juga warisan Mariba, nenek Ala dari Arumba, nenek buyut Ala. Rumah Teteruga bia dikatakan rumah tua di desa Kon. Usinya sekitar 109 tahun. Dulunya, atap dari daun sagu, berlantai dua dengan penyangga dinding. Lantai rumah berasal dari kayu besi. Terceritakan, Arumba sering menjadikan Rumah Teteruga sebagai penginapan rombongan kapal Arendt, peneliti burung, syahbandar dan saudagar kuda dari pulau seberang.

 

Misteri Kebun Cengkih

Lewat kalimat-kalimat sederhana, pengkarakterisasi Haniyah dan Ala, diperlihatkan sebagai dua tokoh kuat tanpa laki-laki sebagai kepala keluarga. Ayah Ala, Timur meninggal di belakang rumah. Tepatnya, di kandang ayam saat hujan badai. Sejak peristiwa itu, Haniyah tidak mau beternak ayam, namun Ala menghendaki memelihara dua bebak manila. Ala dipotret anak pecinta binatang. Binatang adalah teman Ala yang baik, dibanding teman-teman sekolah. Ala sedih karena sering mendapat ejekan ‘juling’ tidak teman, juga guru-gurunya. Seratus delapan puluh adalah jumlah dia mendengar olok-olokan Aljul—Ala Juling (hal. 5).

Baca Juga :  Menjadi Perempuan Kuat di Era Birokrat

Dibaca lewat mitologi, masyarakat mengungkap saat Haniyah hamil Ala, ia memukul seekor biawak dengan bambu. Ujung bambu mengenai salah satu mata biawak. Kepercayaan itu menjadi jawaban mengapa Ala terlahir juling dengan bola mata kirinya berwarna api. Masyarakat mempercayai, Ala mendapati keebihan melihat dan interaksi dengan makhluk gaib. Benar, adanya. Ala berteman baik dengan Ido, alias Madika Ido arah gentayangan di kebun cengkih Afo milik Naf Tikore.

Pembacaan pada pertemuan Ala dan Ido, novel serupa cerita misteri. Kehadiran Ido menceritakan kehidupan masa hidupnya, dan mengapa arwahnya bergentayangan di kebun cengkih. Potongan-potongan cerita Ido, kemudian dikumpulkan dan disatukan Ala. Ido menceritakan kehidupan semasa hidupnya, kebun cengkih, dan konflik keluarga. Di akhir cerita, kemudian Ido meminta disatukan dengan tubuhnya bagian kepala. Bagian tubuh tersebut dikubur di Rumah Teteruga oleh Arumba. Selepas bersatunya bagian tubuh, Ido menghilang dan tidak memperlihatkan aroma tubuh cengkihnya lagi.

Sungguh mempesona, Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga kuat akan kode-kode budaya ekologis, sekaligus budaya sosial—alam. Novel tak ubahnya ekspresi sastra menyuarakan lingkungan sebagai wahana hidup manusia. Setebal 146 halaman, novel mengungkap eksistensi manusia dan lingkungan alam, serta lingkungan budaya. Makanya, tidak heran membaca Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga merasa lebih dekat dengan lingkungan. Lewat penyelaman imaji perkebunan cengkih yang dihirup para langkah telanjang, geliat suka masyarakat, namun ironinya perekonomian tak wajar melilit petani cengkih amat sadis, cekam, dan gila.

 

 

Berita Terkait

Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman
Segala Tentang Perempuan Dalam Novel Aib dan Nasib Karya Minanto
Menjadi Guru Masa Depan
Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial
Puisi Muhammad Dzunnurain Madura
Menembus Kedalaman Makna Cinta
Melintasi Bayang Kelam dalam ‘William’ Karya Risa Saraswati
Menelusuri Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita Karya Joko Pinurbo

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 10:01 WIB

Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman

Kamis, 13 Juni 2024 - 21:00 WIB

Menjadi Guru Masa Depan

Kamis, 13 Juni 2024 - 00:07 WIB

Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial

Rabu, 12 Juni 2024 - 23:50 WIB

Puisi Muhammad Dzunnurain Madura

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:30 WIB

Menembus Kedalaman Makna Cinta

Selasa, 11 Juni 2024 - 07:36 WIB

Melintasi Bayang Kelam dalam ‘William’ Karya Risa Saraswati

Minggu, 9 Juni 2024 - 12:00 WIB

Menelusuri Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita Karya Joko Pinurbo

Sabtu, 8 Juni 2024 - 13:33 WIB

Segala Rasa yang Tersimpan dalam Hati yang Tidak Bisa Dikendalikan pada Puisi “Pasuka Hati” Karya Mustofa W Hasyim

Berita Terbaru

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Budaya

Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Jumat, 14 Jun 2024 - 13:11 WIB