Apa yang Dimaksud dengan ”Id, Ego, dan Super-Ego” dalam Teori Kepribadian Freud?

Redaksi Nolesa

Jumat, 2 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teori kepribadian Sigmund Freud tentang tiga kepribadian (tripartit) yang dimiliki manusia begitu mashur di banyak kalangan.

Dalam teori kepribadiannya, Freud mengemukakan bahwa manusia memiliki tiga kepribadian utama. Yakni, Id, Ego, dan Super-Ego.

Dalam teori kepribadian ini, Freud mengemukakan Id sebagai pusat dorongan-dorongan naluriah yang tidak terkontrol dan tak terkendali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Id bersifat primitif, mementingkan kepuasan instan dan mengabaikan konsekuensi moral atau realitas. Ini adalah bagian dari diri yang mendorong hasrat dan keinginan tak terbendung, tanpa memedulikan norma-norma sosial atau etika.

Freud memandang Id sebagai bagian yang ada sejak lahir, mencerminkan naluri dasar dan dorongan yang mendasari tindakan manusia.

Di sisi lain, Ego muncul sebagai mediator yang rasional dan realistis antara Id dan dunia luar.

Ego berfungsi untuk mengatur dan menyelaraskan keinginan-keinginan Id dengan realitas lingkungan sekitar. Ini memegang peran penting dalam menemukan solusi yang memuaskan antara keinginan dan batasan.

Baca Juga :  Bupati Ra Fauzi Gerakkan Relawan Bagikan Makanan kepada Abang Becak

Ego beroperasi berdasarkan prinsip kenyataan dan bertujuan untuk mencapai kepuasan dalam kerangka waktu yang realistis dan sosialmente diterima.

Konflik terjadi ketika Ego berusaha menyeimbangkan tuntutan Id yang tidak terkendali dan realitas lingkungan.

Seringkali, konflik ini memunculkan ansietas atau kecemasan yang perlu diatasi oleh Ego untuk menjaga keseimbangan psikologis.

Dalam hal ini, Ego berfungsi sebagai penengah yang kompleks antara naluri primitif Id dan tuntutan eksternal yang lebih rasional.

Sejalan dengan itu, Super-Ego mewakili dimensi moral dan etika dalam kepribadian manusia.

Super-Ego berkembang melalui norma-norma dan nilai-nilai yang diterapkan oleh masyarakat dan lingkungan sekitar individu.

Freud menggambarkan Super-Ego sebagai internalisasi aturan-aturan moral dan norma-norma sosial yang dipelajari selama perkembangan individu. Ini berfungsi sebagai “suara hati nurani” yang memberikan penilaian moral terhadap tindakan dan keputusan.

Baca Juga :  Potret Semangat Gotong Royong Warga Masalembu

Super-Ego seringkali menjadi “pemarah internal” yang mengevaluasi apakah Ego telah bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang ditanamkan.

Konflik antara Ego dan Super-Ego dapat menciptakan perasaan bersalah atau rasa malu ketika tindakan individu tidak sesuai dengan standar moral yang diinternalisasi.

Sebaliknya, jika Ego berhasil memenuhi tuntutan moral, individu dapat merasakan kepuasan dan penerimaan diri.

Ketiga bagian ini, Id, Ego, dan Super-Ego, bekerja bersama dalam dinamika yang kompleks untuk membentuk kepribadian manusia.

Perjuangan antara keinginan naluriah dan tuntutan moral menciptakan ketegangan internal yang dapat mempengaruhi perilaku, pemikiran, dan perasaan individu.

Freud melihat bahwa pemahaman dan integrasi yang sehat dari ketiga komponen ini penting untuk mencapai keseimbangan psikologis.

Baca Juga :  Ekonomi Malam Minggu

Dalam perkembangan manusia, peran ketiga unsur tersebut juga mengalami transformasi seiring waktu.

Freud mengemukakan bahwa Id hadir sejak lahir, sementara Ego dan Super-Ego berkembang selama masa perkembangan anak.

Dengan demikian, interaksi antara ketiga bagian ini menjadi dinamika yang terus berubah sepanjang kehidupan individu.

Beberapa kritikus berpendapat bahwa konsep-konsep ini terlalu terfokus pada aspek seksual dan agresif dalam perkembangan individu, sementara aspek-aspek positif seperti motivasi untuk pertumbuhan dan pencapaian diabaikan.

Namun demikian, konsep Id, Ego, dan Super-Ego tetap menjadi landasan yang mempengaruhi pandangan banyak psikolog dan ahli psikologi hingga saat ini.

Meskipun tidak dapat dianggap sebagai penjelasan eksklusif untuk seluruh spektrum kepribadian manusia, teori ini menyumbang pemahaman yang mendalam tentang dinamika internal yang membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak.

Penulis : Wail Arrifki

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Desa Maju vs. Desa Tertinggal, Apa Bedanya?
Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya
Nyaman dalam Ketakutan
Sepiring Kenangan dari Kota Madiun
Dari Panimbang ke Houston: Jalan Panjang Sang Guru Besar
Pernah Jabat Ketua Cabang PMII dan GP Ansor, Kini Muhri Jadi Kandidat Ketua DPC PKB Sumenep
Dari Pelosok Desa, Julhan Irfandi Membuktikan Pendidikan dapat Diperjuangkan
10 Manfaat Buah Salak untuk Kesehatan, Nomor 5 Cocok untuk Cuaca Saat ini

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Desa Maju vs. Desa Tertinggal, Apa Bedanya?

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:03 WIB

Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:17 WIB

Nyaman dalam Ketakutan

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:25 WIB

Sepiring Kenangan dari Kota Madiun

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:25 WIB

Dari Panimbang ke Houston: Jalan Panjang Sang Guru Besar

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Psychological Safety

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:52 WIB

Politik

Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura

Senin, 14 Sep 2026 - 20:18 WIB