Doa untuk Kaum Muslim

Abd. Kadir

Kamis, 28 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abd. Kadir (Foto: dokumen pribadi)

Abd. Kadir (Foto: dokumen pribadi)

Oleh ABD. KADIR*

Saya pernah ditanyakan teman diklat tentang saudaranya yang meninggal sementara dia masih belum memiliki keluarga. Karena menurut pengetahuan yang diyakininya selama ini, bahwa orang yang meninggal itu amalnya akan terputus, dan hanya 3 hal yang membuat amal itu terus mengalir: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.

Nah, dari fenomena meninggalnya saudaranya ini, apakah akan juga mengalir pahala dari doa-doa orang yang bukan anaknya—karena dia memang tidak punya anak? Kalau tidak, menurutnya, sungguh kasihan saudaranya ini yang tidak berkeluarga dan notabene tidak memiliki keturunan—karena tidak ada anak yang mendoakannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya hanya tersenyum dan mencoba memberikan pemahaman sederhana kepada teman saya ini. Saya sampaikan bahwa pemahaman terhadap hadits yang diyakininya ini perlu dicermati lebih komprehensif. Artinya, bahwa menafsirkan putus amalnya itu, adalah ketika orang sudah meninggal, maka dia sudah tidak bisa lagi untuk berbuat sesuatu yang akan bisa menambah amal kebaikannya lagi. Amal yang akan mengalir dari upayanya sendiri sudah tidak bisa lagi dia dapatkan. Ini artinya, bahwa dia hanya bisa mendapatkan apa yang telah diupayakannya selama ini berupa kebermanfaatan dari ilmu yang diajarkan, kebermanfaatan dari sedekah yang dia keluarkan, dan kebermanfaatan dari apa yang ia didikkan selama ini kepada anak-anaknya untuk selalu mendoakannya.

Baca Juga :  Al-Qur’an dan Arti Membaca

Maka, dalam perspektif ini, upaya yang telah dilakukannya selama ini, bahwa dengan kebermanfaatan itulah ia bisa menerima pahala yang mengalir kepada dirinya sesuai dengan yang ia lakukan selama masih hidup. Namun demikian, bukan berarti ketika ada orang lain yang mendoakan, juga tidak akan memberikan manfaat pahala kepada orang yang sudah meninggal.

Kita selama ini telah diajarkan untuk selalu mendoakan sesama kaum muslimin. Artinya, bahwa doa seorang muslim kepada muslim yang lain akan memberikan kebermanfaatan pahala.

Baca Juga :  Dua Jalan Hermeneutis Memahami 'Pasal Penghinaan' dalam RKUHP

Sebagaimana yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim dalam salah satu doanya pernah mendoakan ampunan bagi kaum muslimin. “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan orang-orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat)” (QS Ibrahim 41).

Dalam konteks yang lain, bahwa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah ketika melewati kuburan, kita dianjurkan untuk mengucapkan salam. Ucapan salam ini adalah doa keselamatan. Artinya, kita dianjurkan untuk mendoakan keselamatan para ahli kubur itu.

Bahkan, dalam satu hadits, Rasulullah bersabda bahwa Dari sahabat Ubadah bin al-Shamit ra, Rasulullah saw bersabda, yang artinya: Barangsiapa yang memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, maka Allah akan mencatat baginya dengan setiap orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagai satu pahala kebaikan (Hadits shahih riwayat al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir juz 19 [909] dan Musnad al-Syamiyyin [2155]. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid juz 10 hlm 210, sanad hadits ini jayyid (istimewa).

Baca Juga :  Jihad yang Paling Utama Bagi Kaum Wanita

Begitu pula dalam khutbah Jumat, khatib dianjurkan untuk mendoakan kaum muslimin (untuk urusan ukhrowi). Ini sebagaimana yang ditulis Syekh Izzuddin Al Malibari bahwa salah satu rukun dari khurbah jumat itu, adalah mendoakan kaum muslimin untuk urusan akhirat. Doa yang selama ini dipanjatkan seperti “allahumma ajirnâ minannâr, ya Allah semoga engkau menyelematkan kami dari neraka”, “allâhumma ighfir lil muslimîn wal muslimât, ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat”.

Teman saya hanya tersenyum. Ia sadar bahwa saudaranya yang meninggal, masih akan terus menerima aliran pahala dari doa-doa yang dipanjatkan para saudara, kerabat dan sahabat-sahabatnya termasuk para kaum muslimin yang selalu mendoakannya. Dia juga akan tetap menerima aliran pahala dari sedekah-sedekah yang dikhususkan untuknya oleh para saudara, kerabat dan sahabat-sahabat yang masih tetap mencintainya.

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru