Bung Tomo: Sang Pejuang Kemerdekaan dari Surabaya

Redaksi Nolesa

Kamis, 17 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh, NOLESA.com – Bung Tomo adalah sosok tak terpisahkan dari peristiwa bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama peran pentingnya dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Bung Tomo sendiri lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920 di Surabaya.

Bung Tomo memiliki jiwa yang penuh semangat, tegas, dan lugas dalam menyuarakan aspirasi rakyatnya. Ia dikenal sebagai orator ulung yang mampu menggerakkan massa dengan pidato-pidato berapi-api.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu momen paling bersejarah dalam perjuangannya adalah saat ia berdiri di atas mobil perang dan melontarkan kata-kata yang menggelorakan semangat rakyat Surabaya untuk melawan tentara Sekutu yang mencoba merebut kembali kota tersebut.

Pidato legendarisnya yang mengandung kalimat “Arek-arek Suroboyo, ora ono sing duwe tata krama. Sing ono iku arek-arek Suroboyo, sing takon iku arek-arek Suroboyo!” menggambarkan keberaniannya dan determinasinya untuk melawan penjajah.

Baca Juga :  Karl Marx untuk Pemula

Dalam Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo bersama dengan rakyat Surabaya berjuang dengan gigih melawan pasukan Sekutu yang berusaha merebut kembali kota ini.

Ia berhasil memotivasi rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan dengan taktik perang gerilya dan semangat juang yang tak kenal lelah.

Meskipun dalam situasi yang sulit, Bung Tomo dan para pejuang Surabaya berhasil menghentikan laju pasukan Sekutu dan mengukir kemenangan yang membanggakan.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Bung Tomo tetap aktif dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia.

Bung Tomo terus berbicara dan beraksi untuk menguatkan semangat nasionalisme, mendorong pembangunan bangsa, dan memastikan bahwa pengorbanan rakyat dalam perjuangan kemerdekaan tidak sia-sia.

Baca Juga :  Kesaksian Kiai Masykur Komandan Pasukan Sabilillah Perihal Sumbangsih Umat Islam terhadap Kelahiran Pancasila

Bung Tomo juga terlibat dalam kegiatan politik, tetapi tetap teguh pada prinsip-prinsipnya untuk kepentingan bangsa.

Pengabdian Bung Tomo terhadap negara dan bangsa diakui dengan penghargaan tertinggi, yaitu gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1969.

Namun, penghargaan tersebut tidak mengubah sifatnya yang sederhana dan rendah hati. Ia tetap mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

Kepahlawanannya tidak hanya tercermin dalam tindakan fisiknya, tetapi juga dalam semangat, tekad, dan inspirasi yang diwariskannya kepada generasi-generasi berikutnya.

Bung Tomo menjadi simbol semangat juang, keteguhan, dan cinta tanah air yang menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang demi keadilan, kebebasan, dan kemajuan bangsa.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo merupakan sosok yang tak tergantikan. Pidatonya yang membara dan semangatnya yang menggebu-gebu telah menginspirasi jutaan orang untuk berani berdiri dan melawan penindasan.

Baca Juga :  Merdeka! Nia Kurnia Fauzi

Keterlibatan Bung Tomo dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah bukti nyata bahwa semangat kebangsaan dan patriotisme dapat mengatasi segala rintangan.

Dengan segala jasa dan pengorbanannya, Bung Tomo menjadi contoh teladan bagi kita semua. Kita dapat belajar dari dedikasinya dalam memerdekakan Indonesia dan menjadikan semangatnya sebagai pendorong untuk terus berjuang demi masa depan yang lebih baik.

Bung Tomo, pahlawan dari Surabaya, tetap hidup dalam ingatan dan inspirasi bangsa, mengajarkan kita akan pentingnya menghargai dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah.


Penulis: redaksi

Berita Terkait

Pernah Jabat Ketua Cabang PMII dan GP Ansor, Kini Muhri Jadi Kandidat Ketua DPC PKB Sumenep
Dari Dunia Seni ke Panggung Politik dan Pengabdian
Mengemuka di Periode Kedua: M. Muhri, Legislator PKB Penjaga Aspirasi Rakyat
Birokrat Muda Kuda Hitam Sekda Sumenep
Cerita Wiwin, Dari Jualan Beras Hingga Parlemen
Pengalaman Hobi Jadi Motivasi Profesi
Langkah Kecil untuk Mimpi Besar: Kisah Inspiratif Pasangan F. Haris Oktaviano dan Lorensa Advenia Berdayakan Pekerja dan Peserta Didik
Erna Sujarwati, Sosok Politisi Perempuan yang Dikenal Tegas

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 12:59 WIB

Pernah Jabat Ketua Cabang PMII dan GP Ansor, Kini Muhri Jadi Kandidat Ketua DPC PKB Sumenep

Kamis, 13 November 2025 - 00:43 WIB

Dari Dunia Seni ke Panggung Politik dan Pengabdian

Sabtu, 10 Mei 2025 - 07:11 WIB

Mengemuka di Periode Kedua: M. Muhri, Legislator PKB Penjaga Aspirasi Rakyat

Selasa, 29 April 2025 - 13:57 WIB

Birokrat Muda Kuda Hitam Sekda Sumenep

Kamis, 24 April 2025 - 13:36 WIB

Cerita Wiwin, Dari Jualan Beras Hingga Parlemen

Berita Terbaru