Defisit Etika dalam Bermedia

Redaksi Nolesa

Sabtu, 15 Juli 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Taufiqullah Hasbul*

Media sosial saat ini menjadi sarana komunikasi yang paling dominan digunakan oleh manusia di seluruh dunia, terlebih di Indonesia. Masyarakat saat ini mempunyai ketergantungan yang sangat besar terhadap media sosial sebagai alat komunikasi. Media tak ubahnya kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Bagi orang-orang, media sosial sebagai sarana informasi dan komunikasi, sebagian yang lain menjadikan media sosial untuk mengekspresikan karya dengan menjadikannya sebuah konten.

Namun, di tanah air khususnya, media sosial tak ubahnya seperti gelombang pasang air laut: membawa pasir dan juga sampah. Fenomena media sosial di Indonesia saat ini sangatlah ironis. Segenap platform meda sosial seperti Facebook, Tik Tok, Instagram, dan Twitter, acap kali dipenuhi dengan konten-konten yang tidak edukatif. Lebih mirisnya lagi, media sosial dijadikan sebagai ruang provokatif yang akhirnya akan berimplikasi pada disintegrasi social dan perpecahan bangsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konten provokatif biasanya berupa hoax yang ujung-ujungnya hanyalah untuk mencari sensasi. Hal seperti inilah yang menghasilkan perilaku kekerasan, gosip, flexing, bullying, dan perbuatan amoral lainnya. Hoax dalam percakapan media sosial telah menimbulkan keresahan dan kerusuhan dalam sektor pedidikan, sosial, politik, dan sektor bisnis, atau bahkan ketegangan dalam sektor agama (Syahputra, 2019). Arus ini bahkan kerap kali disebut-sebut sebagai fenomena global dalam kultur dunia siber yang sulit untuk diurai.

Tak hanya di media sosial, stasiun televisi saat ini sudah kehilangan fungsi dan esensinya. Televisi merupakan media yang mempunyai tiga fungsi utama yaitu; hiburan, penyebaran informasi, dan pendidikan (Vera, 2008). Namun program hiburan lebih mendominasi ketimbang program edukatif sebagai media pendidikan. Fungsi televisi saat ini sudah tergerus oleh dinamika zaman.

Baca Juga :  Melampaui Identitas

Televisi kerap kali memproduksi sesuatu yang viral meskipun itu kurang bermanfaat sebagai konsumsi publik. Demikian bisa dilihat ketika ada sesuatu yang viral di media sosial, stasiun televisi seketika itu mengundang sesorang yang sedang viral meskipun program tersebut tidak mempunyai unsur edukatif. Betapa Ironinya industri televisi saat ini yang hanya mengejar rating tanpa mempertimbangkan implikasi terhadap perkembangan sumber daya manusia.

Aktifitas ruang digital kita sudah penuh dengan konten yang tidak edukatif. Tentu hal ini mempunyai implikasi negatif terhadap perkembangan masyarakat apalagi generasi penerus bangsa. Jika hal semacam ini dibiarkan begitu saja tanpa memprioritaskan konten edukatif, maka impian untuk menjadi negara maju hanyalah sebuah ilusi belaka.

Maraknya konten amoral di media sosial bukan semata-mata kesalahan dari teknologi itu sendiri, melainkan kelalaian dari pengguna teknologi, artinya, banyaknya konten yang tidak edukatif dikarenakan banyaknya penonton itu sendiri. Hingga Januari 2023, Pengguna media sosial di Indonesai mencapai 167 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 78 persen dari jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai 212, 9 juta jiwa (Dataindonesia.id, 2023, Februari 3).

Pesatnya arus digitalisasi merupakan dampak domino dari perkembangan teknologi yang masif.  Media sosial merupkan sarana bagi konsumen untuk berbagi informasi teks, gambar, video dan audio yang mempunyai tiga fungsi yaitu; mendukung demokratisasi pengetahuan dan informasi, memperluas interaksi sosial manusia dengan menggunakan internet dan teknologi, dan sebagai praktik media komunikasi antara perorangan dengan institusi (Kotler, Keller 2012).

Baca Juga :  Asisten Rumah Tangga dan Krisis Rasa Kemanusiaan

Media mempunyai peran sentral dalam perkembangan sumber daya manusia di Indonesia pada abad ke-21 yang disebut sebagai abad pengetahuan. Pada abad ke-21 ini, perkembangan teknologi dan komunikasi begitu pesat dalam semua aspek kehidupan yang mempunyai tuntutan sangat tinggi untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga manusia dituntut untuk memiliki keterampilan dan kemampuan yang kompeten.

Pentingnya Literasi Digital

Dunia pendidikan pada abad ke-21 dipengaruhi oleh pesatnya arus teknologi dan informasi. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dalam kemajuan bangsa. Pendididkan di abad ke-21 telah mengalami perubahan dengan ditandai oleh pengembangan literasi baru, seperti literasi digital, literasi informasi, dan literasi media. Hal tersebut tidak terlepas dari era disruption yang merupakan kondisi di mana terjadinya inovasi yang menyebabkan perubahan secara besar-besaran atau mendasar ke dalam sistem yang baru (Renald Kasali, 2017).

Pendidikan saat ini berorientasikan pada kegiatan untuk melatih keterampilan para peseta didik dengan mengarah kepada proses pembelajaran. Pembelajaran dalam definisi ini bukanlah sebuah proses pembelajaran pengetahuan, melainkan proses pembentukan pengetahuan oleh siswa (Wijaya, 2016). Oleh Karena itu, sistem pembelajaran pada abad ke-21 bukan lagi memposisikan pendidik (teacher-centered) sebagai pusat pengetahuan, melainkan peserta didik (student-centered learning) sebagai pusat pengetahuan.

B.J. Habibie, presiden ketiga Indonesia, menegaskan bahwa kunci keberhasilan negara di masa depan adalah kualitas sumber daya manusianya. Sebab dengan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing membuat Indonesia diperlakukan sama dan disegani oleh negara lain. Sumber daya manusia akan bertransformasi terhadap kemajuan suatu negara jika dibarengi dengan teknologi. Oleh kerenanya, media sosial mempunyai peran penting terhadap perkembangan sumber daya manusia di Indonesia.

Baca Juga :  Politik Jahat Boy Thahir, Menjegal Anies & Ganjar

Media sosial merupakan nadi dalam upaya penguatan sumber daya manusia. Penggunaan media sosial secara baik akan mengembangkan ilmu pengetahuan seseorang. Tidak sedikit dari kita yang semakin pintar karena menggunakan media sosial pada hal yang posistif, misalnya, fasih berbahasa asing dengan belajar otodidak di Youtube, mengasah keterampilan menulis dengan memanfaatkan Website atau media cetak, mengetahui sesuatu lebih detail dengan cepat, dan masih banyak manfaat lainnya dari peggunaan media sosial.

Oleh karena itu, di tengah maraknya problematika moralitas, semangat gotong royong semua pihak dalam meluruskan pembangunan bangsa ini harus terus digelorakan. Jangan pernah memaknai pendidikan secara sempit hanya sebatas pembelajaran formal saja. Pendidikan dan pembelajaran bisa dinikmati di manapun dan kapanpun dengan menggunakan media sosial secara baik.

Akhirnya, marilah kita menjadi masyarakat yang turut prihatin dan ikut andil untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat dan bermartabat. Gunakanlah media sosial kita untuk hal-hal yang positif dan edukatif sehingga ruang digital mempunyai peran signifikan dalam memajukan kesejahteraan dan kecerdasan bangsa.

*) Mahasiswa Ilmu Hukum UIN SUKA Yogyakarta

Berita Terkait

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:58 WIB

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Selasa, 21 April 2026 - 10:59 WIB

Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB