UIN Sunan Kalijaga dan Kampus sebagai Motor Perdamaian

L Rahman

Rabu, 15 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini, NOLESA.com — Kampus memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta mewujudkan perdamaian di tengah keberagaman. Di satu sisi, kampus memahami betul bahwa keberagaman adalah keniscayaan. Di sisi lain, kampus juga memahami betul bahwa keberagaman (perbedaan agama, kepercayaan, keyakinan, dll) bukanlah penghalang untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara. Singkatnya, kampus memiliki peran strategis (yang tidak dimiliki lembaga lain) untuk mewujudkan kehidupan yang rukun dan harmonis.

Sebagai kampus berbasis Islam, UIN Sunan Kalijaga menyadari betul peran strategis yang dimilikinya itu. Itulah sebabnya mengapa pada Senin (13/2) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menganugerahkan gelar kehormatan honoris causa (HC) kepada Dewan Pakar Majelis Muhammadiyah Sudibyo Markus, Prefek Dikasteri Untuk Dialog Antaragama Vatikan Kardinal Miquel Angel Ayuso Guixot, dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Dipilihnya tiga tokoh tersebut sebagai penerima gelar kehormatan HC bukan tanpa alasan yang jelas. Ketiga tokoh penting itu dengan sengaja dan sadar dipilih karena bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ketiganya telah berkontribusi besar terhadap upaya mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi keberagaman. Ketiganya, oleh UIN Sunan Kalijaga dipandang bukan hanya menginspirasi gerakan perdamaian di dalam komunitas agamanya, tetapi juga di luar komunitas mereka masing-masing, melampaui batas dan garis-garis ideologis.

Oleh karena itu, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merasa berkepentingan untuk memberi gelar kehormatan HC kepada ketiga tokoh lintas komunitas dan agama yang telah banyak mengisnpirasi itu. Dalam sambutannya, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Al Makin mengatakan bahwa ketiganya adalah pemimpin besar yang telah memberi contoh bagaimana mengelola kehidupan masyarakat melalui konsep pemberdayaan berbasis keberagaman (multikulturalisme) guna mencapai puncak perdamaian kehidupan. Bukan menjadikan keberagaman (perbedaan) sebagai alasan untuk saling memusuhi.

Penganugerahan gelar kehormatan HC itu mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Hasto menyebut bahwa penganugrahan gelar kehormatan kepada ketiga tokoh tersebut merupakan langkah penting dalam rangka menjembatani keberagaman dan perbedaan.

Baca Juga :  Sterilisasi Masjid dari Infiltrasi Wahabisme

”PDI Perjuangan merasa bangga, bagaimana UIN Sunan Kalijaga menjadi pelopor perjuangan kemanusiaan dengan mengedepankan toleransi, persaudaraan sejati seluruh umat manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagaimana disampaikan dalam Alquran Surat Al-Hujarat ayat 13 yang dibacakan pada saat pembukaan,” ujar Sekjen PDIP Perjuangan yang juga berkesempatan hadir dalam acara penganugerahan gelar kehormatan tersebut.

Langkah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memberi gelar kehormatan kepada tiga sosok penting itu memang patut untuk diapresiasi. Meski sekadar menganugerahkan gelar kehormatan, namun terobosan UIN Sunan Kalijaga itu akan menjadi titik pijak penting dalam kerja-kerja mewujudkan perdamaian. Terlebih, salah satu tokoh yang dianugerahi gelar kehormatan adalah tokoh non-mulism. Tentu hal itu adalah langkah positif yang masih jarang dilakukan oleh banyak kampus. UIN Sunan Kalijaga adalah kampus berbasis Islam. Karena itu, pemberian gelar kehormatan kepada tokoh non-mulism itu menjadi semacam penanda penting tentang komitmen UIN Sunan Kalijaga terkait toleransi dalam beragama.

Paradigma pendidikan yang diterapkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah paradigma ”integrasi-interkonektif” dengan tokoh sentralnya Prof. Amin Abdullah. Dengan paradigma itu, UIN Sunan Kalijaga hendak mengintegrasikan setiap ilmu pengetahuan guna mencapai puncak kebenaran. Karena itu, UIN Sunan Kalijaga tak sekali-kali melakukan dikotomi ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari kitab kuning ataupun kitab putih, semuanya sama-sama dipelajari untuk memperoleh kebenaran filosofis.

Baca Juga :  Stoikisme: Seni Menikmati Kebahagian Hidup

Hal yang sama juga dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam ilmu keagamaan. Meski berbasis Islam, namun agama yang dipelajari oleh mahasiswa dan para dosen bukan hanya Islam saja, tetapi juga agama-agama lain. Bahkan, sebagai penjurusan, di UIN Sunan Kalijaga juga telah disediakan program Studi Agama-Agama (SAA). Itu semua adalah komitmen UIN Sunan Kalijaga untuk mewujudkan perdamaian melalui jembatan ilmu pengetahuan yang tidak dikotomis, tetapi terintegrasi dan terkoneksi satu sama lain.

Penganugerahan gelar kehormatan kepada tiga tokoh penting itu, juga berangkat dari semangat semacam itu. UIN Sunan Kalijaga yakin, dengan adanya interaksi dan dialog lintas komunitas dan agama akan dihasilkan sebuah pemahaman mendalam yang pada akhirnya akan mampu menguatkan simpul-simpul toleransi di tengah keberagaman masyarakat.

Berita Terkait

Pintu Kampus Tertutup bagi Si Miskin
Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:41 WIB

Pintu Kampus Tertutup bagi Si Miskin

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:58 WIB

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:50 WIB

Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Berita Terbaru

Ketua Banggar DPR RI, MH Said Abdullah (foto: IST)

Nasional

Ketua Banggar DPR RI Pastikan APBN 2026 Masih Aman

Senin, 11 Mei 2026 - 13:38 WIB

(for NOLESA.COM)

Opini

Pintu Kampus Tertutup bagi Si Miskin

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:41 WIB

Calon jemaah haji pamit kepada Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim (Foto: Istimewa)

Daerah

Selain Kesehatan, Wabup Sumenep Pesan ini kepada CJH 2026

Sabtu, 9 Mei 2026 - 07:30 WIB