Oleh Farisi Aris*
Sejak 1985, 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Penetapan 9 Februari sebagai hari pers nasional tak lain adalah sebagai sebentuk penghargaan atas jasa atau peran pers dan jurnalis dalam membangkitkan kesadaran nasional di masa penjajahan. Di mana, pada saat itu, pers dan jurnalis sangat berperan aktif menyuarakan perlawanan dan kemerdekaan sehingga mampu membangkitkan kesadaran nasional masyarakat untuk melawan kolonialisme-imperialisme. Para jurnalis, selain aktif menstimulasi kesadaran publik tentang arti penting bangsa yang merdeka melalui karya jurnalistik, mereka juga merangkap diri sebagai aktivis politik membangunkan kesadaran publik yang terdiam takut.
Di satu sisi, jejak historis itu menandakan bahwa pers memiliki jasa besar atas kemerdekaan bangsa yang telah berhasil diraih. Sebagai mesin informasi, pers nasional bisa dikatakan juga telah menjadi bagian atau motor sosial yang ikut menggerakkan perlawanan sosial. Di sisi lain, lanskap kesejarahan pers nasional itu juga menunjukkan bahwa pers memiliki tanggung jawab moral yang tinggi dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah persoalan kebangsaan yang ada, pers nasional tidak abai terhadap persoalan itu. Ia hadir dan ikut menyuarakan perlawanan dan kemerdekaan. Tidak semata-mata mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga ikut andil memperjuangkan kepentingan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kilas Balik Pers Kita: Jurnalisme Baru dan Jurnalisme Sampah
Namun, apa yang terjadi kini adalah sebaliknya. Meski dunia pers kita kini telah mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang, namun peranan pentingnya dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara kini telah mulai memudar dan mengalami kemunduran akut. Meski harus diakui bahwa saat ini pers nasional kita masih memainkan peranan luhurnya itu, namun juga harus diakui bahwa pers nasional kita kini telah mengalami telah terdistorsi oleh berbagai macam kepentingan. Alih-alih mementingkan kepentingan nasional, justru sebagian dunia pers kita lebih mementingkan kepentingan ekonomi dan viralitas.
Ironi ini umumnya dilakukan oleh jurnalisme baru atau jurnalisme online. Di mana, sejak dari awal, tujuan pembentukannya memang hanya ditujukan untuk tujuan ekonomi. Alhasil, proses produksinya pun dilakukan dengan instan, kaidah jurnalistik diabaikan. Yang penting viral dan memanjakan emosi pembaca. Karena itu, tak ayal bila berita atau informasi yang diproduksi kebanyakan berisi informasi bohong (hoaks), di samping juga provokatif dan memuat kebencian atas kelompok. Inilah yang oleh banyak kalangan disebut sebagai jurnalisme sampah. Jurnalisme yang tidak memiliki nilai dan sumbangsih untuk bangsa.
Alih-alih mengedukasi publik dan berkontribusi positif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, jurnalisme baru yang sedang berkembang subur itu justru ikut terlibat dalam skandal pembibitan kebencian, provokasi, rasisme, dan kekacauan informasi. Informasi atau berita yang diproduksi adalah berita yang tidak bertanggung jawab. Berita yang dihasilkan semata dibuat untuk mengejar viralitas sehingga dapat mendapat keuntungan ekonomi yang besar. Bahwa berita yang diproduksi merusak kerukunan dan keharmonisan masyarakat, bagi jurnalisme baru hal itu kini telah menjadi pertimbangan yang kesekian, bukan yang utama.
Kembali Ke Jalan Luhur: Membangun Jurnalisme Sehat untuk Keutuhan Bangsa
Jurnalisme baru dengan jurnalisme sampahnya itu adalah wajah buruk dunia pers kita. Yang bukan hanya menodai dunia pers kita, tetapi juga telah merobohkan idealisme dan nilai-nilai luhur jurnalisme. Alih-alih hadir dengan semangat perubahan, kehadirannya justru membawa petaka bagi dunia pers kita. Karena itu, peringatan Hari Pers Nasional kini harus dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan dan perbaikan dunia pers.
Di dalam sejarah perjalanan bangsa, pers nasional memiliki jejak langkah positif. Pers tercatat mampu berkontribusi besar terhadap pencapaian kemerdekaan Indonesia. Pers nasional mampu memainkan peran sebagai salah satu motor perubahan. Sejarah emas ini tak boleh dibiarkan tertimbun oleh arogansi jurnalisme baru. Pers harus kembali bangkit mereposisi dirinya sebagai elan vital dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kehadiran jurnalisme baru yang serampangan, instan dan pragmatis, harus dievaluasi dan diarahkan ke jalan luhur jurnalisme. Yakni jurnalisme yang bertanggung jawab, profesional, dan punya kepedulian tinggi terhadap keutuhan bangsa. Jurnalisme baru yang penyakitan, jangan dibiarkan terus bertumbuh membibitkan kebencian dan permusuhan.
*) Wartawan nolesa.com









