Oleh | Dr. H. Abd. Kadir, M.Pd.
ESAI, NOLESA.COM – Tanggal 21 Oktober 2026, selepas apel pagi, saya bersama para staf di Kecamatan Batang Batang, ikut memeriahkan kegiatan ”Bazar Semarak Hari Jadi” yang diadakan Komunitas Belajar (KBS), KKKS dan KKG Gugus 02 Kecamatan Batang Batang, dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep. Sebenarnya pembukaannya sudah dilaksanakan satu hari sebelumnya, 20 Oktober 2026. Karena tempat pelaksanaannya di sebelah kantor kecamatan (SDN Batang-Batang Daya 2), kami pun jalan kaki ke lokasi bazar.
Agenda lain, yang juga dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Jadi Kabupaten Sumenep adalah Upacara Hari Jadi Kabupaten Sumenep oleh Gugus 01 KKG dan KKKS Kecamatan Batang Batang, di Halaman Kantor Kecamatan Batang Batang, dan ”Pawai Budaya” dengan tema ”Lestarikan Budaya, Bangkitkan Generasi Emas Sumenep”. Kegiatan ini akan dilaksanakan oleh KKG dan KKKS Gugus 03 Kec. Batang Batang. Ada 11 lembaga sekolah dasar yang akan mengikuti pawai budaya ini. Dua kegiatan ini dilaksanakan pada hari yang sama: 31 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara, untuk tingkat kabupaten, prosesi Hari jadi Sumenep diawali dengan Prosesi Penobatan Arya Wiraraja yang digelar bersamaan dengan Festival Musik Tong-Tong se-Madura (KEN), 17 Oktober 2026, Haul Raja-Raja Madura pada malam hari, 30 Oktober 2026, yang pagi harinya diawali Khatmil Qur’an, ziarah ke makam Raja-Raja Sumenep di Asta Tinggi, dan puncaknya adalah Upacara Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep, 31 Oktober 2026. Bahkan, sebelumnya ada ritual pembacaan Surat Waqi’ah 111.111 kali, 22-30 Oktober 2026. Dari sini, terlihat betapa semarak Hari Jadi Kabupaten Sumenep ini menjadi momentum yang bisa diterjemahkan ke dalam berbagai aktivitas yang pada akhirnya menuju generasi emas yang akan membangun ”Songennep Raja Rajja”—sebagaimana tema Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep, tahun 2026—di masa yang akan datang.
Memahami tema Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep tahun 2026 ini, dalam khazanah bahasa dan kebudayaan Madura, frasa Jaja Rajja memancarkan getaran makna yang mendalam. Ia mengemuka bukan sekadar sebagai slogan pemanis spanduk, melainkan sebagai pijakan filosofis dan refleksi kebudayaan yang mendalam.
Secara harfiah, jaja merujuk pada kejayaan, ketangguhan, dan keberhasilan, sementara rajja menegaskan keagungan, kebesaran, serta kemuliaan. Lebih dari sekadar slogan sejarah atau pengingat kebesaran masa lalu—seperti saat Arya Wiraraja memancangkan fondasi kepemimpinan di Sumenep—Jaja Rajja adalah sebuah matriks kebudayaan. Ia adalah kompas moral, spiritual, dan filosofis bagi masyarakat Madura. Mengaitkan Jaja Rajja dengan Hari Jadi Kabupaten Sumenep berarti membaca kembali lembar-lembar emas perjalanan sejarah, sembari menatap masa depan dengan pijakan tradisi yang kokoh.
Namun, di hadapan gelombang disrupsi teknologi, arus globalisasi, dan tantangan ekologis saat ini, sebuah pertanyaan krusial mengemuka: bagaimana spirit Jaja Rajja mentransformasi dirinya? Kebesaran sebuah peradaban tidak diukur dari sejauh mana ia meratapi atau membanggakan masa lalu, melainkan dari kemampuannya menerjemahkan nilai-nilai luhur tersebut untuk menjawab tantangan masa depan.
Ketika dibaca dari perspektif sejarah, akar dari keagungan Sumenep bermula pada tanggal 31 Oktober 1269, ketika Arya Wiraraja dilantik sebagai Adipati Pertama Sumenep oleh Raja Kertanegara dari Singhasari. Pelantikan ini menandai lahirnya Sumenep sebagai entitas politik dan kebudayaan yang berdaulat. Arya Wiraraja bukan sosok sembarangan; ia adalah konseptor ulung di balik berdirinya Kerajaan Majapahit. Dari tanah Sumenep inilah, ide-ide besar Nusantara dirajut dan digerakkan.
Sejarah Jaja Rajja Sumenep terus berlanjut melalui dinasti pemerintahan yang menorehkan tinta emas, seperti masa kepemimpinan Panembahan Somala hingga Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Sultan Abdurrahman dikenal sebagai pemimpin yang raja, cendekiawan, dan ahli bahasa yang diakui oleh para ilmuwan kolonial saat itu. Bangunan fisik seperti Keraton Sumenep dan Masjid Jamik menjadi bukti nyata bahwa estetika, arsitektur, dan spritual integratif telah mencapai puncaknya sejak abad ke-18.
Keagungan Sumenep tidak dibangun di atas garis pedang semata, melainkan di atas fondasi spiritualitas dan diplomasi kebudayaan. Karakter masyarakat Sumenep (Madura) yang alos, sopan, dan sarat dengan penghormatan terhadap orang tua serta pemimpin (buppa’, babbu’, guru, rato) menjadi pilar utama keagungan tersebut.
Hanya saja, di tengah pusaran arus modernisasi dan globalisasi, makna Jaja Rajja menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Keagungan masa lalu tidak boleh berhenti menjadi sekadar kenangan nostalgik yang hanya dirayakan setahun sekali melalui kirab budaya atau parade busana adat. Jaja Rajja masa kini menuntut penerjemahan nyata dalam pembangunan manusia, kebudayaan, dan ekonomi.
Maka, menatap masa depan peradaban masyarakat Sumenep (sebagai jantung budaya Madura dengan ”The Soul of Madura”-nya) berarti membangun keberanian untuk melakukan rekonstruksi kebudayaan dalam konstelasi wilayah Madura. Jaja Rajja tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah yang pasif. Di era digital dan ekonomi berbasis pengetahuan, keagungan (rajja) harus diterjemahkan ke dalam pencapaian ilmu pengetahuan, kualitas sumber daya manusia, dan daya saing global.
Dalam perspektif Jaja Rajja, kejayaan masa lalu—baik dalam bidang diplomasi politik era Majapahit, keahlian navigasi bahari, maupun keanekaragaman karya seni dan arsitektur—bukanlah sekadar memorabilia di museum. Tradisi tersebut adalah modal sosial yang sangat bernilai. Keagungan (rajja) peradaban Madura di masa lalu tercipta karena keterbukaan para leluhur terhadap pengetahuan luar, tanpa pernah mengorbankan akar keimanannya. Keseimbangan inilah yang menjadi syarat mutlak jika Madura ingin membangun masa depannya.
Menjadikan Sumenep tetap Jaja Rajja di masa depan membutuhkan integrasi antara nilai-nilai luhur tradisi dan inovasi berkelanjutan. Terdapat tiga aspek strategis bahwa spirit Jaja Rajja dapat menjadi penggerak peradaban Madura masa depan. Pertama, transformasi pendidikan dan sumber daya manusia. Ketangguhan mental (jaja) masyarakat Madura yang terkenal pekerja keras dan pantang menyerah harus diarahkan pada penguasaan sains, teknologi, dan kewirausahaan modern. Generasi muda Madura tidak hanya dituntut menjaga bahasa dan etika (kesopanan), tetapi juga mampu menjadi kreator inovasi di kancah global. Keagungan masa depan lahir dari ruang-ruang kelas, pesantren, dan laboratorium riset yang responsif terhadap zaman.
Kedua, kedaulatan maritim dan potensi lokal. Sebagai wilayah kepulauan dan pesisir, peradaban Madura masa depan harus kembali menengok ke laut. Spirit maritim leluhur harus dihidupkan kembali melalui pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan, teknologi perikanan modern, serta pariwisata berbasis kearifan lokal. Mengabaikan potensi laut berarti memunggungi setengah dari takdir keagungan Madura.
Ketiga, diplomasi kebudayaan dan jejaring. Diaspora Masyarakat Madura memiliki jaringan diaspora yang tersebar di seluruh pelosok nusantara hingga mancanegara. Kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup di perantauan adalah bentuk nyata dari ketangguhan jaja. Jika jejaring diaspora ini dikonsolidasikan dengan baik, Madura memiliki kekuatan ekonomi dan diplomasi budaya yang luar biasa untuk memperkenalkan identitasnya secara terhormat di panggung dunia.
Di sisi lain, di tengah godaan modernisme yang cenderung individualistis dan materialistis, peradaban Madura masa depan membutuhkan benteng spiritual yang kokoh. Pembangunan fisik dan kemajuan ekonomi yang hampa dari nilai-nilai keagamaan dan etika lokal hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh.
Pada ranah inilah, falsafah abantal syahadat, asapo’ sholawat (berbantal syahadat, berselimut selawat) harus tetap menjadi jiwa dari Jaja Rajja. Keseimbangan antara kemajuan material dan kemuliaan akhlak inilah yang membuat peradaban Madura tetap anggun (rajja). Modernisasi di Madura tidak boleh mengikis rasa hormat kepada ulama, kehangatan silaturahmi (taretan dibi’), serta kepedulian sosial yang selama ini menjadi perekat kebangsaan.
Maka, Hari Jadi Kabupaten Sumenep sadalah momen untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan rasa syukur, dan menatap ke depan dengan rasa percaya diri. Ungkapan Jaja Rajja bukanlah ungkapan kesombongan, melainkan sebuah doa dan tekad bersama: doa agar Sumenep senantiasa dilimpahi keberkahan dan kedamaian, serta tekad agar setiap warga Sumenep mampu berkontribusi menjaga keagungan negerinya.
Selain itu, Jaja Rajja bukanlah destinasi akhir yang statis, melainkan sebuah ikhtiar kebudayaan yang terus berproses. Menjadikan Madura tetap jaya dan agung di masa depan adalah tanggung jawab lintas generasi.
Ketika generasi muda Madura mampu memadukan kecerdasan digital dengan kearifan lokal, ketika pembangunan ekonomi berjalan selaras dengan kelestarian alam dan nilai-nilai spiritual, saat itulah Jaja Rajja benar-benar menemukan bentuk teragungnya. Peradaban Madura masa depan akan berdiri tegak: berakar kuat pada tradisi, tumbuh menjulang merengkuh kemajuan zaman, dan memberi kontribusi nyata bagi keagungan Indonesia dan dunia. Dirgahayu Sumenepku!
*) Sekretaris Kecamatan Batang-Batang, Sumenep






