Oleh | Moh. Hafid Syukri
OPINI, NOLESA.COM – Setiap daerah memiliki kebanggaannya sendiri. Bagi Sumenep, salah satu kebanggaan itu adalah tradisi keislaman yang telah tumbuh jauh sebelum media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ratusan pondok pesantren berdiri di berbagai kecamatan. Langgar dan mushola menjadi tempat anak-anak belajar mengaji, sementara masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga ruang bertemunya masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep mencatat terdapat 391 pondok pesantren yang tersebar di kabupaten ini. Angka itu menunjukkan bahwa Sumenep memiliki modal keagamaan yang besar.
Namun, sebuah daerah tidak bisa hanya hidup dari kebanggaan masa lalu. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah warisan itu masih mampu berbicara kepada generasi hari ini?
Di tengah ratusan pesantren, mengapa sebagian anak muda justru lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang digital daripada di ruang pembinaan keagamaan? Pertanyaan ini bukan untuk menyimpulkan bahwa pemuda Sumenep kehilangan iman. Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana dan tidak adil. Banyak pemuda tetap aktif menjadi santri, mengajar mengaji, menghidupkan remaja masjid, dan terlibat dalam organisasi keagamaan. Namun, perubahan pola hidup yang dibawa era digital juga tidak bisa diabaikan.
Hari ini, telepon genggam menjadi benda yang paling sering disentuh setelah bangun tidur. Melalui layar berukuran beberapa inci, generasi muda memperoleh informasi, hiburan, pergaulan, bahkan cara memandang kehidupan.
Survei APJII menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai sekitar 79,5 persen. Artinya, dunia digital bukan lagi pelengkap kehidupan, melainkan ruang baru tempat karakter, cara berpikir, dan kebiasaan perlahan dibentuk.
Di sinilah tantangan sesungguhnya bermula
Ruang keagamaan kini tidak lagi bersaing dengan lapangan tempat bermain atau televisi keluarga. Ia bersaing dengan algoritma yang bekerja sepanjang hari. Media sosial memahami apa yang disukai penggunanya, lalu terus menyajikan konten yang membuat mereka bertahan lebih lama.
Dalam situasi seperti itu, mengajak generasi muda hadir di pengajian atau kegiatan masjid tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu.
Karena itu, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan anak muda. Mereka adalah generasi yang lahir dalam perubahan besar. Jika ruang keagamaan ingin tetap menjadi tempat bertumbuh, maka ia harus mampu berbicara dengan bahasa zamannya tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
Pesantren sebenarnya memiliki peluang besar menjawab tantangan tersebut. Selama ini pesantren berhasil menjaga tradisi keilmuan Islam, melahirkan ulama, guru, dan tokoh masyarakat. Kini tantangannya bertambah: bagaimana melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu menghadapi banjir informasi, hoaks, polarisasi, dan budaya instan yang tumbuh di ruang digital. Literasi digital, etika bermedia sosial, dan kemampuan berpikir kritis dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan agama.
Peran keluarga pun tidak bisa dikesampingkan. Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Ketika komunikasi di rumah semakin jarang karena masing-masing sibuk dengan gawainya, pendidikan karakter ikut kehilangan ruang. Tidak ada algoritma yang mampu menggantikan keteladanan orang tua.
Pemerintah daerah, sekolah, organisasi kepemudaan, hingga pengurus masjid juga perlu melihat perubahan ini sebagai tantangan bersama. Kegiatan keagamaan tidak cukup hanya rutin diselenggarakan, tetapi perlu dirancang agar menjadi ruang dialog, ruang belajar, dan ruang berkarya bagi anak muda. Mereka tidak hanya membutuhkan ceramah, tetapi juga kesempatan untuk berpartisipasi, berdiskusi, dan merasa memiliki ruang tersebut.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kehidupan beragama tidak hanya dilihat dari banyaknya bangunan ibadah atau ramainya acara seremonial. Keberhasilan itu tercermin ketika nilai-nilai agama hadir dalam perilaku sehari-hari: jujur saat bekerja, santun dalam berdiskusi, bijak menggunakan media sosial, serta peduli terhadap sesama. Nilai-nilai itulah yang harus diwariskan kepada generasi muda.
Sumenep telah diberi modal yang tidak sedikit. Ratusan pesantren, tradisi keagamaan yang kuat, serta penghormatan masyarakat kepada ulama adalah kekayaan yang tidak dimiliki semua daerah. Namun, modal sebesar apa pun tidak akan berarti jika tidak mampu menjawab tantangan zamannya.
Masa depan Sumenep tidak ditentukan oleh seberapa banyak pesantren berdiri, melainkan oleh seberapa berhasil pesantren, keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadikan nilai-nilai agama tetap hidup dalam diri generasi mudanya.
Sebab sejarah hanya akan menjadi kebanggaan apabila mampu melahirkan masa depan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi cerita yang terus diulang tanpa pernah benar-benar diwariskan. (*)
*) Moh. Hafid Syukri adalah seorang penulis asal Banuaju Timur, Batang-Batang Sumenep yang gemar menulis puisi dan prosa. Karyanya banyak terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, cinta, dan perjuangan. Selain menulis, ia juga aktif dalam dunia literasi dan berbagi karyanya di berbagai platform digital.









