YOGYAKARTA, NOLESA.COM — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X kembali menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana di luar Yogyakarta. Kali ini, Pemda DIY menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus memberikan perhatian kepada mahasiswa asal NTT yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Bantuan tersebut diserahkan Sri Sultan kepada Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi NTT Florida Taty Satyawati di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). Dukungan yang diberikan mencakup bantuan tanggap darurat, kesehatan, kebutuhan kemanusiaan, serta dukungan pangan dan pendidikan bagi mahasiswa NTT di Yogyakarta.
Bagi Sri Sultan, kepedulian terhadap mahasiswa dari daerah yang terdampak bencana bukanlah kebijakan yang baru. Langkah tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah diwariskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sri Sultan menjelaskan, tradisi tersebut bermula ketika terjadi pergolakan PRRI/Permesta. Pada saat itu, sejumlah mahasiswa asal Sumatera Barat yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta mengalami kesulitan biaya karena tidak lagi mendapatkan kiriman dari keluarga di daerah asal.
Daripada mahasiswa tersebut harus menghentikan pendidikan, Pemerintah Daerah DIY pada masa HB IX memberikan bantuan biaya hidup atau living cost sehingga mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.
Tradisi tersebut kemudian diteruskan ketika terjadi berbagai bencana di Indonesia. Salah satunya saat gempa dan tsunami Aceh. Ketika itu, Pemda DIY memberikan dukungan kepada lebih dari 600 mahasiswa terdampak agar tetap dapat menyelesaikan pendidikan mereka di Yogyakarta.
“Dari peristiwa itu sampai sekarang selalu kita punya tradisi melakukan hal yang sama bagi mahasiswa yang kena dampak bencana,” ujar Sri Sultan.
Untuk mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa, Pemda DIY telah menerbitkan surat edaran kepada perguruan tinggi di Yogyakarta. Melalui kebijakan tersebut, perguruan tinggi diminta memberikan kelonggaran biaya pendidikan bagi mahasiswa NTT yang terdampak bencana.
Pemda DIY juga masih melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah mahasiswa yang terdampak beserta kebutuhan mereka. Pendataan tersebut mencakup kemungkinan pemberian bantuan biaya hidup bagi mahasiswa yang membutuhkan.
Tidak hanya untuk mahasiswa, Pemda DIY juga menyiapkan bantuan keuangan tanggap darurat sebesar Rp1 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT. Bantuan tersebut dilengkapi obat-obatan dan perbekalan kesehatan senilai sekitar Rp38,48 juta.
Dukungan kesehatan juga dilakukan melalui kolaborasi sejumlah lembaga, di antaranya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), FK-KMK UGM, JNE, dan YEU.
Solidaritas juga datang dari sektor jasa keuangan di Yogyakarta. Sejumlah lembaga, yakni Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FKIJK, dan BPD DIY, menghimpun bantuan sebesar Rp90 juta untuk disalurkan melalui Baznas. Sementara ASN Pemda DIY memberikan donasi awal sebesar Rp10 juta melalui Baznas.
Pemda DIY juga memberikan bantuan pangan kepada mahasiswa NTT yang tinggal di asrama. Bantuan tersebut berupa beras sebanyak 405 kilogram per bulan, telur, dan mi instan yang diberikan hingga Desember 2026.
Sri Sultan mengatakan berbagai bentuk bantuan tersebut merupakan hasil konsolidasi berbagai unsur di Yogyakarta. Menurut dia, penanganan dampak bencana membutuhkan keguyuban dan kerja bersama, bukan hanya mengandalkan pemerintah daerah.
“Jadi saya kira ini lebih guyub kita mencoba mengkonsolidasikan bantuan pada wilayah yang memang terjadi gempa,” kata Sri Sultan.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat NTT meskipun belum tentu mampu memenuhi seluruh kebutuhan korban di lokasi bencana.
“Semoga saja dari bantuan ini ya ada manfaatnya biarpun mungkin tidak memenuhi kebutuhan yang memang dibutuhkan,” ujar Sri Sultan.
Sementara itu, Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi NTT Florida Taty Satyawati menyampaikan apresiasi kepada Pemda DIY atas perhatian yang diberikan. Ia menyebut DIY sebagai provinsi pertama yang memberikan bantuan khusus kepada mahasiswa NTT, terutama untuk kebutuhan biaya hidup.
“Kami mewakili Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh masyarakat NTT mengucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi DIY,” kata Florida.
Menurut Florida, kebutuhan masyarakat NTT saat ini masih berfokus pada penanganan tanggap darurat. Beberapa kebutuhan yang mendesak antara lain tenaga kesehatan, tenda, serta makanan siap saji.
Berdasarkan data per 18 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, korban meninggal dunia akibat gempa tercatat sebanyak 70 orang. Sejumlah wilayah turut terdampak, termasuk Ruteng dan Nagekeo.
Kepedulian Pemda DIY terhadap korban gempa NTT sekaligus menunjukkan bahwa warisan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Tradisi membantu masyarakat dan mahasiswa dari daerah yang dilanda bencana kembali diteruskan melalui kebijakan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Di tengah bencana yang melanda wilayah yang jauh dari Yogyakarta, solidaritas tersebut menjadi bentuk nyata bahwa kepedulian kemanusiaan tidak dibatasi oleh jarak maupun batas administratif.
Penulis : Wail Arrifki









