SUMENEP, NOLESA.COM – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep menggelar refleksi 30 tahun Peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) dengan mengadakan doa bersama di halaman Kantor DPC PDI Perjuangan, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Senin malam, 27 Juli 2026.
Kegiatan diawali dengan penyerahan santunan kepada anak-anak, kemudian dilanjutkan tahlil dan doa bersama yang diikuti pengurus, kader, serta sejumlah tokoh masyarakat. Suasana berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu peristiwa bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan PDI Perjuangan.
Peringatan tersebut turut dihadiri Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sumenep Dr. Zainuddin, budayawan, organisasi kepemudaan, serta jajaran pengurus dan kader PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, mengatakan refleksi Kudatuli bukan sekadar agenda rutin tahunan. Menurutnya, peristiwa yang terjadi tiga dekade lalu memiliki makna mendalam karena menjadi bagian dari sejarah perjuangan demokrasi sekaligus tonggak perjalanan lahir dan berkembangnya PDI Perjuangan.
“Peristiwa Kudatuli mengajarkan bahwa perjuangan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Sejarah itu menjadi pengingat bahwa kader PDI Perjuangan harus tetap teguh memegang nilai-nilai perjuangan, meski menghadapi berbagai tantangan,” ujar Fauzi.
Bupati Sumenep itu menegaskan, semangat Kudatuli harus terus dijaga sebagai simbol keberanian dalam mempertahankan idealisme, membela kebenaran, dan tetap berpihak kepada rakyat kecil. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus menjadi pegangan seluruh kader dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Fauzi, sejarah Kudatuli tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi harus menjadi inspirasi dalam mewujudkan kerja-kerja politik yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
“Semangat Kudatuli harus hidup dalam setiap langkah pengabdian. Kader PDI Perjuangan harus hadir di tengah masyarakat, menjadi pelayan rakyat, serta menjadi garda terdepan dalam membela wong cilik,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh kader memperingati refleksi Kudatuli sebagai momentum mempererat soliditas organisasi, memperkuat komitmen terhadap ideologi partai, serta melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu demi kepentingan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan orasi kebangsaan yang disampaikan Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep, Darul Hasyim Fath. Dalam orasinya, ia mengajak seluruh kader untuk terus menjaga api perjuangan, merawat nilai-nilai ideologi partai, dan mengabdikan diri kepada masyarakat dengan semangat Kudatuli yang tetap menyala. (*)
Penulis : Rusydiyono









