Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang

Redaksi Nolesa

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Laras Ika Fadhila

RESENSI, NOLESA.COM – Novel The Biscuits karya Kim Sunmi merupakan novel terjemahan asal Korea Selatan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dian Susanti. Kim Sunmi dikenal sebagai penulis yang pernah meraih Excellence Award dalam kategori cerita pada Korea Content Awards tahun 2022.

Novel ini memiliki keunikan yang berbeda dari novel remaja pada umumnya karena mengangkat tema kesehatan mental, kesepian, dan perasaan tidak dianggap oleh lingkungan sekitar. Penulis menggunakan istilah “Biskuit” untuk menggambarkan orang-orang yang perlahan kehilangan keberadaannya akibat terlalu sering diabaikan dan diremehkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Walaupun konsepnya fantasi, masalah yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembaca dapat memahami perasaan para tokohnya dengan mudah. Gaya penulisan Kim Sunmi juga sederhana dan tidak berlebihan, tetapi tetap mampu menyampaikan emosi dengan baik sehingga pembaca bisa ikut merasakan kecemasan, kesedihan, dan rasa kesepian yang dialami tokoh-tokohnya.

Fenomena biskuit dalam novel ini digambarkan sebagai kondisi ketika seseorang perlahan kehilangan eksistensinya karena rasa percaya diri dan harga dirinya terus menurun. Orang-orang yang menjadi biskuit merasa dirinya tidak penting, tidak dihargai, bahkan menganggap keberadaannya tidak berarti bagi siapa pun.

Dalam cerita ini mereka digambarkan menjadi samar hingga perlahan menghilang. Meskipun di kehidupan nyata seseorang tentu tidak berubah transparan seperti dalam novel, sebenarnya kondisi seperti ini memang ada di sekitar kita. Ada orang yang keberadaannya sering tidak disadari karena terlalu pendiam, tertutup, atau selalu merasa rendah diri akibat tekanan sosial dan perlakuan lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Menyibak Akar Kehidupan Tanah Madura

Melalui novel ini penulis ingin menunjukkan bahwa seseorang tetap berharga dan pantas dihargai. Salah satu cara untuk melawan kondisi tersebut adalah dengan belajar menerima diri sendiri dan tidak terus-menerus memikirkan penilaian orang lain selama tidak melanggar norma maupun aturan.

Data buku

Cerita dalam novel ini berpusat pada Seong Jesung, remaja 17 tahun yang memiliki gangguan pendengaran berupa OCD suara, hiperakusis, dan fonofobia. Kondisi tersebut membuat pendengarannya menjadi sangat sensitif hingga ia mampu mendengar suara-suara kecil yang tidak disadari orang lain.

Karena kemampuannya itu, Jesung dapat mendeteksi keberadaan para biskuit. Suatu hari saat menginap di vila bibinya, Jesung mendengar suara tangisan dari rumah tetangga di lantai atas. Ia yakin suara tersebut berasal dari seorang biskuit yang sedang berada dalam kondisi berbahaya.

Namun saat polisi melakukan pemeriksaan, tidak ditemukan siapa pun di rumah itu. Jesung tetap percaya bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongan sehingga ia memutuskan mencari tahu bersama dua temannya, Hyojin dan Deokhwan. Dari situlah petualangan mereka dimulai untuk menyelamatkan orang-orang yang hampir menghilang akibat kesepian, perundungan, kurang perhatian keluarga, dan berbagai masalah yang mereka pendam sendiri.

Novel ini memakai alur maju sehingga jalan ceritanya mudah dipahami. Cerita dimulai dari pengenalan kondisi Jesung lalu berkembang ketika ia mulai menemukan para biskuit di sekitarnya. Semakin lama konflik dalam cerita semakin terasa emosional karena pembaca diperlihatkan berbagai latar belakang tokoh yang membuat mereka menjadi biskuit.

Baca Juga :  Di Balik Negeri Bertopeng Bahagia

Ada yang merasa diabaikan keluarga, dirundung di lingkungan kerja, hingga memendam kesedihan terlalu lama sendirian. Penulis berhasil membuat cerita terasa hidup karena emosi para tokohnya dapat dirasakan dengan jelas oleh pembaca. Salah satu kutipan yang menggambarkan kondisi tersebut adalah, “Keberadaan mereka perlahan memudar sampai

akhirnya tidak ada seorang pun yang menyadarinya.” Kutipan itu menunjukkan bagaimana seseorang bisa merasa hilang akibat terlalu sering diremehkan dan diabaikan oleh lingkungan sekitarnya.

Kelebihan novel ini terletak pada konsep ceritanya yang unik dan jarang ditemukan di novel lain. Penulis mampu menggabungkan unsur fantasi dengan masalah sosial yang realistis sehingga cerita terasa menarik sekaligus menyentuh. Hubungan pertemanan Jesung, Hyojin, dan Deokhwan juga membuat cerita terasa hangat.

Selain itu, novel ini sangat memainkan emosi pembaca. Beberapa tokoh dibuat begitu menyebalkan hingga pembaca ikut merasa kesal terhadap sikap mereka. Orang tua penghuni lantai atas apartemen Jesung misalnya, bukannya meminta maaf karena membuat keributan tetapi malah menyalahkan orang lain dan mencari pembelaan.

Sikap ayah Jesung juga membuat emosi karena ia sering memarahi Jesung meskipun mengetahui kondisi mental anaknya. Hal-hal seperti itu membuat cerita terasa lebih nyata dan tidak datar. Meskipun begitu, novel ini tetap memiliki beberapa kekurangan. Ada beberapa bagian cerita yang terasa terlalu cepat sehingga konflik tertentu belum dijelaskan secara mendalam.

Baca Juga :  Teka-teki Kematian Aksara Berdarah

Penjelasan mengenai dunia “Biskuit” juga masih terasa kurang detail sehingga pembaca mungkin masih memiliki beberapa pertanyaan tentang fenomena tersebut. Selain itu, ending cerita terasa sedikit menggantung karena masih ada beberapa hal yang belum dijelaskan sepenuhnya. Namun kekurangan tersebut tidak terlalu mengurangi keseruan cerita secara keseluruhan.

Bahasa yang digunakan dalam novel ini ringan dan mudah dipahami sehingga cocok dibaca remaja. Dialog antar tokohnya terasa alami seperti percakapan sehari-hari sehingga cerita tidak terasa kaku. Penulis juga tidak memakai banyak istilah yang sulit sehingga pembaca dapat mengikuti alur cerita dengan nyaman.

Penyampaian emosinya juga terasa kuat terutama pada bagian yang membahas kesepian, rasa takut diabaikan, dan hubungan antar tokohnya. Karena itulah novel ini tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca lebih memahami pentingnya perhatian dan kepedulian terhadap orang lain.

Novel The Biscuits karya Kim Sunmi sangat direkomendasikan untuk dibaca terutama oleh remaja dan pelajar karena novel ini tidak hanya menghadirkan cerita fantasi yang unik, tetapi juga mengangkat masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti kesepian, rasa rendah diri, dan pentingnya perhatian dari orang-orang sekitar. Alur ceritanya menarik, bahasanya mudah dipahami, serta pesan yang disampaikan juga bermakna sehingga melalui

kisah para biskuit pembaca diajak untuk lebih menghargai diri sendiri dan lebih peduli terhadap orang lain agar tidak ada yang merasa sendirian atau diabaikan.

*) Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan
Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame
Impian di Tengah Finansial Kaum Menengah
Manifestasi Martabat Perempuan yang Terbungkus Tradisi
The Life That’s Waiting: untuk Jiwa yang Sedang Lelah
Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam
You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati
Cinta dan Kasih Sayang ala Nabi, Pondasi Meminimalisir Keretakan Rumah Tangga

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:40 WIB

Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:44 WIB

Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:51 WIB

Impian di Tengah Finansial Kaum Menengah

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:35 WIB

Manifestasi Martabat Perempuan yang Terbungkus Tradisi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 23:14 WIB

The Life That’s Waiting: untuk Jiwa yang Sedang Lelah

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Esai

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Jun 2026 - 18:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Jantung Batik Solo

Kamis, 4 Jun 2026 - 17:44 WIB

(for NOLESA.COM)

Resensi Buku

Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang

Kamis, 4 Jun 2026 - 16:40 WIB