Oleh | Lintang Elnia Putri
RESENSI, NOLESA.COM – Tere liye merupakan seorang penulis kondang asal Indonesia yang lahir pada 21 Mei 1979 di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tere liye memulai karirnya sebagai penulis pada tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu “Hafalan Shalat Delisa” yang langsung banjir perhatian dari masyarakat hingga terbit menjadi sebuah film.
Pada tahun 2021, tere liye menerbitkan satu novel kondang dengan alur cerita yang sangat plot twist dan sangat menyentuh hati, novel ini berjudul “Janji”. Bukan sekedar suatu cerita tentang janji yang harus ditepati, tapi tentang keteguhan hati, Amanah, Ikhlas yang Panjang, dan tegar ketika menghadapi bengisnya dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Novel janji menjadi salah satu novel legendaris yang masih banyak dibahas di media sosial oleh para penikmat buku cerita. Cerita ini berawal ketika tiga orang santri dengan kelakuanya yang sangat nakal membuat seorang kiai di pondok pesantren geleng-geleng kepala.
Hingga suatu ketika, kiai atau yang biasa disapa buya ini memerintahkan tiga orang santri nakal tersebut untuk mencari seseorang bernama Bahar. Berhari-hari mereka mencari, namun tak kunjung dapat. Berbulan-bulan mereka mencari, hanya dapat satu atau dua informasi kecil tentang keberadaan bahar.
Namun, dari potongan-potongan kecil itulah, ketiga santri tersebut akhirnya sampai pada titik terakhir cerita, dan mengetahui siapa bahar sebenarnya.
Bahar Safar atau akrab disapa Bahar, yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini dikenal sebagai orang yang sangat nakal. Hingga suatu ketika, neneknya menitipkan Bahar di sebuah pondok pesantren dengan harapan bahar dapat menjadi pribadi lebih baik lagi, disinilah kisah bahar bermula.
Di pesantren, Bahar dianggap sebagai anak berandalan, berbagai tindak kenakalan pernah ia lakukan. Hingga puncaknya, Bahar dituding membakar pesantren dan menewaskan satu orang santri disana. Perkara inilah yang membuat bahar akhirnya keluar dari pesantren.
Kehidupan bahar diluar pesantren tak berjalan baik, ia berteman dengan preman, penjudi, pemabuk dan sejenisnya. Bahar juga merupakan seorang pemabuk berat, suka bertengkar, hingga dianggap preman pasar.
Kehidupan bahar berjalan kacau, bahkan ia sempat mendekam di penjara bertahun-tahun. Penggambaran karakter bahar di awal cerita membuat pembaca bertanya-tanya, bagaimana Bahar bisa senakal dan sejahat itu?
Namun, hal paling menakjubkan dari cerita ini adalah bagaimana plot twist dari karakter seorang Bahar Safar. Bahar yang dianggap pendosa besar karena mabuk, suka bertengkar, preman pasar dan sebagainya ternyata merupakan sosok yang sangat tulus, ikhlas, dan suka membantu sesama tanpa pamrih sedikit pun.
Di pasar dimana Bahar dianggap sebagai seorang preman, ternyata dari situlah cara Bahar melindungi pedagang-pedagang yang tertindas. Di tempat judi dimana Bahar selalu mabuk, disitulah tempatnya melindungi para wanita.
Di penjara yang gelap dan menakutkan, disitulah Bahar membela temanya dengan kesalahan yang tak pernah ia lakukan dan membela penjahat-penjahat kecil yang lemah.
Tanpa kita sadari sebelumnya, ternyata sosok Bahar yang berandalan sangat berbeda jauh dengan ketulusan hatinya. Ternyata, selama ini Bahar Safar memegang teguh janjinya kepada sang kiai. Janji tersebut merupakan lima pusaka yang harus Bahar lakukan dalam hidupnya,
Pertama, selalu hormati dan bantu tetanggamu.
Kedua, selalu lindungi yang lemah dan teraniaya.
Ketiga, senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri.
Keempat, bersabarlah atas apapun ujianmu.
Kelima, bersedekah, bersedekah, dan bersedekahlah.
Meskipun Bahar merupakan seorang berandalan dan pemabuk berat, ternyata kelima pusaka amanat sang kiai selalu Bahar pegang hingga akhir hayatnya. Hidup Bahar yang terombang-ambing tak membuat ia menyerah.
Bahar pernah kehilangan teman baiknya saat bekerja di suatu pertambangan karena terjebak hingga kehabisan oksigen, Bahar juga pernah kehilangan istri tercintanya, Delima, akibat kebakaran hebat.
Namun di tengah segala kerumitan dan ujian, Bahar selalu bangkit. Di tengah ujian ekonomi yang kacau, Bahar tak lupa bersedekah, di tengah keadaan yang membuatnya tak berdaya, Bahar tetap melindungi yang lemah. Hingga pada akhirnya setelah Delima meninggal, Bahar Safar tetap melanjutkan hidupnya dengan membuka warung makan dengan nama “Delima”. Warung itulah yang menjadi sumber kehidupan Bahar Safar hingga akhirnya bertemu sang kuasa.
Dari kisah seorang Bahar Safar, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Dari Bahar Safar, kita dapat belajar bahwa berbuat baik tak harus menunggu kita suci, berbuat baik tak harus menunggu kita kaya, dan berbuat baik tak harus menunggu kita siap. Apapun itu, tetaplah berbuat baik. Sebejat apapun kita, tetaplah berbuat baik. Hiduplah dengan menjadi orang yang berguna bagi sesama. Peganglah lima pusaka itu dengan teguh. Maka dengan begitu, hidup akan mengajarkan kita banyak hal yang tak pernah disangka sebelumnya. (*)
*) Mahasiswi Universitas Sebelas Maret yang sedang menempuh program studi Pendidikan Geografi









