Oleh | Nailla Marsela Salsabela Vebriyanti
OPINI, NOLESA.COM – Kita sedang hidup di masa ketika kecerdasan buatan tidak lagi menjadi wacana masa depan melainkan realitas sehari-hari. Kehadirannya menjanjikan kemudahan, efisiensi, dan percepatan di berbagai bidang.
Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang perlahan tumbuh terutama di kalangan generasi muda. Mereka menyaksikan perubahan yang begitu cepat sementara kepastian tentang masa depan terasa semakin kabur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sulit dimungkiri bahwa AI telah mengubah cara kita belajar, bekerja, dan berinteraksi. Tugas yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Di satu sisi ini adalah kemajuan.
Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar jika mesin dapat melakukan hampir segalanya, di mana posisi manusia? Pertanyaan inilah yang menjadi sumber kecemasan generasi hari ini.
Kecemasan generasi muda terhadap AI bukan sekadar ketakutan berlebihan melainkan respons terhadap perubahan yang terasa tak terkendali. Dunia kerja berubah sebelum sistem pendidikan sempat menyesuaikan diri.
Standar keterampilan terus bergeser sementara tuntutan untuk selalu relevan semakin tinggi. Dalam situasi seperti ini, wajar jika banyak anak muda merasa sedang berdiri di bawah bayang-bayang teknologi yang terus membesar.
Penggunaan AI ternyata belum dibarengi dengan literasi AI. APJII dalam surveinya mengungkap bahwa skor literasi AI masih 49,96. Skor ini menunjukkan bahwa masyarakat masih berada pada kategori kurang baik dan belum cukup siap untuk menghadapi perkembangan teknologi secara optimal.
Survei Sharing Vision pada pertengahan 2025 juga mendapati hal serupa. Meski 99,8 persen pengguna internet Indonesia sudah tahu tentang AI hanya 50 persen dari mereka yang benar-benar mengintegrasikannya dalam aktivitas sehari-hari.
Generasi sekarang tumbuh dalam era di mana kecerdasan buatan AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mulai dari aplikasi belajar, rekomendasi konten, hingga alat kerja otomatis. Meski banyak yang terbantu, data survei menunjukkan bahwa kecemasan terhadap masa depan pekerjaan dan peran manusia tidak bisa diabaikan.
Misalnya, lebih dari setengah generasi muda percaya AI akan mengancam prospek kerja mereka, dan banyak yang merasa ketidakpastian ini lebih menakutkan daripada menarik. Ketergantungan pada teknologi yang terus berkembang tanpa kepastian akan dampaknya membuat banyak remaja dan dewasa muda merasa terombang-ambing antara peluang dan kekhawatiran. (*)
*) Mahasiswi semester 6 S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa,Seni,dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta









