Desa Tangguh Bencana: Membangun Harmoni dengan Bencana

Redaksi Nolesa

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Bulan November 2025 kemarin, saya bersama tim BPBD Sumenep dan teman-teman FPRB Jawa Timur melakukan safari pembentukan desa tangguh bencana di pulau Sepudi. Ada dua kecamatan di sana: Kecamatan Gayam dan Nonggunong. Kegiatan ini sebagai upaya membangun ketangguhan desa di kepulauan, karena pulau Sepudi sangat rentan dengan bencana gempa bumi, di samping potensi ancaman bencana yang lain, seperti angin puting beliung, abrasi pantai, cuaca ekstrem, kekeringan dll.

Sasaran yang menjadi fokus pembentukan desa tangguh bencana ini adalah desa-desa yang paling terdampak gempa yang terjadi akhir September 2025: Desa Prambanan, Jambuwir, Desa Gayam Kecamatan Gayam dan Desa Sokaramme Paseser Kecamatan Nongunong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai wilayah kepulauan, Sepudi memiliki keterbatasan akses terhadap sumber daya, fasilitas kesehatan, dan sarana evakuasi saat terjadi bencana. Ketergantungan masyarakat pada sektor kelautan dan pertanian juga membuat dampak bencana semakin besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengurangan risiko bencana.

Baca Juga :  Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd

Dalam konteks ini, desa merupakan unit terkecil dalam sistem pemerintahan, namun memiliki peran besar dalam upaya pengurangan risiko bencana. Masyarakat desa adalah pihak pertama yang merasakan dampak bencana sekaligus pihak pertama yang melakukan respons. Ketangguhan desa tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur yang kuat, tetapi juga oleh kesiapan sosial, pengetahuan masyarakat, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan.

Membangun ketangguhan desa berarti memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengenali ancaman, mengurangi kerentanan, dan meningkatkan kemampuan menghadapi bencana. Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi korban, tetapi juga menjadi subjek utama dalam pengelolaan risiko bencana.

Salah satu kekuatan desa dalam menghadapi bencana adalah kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Banyak masyarakat desa yang memiliki pengetahuan tradisional terkait tanda-tanda alam, pola cuaca, hingga cara bertahan saat bencana terjadi. Kearifan lokal ini perlu dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern agar menjadi strategi mitigasi yang lebih efektif.

Baca Juga :  Demokrasi dan Politik Hijau

Edukasi dan pelatihan kebencanaan juga menjadi kunci penting. Melalui simulasi bencana, penyusunan peta rawan bencana, serta pembentukan kelompok siaga bencana desa, masyarakat dapat lebih siap dan tanggap. Pengetahuan yang baik akan mengurangi kepanikan dan meminimalkan dampak kerugian, baik jiwa maupun harta benda.

Ketangguhan desa juga ditopang oleh pembangunan infrastruktur yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana. Rumah tahan gempa, sistem drainase yang baik, jalur evakuasi yang jelas, serta tempat pengungsian yang layak merupakan contoh upaya nyata yang dapat dilakukan di tingkat desa.

Selain itu, menjaga keseimbangan lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun harmoni dengan bencana. Pengelolaan hutan desa, pelestarian daerah resapan air, serta pengelolaan sampah yang baik dapat mengurangi risiko banjir dan tanah longsor. Dengan memperlakukan alam secara bijak, desa tidak hanya melindungi lingkungannya, tetapi juga melindungi warganya.

Di perspektif ini, membangun ketangguhan desa, secara substantif sejatiya membangun harmoni dengan bencana di tengah masyarakat. Artinya, bahwa membangun harmoni dengan bencana bukan berarti pasrah, melainkan menerima kenyataan bahwa bencana adalah bagian dari dinamika alam. Pendekatan ini menekankan pada kesiapsiagaan, adaptasi, dan hidup berdampingan secara bijaksana dengan risiko yang ada.

Baca Juga :  Dirgahayu Bangsaku!

Desa yang harmonis dengan bencana adalah desa yang mampu bangkit dengan cepat setelah bencana terjadi. Solidaritas sosial, gotong royong, dan kepemimpinan lokal yang kuat menjadi modal utama dalam proses pemulihan. Nilai-nilai kebersamaan inilah yang menjadikan desa lebih tangguh dan resilient.

Upaya membangun ketangguhan desa memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta. Dukungan kebijakan, pendanaan, serta pendampingan yang berkelanjutan akan memperkuat kapasitas desa dalam menghadapi bencana.

Pada akhirnya, membangun ketangguhan desa adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan desa yang tangguh, Indonesia dapat membangun harmoni dengan bencana, mengurangi risiko, serta menciptakan kehidupan yang lebih aman, berkelanjutan, dan bermartabat bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Semoga!

*) Sekretaris BPBD Sumenep

Berita Terkait

Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan
Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:39 WIB

Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:48 WIB

ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:57 WIB

Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Berita Terbaru