Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Ada fenomena menarik, ketika saya diundang UPI Sumenep untuk mengikuti FGD Penyusunan Visi dan Misi FKIP UPI Sumenep. Di sela-sela diskusi, teman saya yang mantan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) mengingatkan saya tentang Hari Ayah. Dia menunjukkan postingan foto temannya—dua orang yang memakai kaos sama dengan tulisan besar di dada: “Duta Ayah”. Saya baru ingat bahwa hari itu tanggal 12 November. Hari yang sebagian orang “merayakannya” sebagai Hari Ayah Nasional.
Saya hanya tersenyum. Namun, beberapa saat kemudian banyak hal berkecamuk dan memenuhi isi kepala saya. Ya, terutama seputar fenomena ayah dan kedekatannya dengan anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Diakui bahwa di banyak ruang keluarga, ayah sering hadir sebagai sosok yang bekerja keras, menyediakan kebutuhan, dan memastikan stabilitas. Namun tidak jarang, kehadiran fisiknya tidak diikuti oleh kehadiran emosional.
Di antara tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, dan budaya yang menempatkan ayah lebih sebagai pencari nafkah ketimbang pengasuh, terciptalah jarak yang pelan namun pasti melebar antara ayah dan anak. Dari kegelisahan inilah gagasan Duta Ayah menemukan relevansinya.
Duta Ayah bukan gelar simbolik, bukan pula program formal yang sekadar menambah atribut di dada. Ia adalah konsep gerakan moral—ajakan bagi kaum ayah agar menjadi jembatan kedekatan, keamanan emosional, dan inspirasi bagi anak-anaknya.
Duta Ayah adalah peran representatif. Artinya, seorang ayah yang mendemonstrasikan nilai-nilai pengasuhan positif, mencontohkan kehangatan, dan menunjukkan bahwa kedekatan emosional tidak akan pernah mengurangi kewibawaan, tetapi justru menguatkannya.
Peran ini mendorong ayah untuk hadir secara sadar dalam interaksi bersama anak. Ia perlu menjadi sumber dukungan emosional, bukan sekadar sumber finansial. Ia juga sebenarnya adalah teladan perilaku, etika, dan integritas, seingga menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh, bertanya, dan bercerita. Maka,di sinilah ia bisa membagi narasi hidup, nilai, dan pengalaman sebagai bekal psikologis pada anak.
Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa kedekatan anak pada ayah itu penting? Karena menurut beberapa studi psikologi perkembangan dipahami bahwa kedekatan dengan ayah memiliki dampak yang berbeda namun saling melengkapi dengan kedekatan ibu. Anak yang tumbuh dekat dengan ayah cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik. Pada ranah ini terlihat bahwa eksistensi ayah telah lama diidentikkan dengan kekuatan, sehingga sentuhan empati dari ayah memberi pesan kuat bahwa emosi tidak harus ditutupi, tetapi dapat diolah.
Anak juga akan memiliki rasa percaya diri lebih tinggi ketika dekat dengan ayahnya. Hal ini bisa dipahami dari satu fakta bahwa keterlibatan ayah dalam permainan, tantangan fisik, maupun keputusan-keputusan kecil dalam hidup anak berkontribusi pada kemampuan anak mengambil risiko secara sehat.
Selain itu, identitas diri anak akan lebih terarah. Kedekatan ayah pada anak memanglah niscaya. Mereka—baik anak laki-laki maupun perempuan—membutuhkan figur ayah untuk mengintegrasikan nilai diri, memahami relasi, dan membangun karakter.
Di sisi lain, kedekatan ayah dengan anak akan membangun ketahanan psikologis yang lebih kokoh. Ayah yang dekat menciptakan fondasi aman yang memungkinkan anak menghadapi stres dan kegagalan tanpa merasa terancam.
Namun demikian, kehadiran ayah, buka sekadar ayah yang ada di rumah. Artinya, kedekatan tidak hanya ditentukan oleh frekuensi berada di bawah satu atap saja, tetapi oleh kualitas interaksi. Lima menit mendengar dengan tulus lebih berharga daripada satu jam hadir tanpa hati.
Maka, kehadiran ayah adalah ia yang menyapaanak sepulang kerja, bukan hanya menanyakan PR saja. Ia hadir mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi. Ia pun hadir dan mengajak bermain, bukan hanya mengawasi. Bahkan, ia akan selalu mengucapkan “maaf” dan “terima kasih” pada anak, karena ini adalah bentuk kerendahan hati, bukan kelemahan. Ditambah juga dengan membiarkan anak melihat sisi rentan dirinya sehingga anak belajar bahwa manusiawi itu tidak salah.
Selama ini peran ayah sering terbatasi narasi lama: “yang penting bekerja,” “yang penting menafkahi,” “yang penting tegas.” Padahal, generasi hari ini membutuhkan ayah yang juga merangkul, memahami, dan mendampingi. Gerakan Duta Ayah hadir sebagai upaya menggeser narasi tersebut, bahwa kehadiran emosional ayah adalah bagian tak terpisahkan dari pengasuhan modern.
Eksistensi seorang ayah didorong untuk lebih hadir dalam sisi substantif. Mereka perlu menghapus stigma bahwa kasih sayang adalah ranah ibu. Ayah juga perlu menjadi model hubungan sehat antara laki-laki dan peran pengasuhan. Ia mengajarkan empati melalui tindakan, bukan hanya nasihat, dan menunjukkan bahwa ketangguhan dipadukan dengan kelembutan menghasilkan sosok ayah yang lengkap.
Realitas ini perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menjadi kegelisahan yang dijadikan jargon di Hari Ayah saja. Artinya, menjadi Duta Ayah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah keniscayaan. Tidak perlu panggung, penghargaan, atau seremoni.
Setiap ayah dapat memulai dari langkah-langkah sederhana yang berdampak besar misalnya dengan membaca buku bersama anak. Atau, dengan mengantar anak ke sekolah meski hanya seminggu sekali. Bisa juga dengan menemani anak mengerjakan tugas sambil menceritakan pengalaman masa kecil. Ayah juga bisa mengajak berdiskusi sambil menghargai pendapat anak sebagai manusia yang utuh, sehingga pada akhirnya ia akan menjadi “tempat pulang” ketika anak menghadapi masalah.
Pada akhirnya, Duta Ayah adalah upaya mengembalikan ayah pada posisi terhormat sebagai “rumah emosional” bagi anak. Rumah yang penuh ketegasan, tetapi hangat; kokoh, tetapi memeluk; kuat, tetapi tidak kering dari kasih. Karena pada diri seorang ayah yang hadir, anak belajar tentang keberanian, harapan, dan bagaimana menghadapi dunia dengan jiwa yang tidak patah. Maka, di mata seorang anak, ayah yang dekat bukan hanya pahlawan—tetapi juga cahaya yang tak pernah padam di sepanjang hidupnya. Semoga!
*) Pembina Komunitas Kata Bintang










