Quo Vadis Sumenepku?

Redaksi Nolesa

Sabtu, 1 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh | Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Sebelum Upacara Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep, 31 Oktober 2025, pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025, telah dilangsungkan Prosesi Arya Wiraraja.

Prosesi ini adalah penanda tradisi bersejarah yang menjadi puncak refleksi dalam rangka Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Event ini bukan sekadar upacara adat, melainkan momentum strategis untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan, kepemimpinan, dan cinta tanah kelahiran.

Dipahami bahwa tujuh setengah abad bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang 756 tahun, Sumenep telah melewati berbagai babak sejarah—dari masa kerajaan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, hingga era modern yang serba cepat.

Di setiap zamannya, Sumenep menorehkan kisah tentang kebijaksanaan, keuletan, dan semangat religius yang menjadi identitas masyarakatnya.

Sumenep bukan sekadar nama kabupaten di ujung timur Pulau Madura. Ia adalah jejak peradaban yang hidup. Sumenep telah menjelma wadah “perjumpaan” budaya dan agama dalam harmoni: dari Keraton Sumenep yang megah hingga langgar di kampung-kampung kecil; dari tradisi keris dan topeng hingga lantunan selawat di pesantren. Ya, di sini juga tersimpan kekayaan nilai yang tak ternilai, dan dari sinilah akar jati diri itu tumbuh.

Baca Juga :  Prinsip Etika

Sejak masa Arya Wiraraja, Sumenep telah dikenal sebagai pusat kebijaksanaan dan pemerintahan yang beradab. Jejak sejarah itu bukan sekadar catatan di dinding keraton, melainkan fondasi moral bagi masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, gotong royong, dan kejujuran menjadi roh kehidupan sosial yang menuntun arah pembangunan hingga hari ini.

Sumenep adalah sebuah nama yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menuturkan peradaban yang sarat nilai. Di usianya yang ke-756 tahun, Sumenep telah menjadi saksi perjalanan panjang bangsa ini—dari masa kerajaan hingga zaman digital, dari peradaban agraris hingga era informasi. Bahkan, di tengah arus perubahan yang deras, Sumenep ternyata tetap berdiri teguh dengan akar budayanya yang kokoh.

Baca Juga :  Ketika Sarjana Pendidikan Pindah Haluan

Namun, di usia yang semakin matang ini, muncul pertanyaan reflektif: “Quo Vadis Sumenep-ku?”, ke mana arah langkah Sumenep hari ini?

Apakah kemajuan teknologi dan perubahan zaman masih sejalan dengan ruh kebudayaan dan spiritualitas yang diwariskan para leluhur? Apakah generasi mudanya masih mengenal sejarah dan mencintai tanah kelahirannya? Beragam pertanyaan ini muncul dan mengisi ruang psikologis saya.

Tantangan masa kini menuntut Sumenep untuk bertransformasi tanpa kehilangan jati diri. Pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan moral dan budaya. Literasi, pendidikan, dan partisipasi generasi muda menjadi kunci untuk memastikan bahwa Sumenep tidak sekadar “tua dalam usia”, tetapi dewasa dalam peradaban.

Hari Jadi ke-756 bukan hanya ajang perayaan, melainkan momentum kontemplasi: bagaimana kita, anak-anak Sumenep, melanjutkan estafet sejarah dengan karya dan pengabdian. Dari warisan Arya Wiraraja hingga semangat generasi muta’akhkhirin, Sumenep harus terus menjadi tanah yang menumbuhkan kebijaksanaan, inovasi, dan kemanusiaan. Semoga Sumenep tetap teguh menjaga akar tradisi, terbuka terhadap kemajuan, dan mampu melangkah pasti menuju masa depan yang berdaulat, berbudaya, dan sejahtera.

Baca Juga :  Cyber Sextortion: Apa dan Bagaimana pada Perempuan?

Kemajuan zaman akan selalu menghadirkan tantangan baru. Nilai-nilai luhur yang ada di Sumenep sangat potensial tergerus oleh modernitas yang serba cepat dan pragmatis. Maka, di sinilah generasi muda Sumenep hari ini perlu membangun kesadaran bahwa kita tidak hanya sekadar menikmati kemajuan, tetapi juga penting untuk merawat nilai yang ada. Kemajuan tanpa nilai hanyalah gerak tanpa arah; teknologi tanpa etika hanya meninggalkan jejak, bukan makna.

Selamat Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep!

*) Pembina Komunitas Kata Bintang

Berita Terkait

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:58 WIB

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Berita Terbaru