Puisi-puisi Khalil Satta Èlman

Redaksi Nolesa

Rabu, 9 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Asmaragama

yogya terlihat lebih anggun sehabis hujan

lampion menegaskan keberadaan di aspal jalan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

reklame-reklame memuat sejumlah harapan

kemudian kita dipertemukan oleh pohon pesan

yang menghijau. seperti kenangan

kau mengetuk pintu kamar

udara berhenti bergetar

malam semakin lunglai

disentuh kesedihan yang terbakar

aku tahu, barangkali kita tidak akan lagi bertemu

tapi sayap kupu-kupu di atas payudaramu itu

membawaku pada belantara lagu dangdut

whisky baru saja kau renggut. dari tanganku

tanganmu terus menjalar di leherku

jam dinding dan kelambu

tak memberi pernyataan apa-apa

selain getar bibirmu yang mustahil kulupa

:sudah berapa lelaki mengunyah tubuhmu?

tak ada bunga

atau ungkapan lebay menggema

tapi selintas mencintai bagian tubuhmu

yang entah bagian mana

tiba-tiba lidahku menjulur dari masa lalu

menjilati puting bulan

yang terikat di antara tiang ranjang

Kutub/Yogyakarta, 2025

Minggu Merah Jambu di Stasiun Tugu

memasuki gerbang stasiun,

ada yang perlahan mengelupas

mungkin semacam warna marun kesedihan

Baca Juga :  Selepas Tapa Brata Ibu Para Asura - Puisi Moehammad Abdoe

detak jam dan detak jantung sama tergesanya

bagaimana cara menyeka hujan dengan baik

setelah bunyi terompet

setelah getaran mungil pada atap peron

pada kursi tunggu yang setengah gigil ini

kita mesti saling merelakan, barangkali,

bahwa perpisahan merupakan komposisi terbaik

bagi lagu kerinduan yang menggema

sepanjang kesepian

kereta akan segera berangkat

kuwariskan semacam puisi berkarat

juga samsu yang memucat

esok hari, setelah di kota ini

bunyi gemelan raib

cinta menjadi aib

aku akan datang kembali

dengan kereta yang sama

juga kecupan yang sama

Kutub/Yogyakarta, 2025

Pledoi Rahwana

datanglah kepadaku wahai perempuan yang

di dadanya bertuliskan dendam kerinduanku

tanpa harus aku menculiknya.

ketololan kekasihmu terlalu sempurna

daripada kesetianku yang tiada padanannya

di tungku penantianku, bulan telah matang

datanglah kau sebelum petang hilang

atau pada sebuah malam, di teluknya rindu bersarang

tapi, wahai perempuan yang selalu menepis

anak panah yang berasal dari dasar dadaku.

katakan padaku, ketika kesunyian menebal

dan kerinduanku mengental

Baca Juga :  Puisi-Puisi De Eka Putrakha

apa yang belum malam ucapakan kepadamu

seusai rama menusukkan curiga

pada tubuh kesetiaanmu?

Yogyakarta 2025

Sebuah Surat Berbentuk Rumah

ini surat pertama sekaligus terakhir

yang sengaja kubaca

setelah kau berjalan ke arah yang berkabut

setelah hujan mulai berani membasahi kamar ini

pertengkaran adalah hal yang wajar

rindu memang kerap membikin detik kita memar

tapi pergi bukan jalan terbaik.

sekali lagi, pergi bukan jalan terbaik, katamu

aku tersenyum, ketika janji sangatlah sepele di tanganmu

tanpa melihat bagaimana sebuah puisi

merekam setiap gesekan angin pada helai-helai rambutmu

aku menulisnya penuh kehati-hatian

kesedihan melilit kakiku, sayang. kemudian

menjatuhkanku pada altar tahun-tahun kelabu

seperti surat yang berbentuk rumah ini

meski kebahagian dan kesedihan memang kuntum-kuntum nasib

di hadapan anak-anak kita bikin segala yang berbentuk derita itu raib,

tegasmu.

kemudian aku berhenti membaca surat itu

hujan semakin deras dalam kamarku

kokambar/yogyakarta, 2025

Yogya, Suatu Malam

perjalanan kita terjeda. rel bergetar. melintas sebuah kereta

perpisahan tak sepenuhnya membutuhkan air mata. tapi kurasa

Baca Juga :  Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

detak jam dan jantung sama tergesanya. stasiun tugu kulihat berbadai.

kesepian meranggas dari rambutmu. seperti daun-daun di taman ini

malam hanya enam jam. selebihnya, cinta yang gemetar di bibirmu

jalan memadat seperti kata-kata. tanpa satu pun jerit klakson. atau

sejumlah keloneng becak. gerimis kecil terus menyentuh bercak.

gedung-gedung semakin tinggi dan pandai bersolek sendiri

suara-suara mengikuti alun tembang kinanti di setiap sanubari

musik angklung mengguyur jogja. rupannya kesedihan pergi tergesa

kutub/yogyakarta, 2025

*Khalil Satta Èlman, lahir di Sumenep, Madura, 7 Mei 2003. Mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi dan prosa di pelbagai media cetak dan daring juga antologi bersama. Sekarang sedang merampungkan buku puisi keduanya sambil memangku Lembaga Kajian Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY). Bisa disapa di akun ig: @kapalangan_

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana
Puisi-puisi Dewis Pramanas

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB