Ketika Sarjana Pendidikan Pindah Haluan

Redaksi Nolesa

Selasa, 8 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Alifa Rahma Afiani

OPINI, NOLESA.COM – Untuk apa masuk prodi pendidikan kalau tidak jadi guru? Bayar kuliah mahal, kerja tidak sesuai passion? Sarjana pendidikan tidak menjadi guru adalah biasa di Indonesia. Tidak semua dari mereka tertarik menjadi guru. Gaji kecil menjadi pertimbangan utama. Lantas bagaimana dengan masa depan Indonesia?

Berdasar pada UUD 45, tugas mulia guru untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, apabila dilihat dari dulu hingga saat ini? Kemuliaan tugas guru tidak setara dengan imbalan yang didapatkan. Pengabdian mengajar bertahun-tahun menjadi syarat yang tidak masuk akal demi kenaikan golongan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak hanya itu, selain kewajiban mengajar, persyaratan administrasi yang dibebankan kepada guru tentu membuang-buang waktu dan tenaga. Guru menjadi tidak optimal dalam menjalankan tugas utamanya. Kesejahteraan guru masih menjadi hal yang harapan di negara ini, terlebih bagi para sarjana pendidikan.

Kekhawatiran para sarjana pendidikan akan masa depan menjadi hal yang cukup serius. Biaya pendidikan yang cukup besar, tidak sebanding dengan upah diperoleh guru. Kebimbangan ini terus menjadi masalah yang tidak kunjung usai.

Namun negara, seakan acuh tak acuh dengan apa yang terjadi. Terlebih menurunnya lapangan pekerjaan sebagai guru yang mematahkan peluang para sarjana pendidikan. Banyaknya kasus sarjana pendidikan yang tidak mendapatkan peluang kerja sesuai bidangnya. Hal ini menjadi sebab meningkatnya pengangguran bergelar sarjana di Indonesia.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tercatat 11,28% pengangguran merupakan lulusan sarjana. Perlombaan sengit dalam dunia kerja, menyebabkan beberapa lulusan sarjana bekerja tidak sesuai bidang pendidikan yang ditempuhnya. Hal seperti ini sudah sangat umum ditemui di Indonesia, terlebih sarjana pendidikan.

Kesulitan Karir

Profesi guru yang dianggap remeh oleh masyarakat. Memiliki penghasilan yang minim, menumbuhkan perspektif bahwa sarjana pendidikan tidak dapat bekerja diluar jangkauan sebagai pendidik. Nyatanya, saat ini tidak sedikit sarjana pendidikan yang berkerja di luar bidang pendidikan mereka.

Pada tahun 2010-2016 sarjana pendidikan yang berjumlah 1.6 juta atau 267.561 jiwa pertahun. Hanya dua dari sepuluh sarjana pendidikan yang bekerja sesuai dengan pasion. Hal yang melatar belakangi fenomena ini adalah rumitnya persyaratan profesi guru. Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) sesuai aturan UU No. 87 Tahun 2013 tentang Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan melalui lembaga pendidik tenaga pendidikan (LPTK) menjadi syarat mutlak.

Baca Juga :  Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis

Dalam aturan ini, di disebutkan bahwa sarjana pendidikan tidak bisa otomatis mendapatkan izin untuk mengajar atau akta empat. Para sarjana ini harus menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) terlebih dahulu selama 1 tahun sebelum diizinkan untuk menjadi pengajar.

Sayangnya, hingga saat ini bentuk pelaksanaan PPG masih belum terarah dengan jelas. Padahal tiap tahun kampus LPTK meluluskan banyak sarjana pendidikan. Aturan PPG ini, dikeluarkan melalui UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, Peraturan Pemerintah tentang Guru No. 19 Tahun 2017, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan No. 87 Tahun 2013 dan Peraturan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi tentang Standar Pendidikan Guru No. 55 Tahun 2017 memiliki tujuan sama. Bahwa sarjana pendidikan untuk mengikuti kuliah Pendidikan Profesi Guru selama satu tahun untuk mendapatkan sertifikat dengan titel Gr. sebagai syarat menjadi guru atau pendidik.

Sedihnya lagi, program PPG ini tidak hanya dapat diikuti oleh sarjana pendidikan saja. Sarjana non-kependidikan juga mendapatkan peluang untuk menjalani program ini. Situasi ini mengakibatkan sempitnya peluang kerja bagi sarjana pendidikan.

Terlebih, maraknya pemangkasan anggaran yang sedang menjadi topik hangat saat ini, menjadi mimpi buruk bagi para sarjana pendidikan. Hal ini karena imbas pemangkasan juga berdampak pada guru honorer yang telah dihentikan sepihak dengan jumlah lebih dari 100 guru di Jakarta. Pengamat pendidikan Nisa Felicia juga menyebutkan bahwa, besarnya jumlah anggaran yang tersedia tentu akan berpengaruh juga dengan formasi yang akan dibuka bagi calon guru.

Fenomena di atas menjadi trust issue bagi sebagian banyak sarjana pendidikan. Munculnya tren #switchcarrier menunjukkan tidak sedikit sarjana pendidikan yang bekerja tidak pada bidang pendidikan. Melalui web.Quora, dapat ditemukan beberapa opini pengalaman para sarjana pendidikan yang bekerja tidak sesuai pada passion.

Baca Juga :  Cara Nabi Musa dan Nabi Muhammad Menghadapi Tren #KaburAjaDulu

Misalnya saja Riza Pratama Ramadhan, seorang sarjana pendidikan yang saat ini bekerja di perusahaan swasta, Ifany seorang magister pendidikan yang berpengalaman bekerja sebagai staf dokumen serta beberapa temannya bekerja sebagai sales mobil, staf HRD, manager hotel dan masih banyak lagi.

Tren #switchcarrier juga banyak ditunjukkan oleh sarjana pendidikan melalui akun tiktok mereka. Banyak dari para sarjana pendidikan yang memlilih untuk bekerja di sebagai Corporate, BUMN, Teller Bank, HR Officer, Content Writer dan masih banyak lagi.

Apabila melihat situasi ini, dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru melalui jurusan pendidikan saja tidak cukup. Titel S.Pd. tidak dapat menjamin seseorang dengan mudah menjadi seorang guru atau pengajar. Mereka harus bersaing lagi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Tidak sampai situ, setelah mendapatkan gelas Gr., mereka juga harus bersaing sesamanya untuk mendapatkan tempat mengajar yang layak.

Beda Kualitas Tetangga

Melihat kualitas pendidikan di Indonesia saat ini, menunjukkan faktor penyebab mengapa sarjana pendidikan sulit mencari pekerjaan yang relevan dengan jurusannya. Hal ini karena banyak sarjana pendidikan yang kualitas pendidikan yang dihasilkan kurang memadai. Fakta tersebut dapat dibuktikan pada hasil penilaian PISA, yang menunjukkan Indonesia sering kali berada pada peringkat yang lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga.

Kualitas pendidikan yang rendah ini, dapat menjadi faktor terbatasnya kesempatan kerja terutama guru. Sekolah cenderung akan mencari kandidat calon guru dengan kualifikasi yang tinggi dan berkompeten.

Negara Thailand menggunakan pendekatan yang lebih terstruktur dalam pengembangan guru profesional Mighfar, dkk (2024). Selain berfokus pada penguasaan materi, mereka juga mengembangkan keterampilan interpersonal, manajemen kelas dan pemanfaatan teknologi yang baik.

Pelatihan berkelanjutan dan program sertifikasi yang ketat pada guru membuat guru siap menghadapi tantangan kelas. Maka akan berdampak positif bagi kualitas pendidikan dan peluang kerja yang berkelas.

Perbedaan kualitas pendidikan ini menciptakan stigma di pasar kerja. Di Indonesia, banyak sekolah mempertimbangkan calon guru pada aspek kualifikasi akademis, kemampuan praktis dan pengalaman mengajar. Sedangkan Thailand, memiliki persaingan ketat yang melahirkan banyaknya peluang bagi guru. Terutama untuk berkembang dan menciptakan lingkungan yang mendukung dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Baca Juga :  Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur

Perbedaan kompetensi pendidikan guru di Indonesia dan Thailand mempengaruhi kualitas pendidikan dan ketersediaan serta persaingan pekerjaan bagi guru. Kualitas pendidikan yang rendah di Indonesia menjadi penghambat guru untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya investasi dalam pengembangan pendidikan kompetensi guru demi meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan lebih luas lagi peluang kerja di dunia pendidikan.

Melihat tren #switchcarrier saat ini menimbulkan dua perspektif. Pertama, hal ini tentu menjadi peluang yang baik bagi para sarjana pendidikan. Mereka tidak perlu risau akan karir masa depan. Melihat potensi diri, peluang, tujuan gaji hingga kesehatan mental pada karir selain pengajar, dapat menjadi pilihan.

Minimnya kekhawatiran dalam melakukan pekerjaan, akan membantu seseorang bekerja lebih semangat. Kedua, berkurangnya minat profesi guru. Sebelum terjun pada karir pendidikan, seseorang harus memiliki tekad dan tujuan yang jelas. Hal ini dapat menjadi bekal dan motivasi ketika menjalani pendidikan.

Selain itu, terobosan-terobosan untuk meningkatkan potensi pengajar yang berkualitas harus di ciptakan. Mulai dari perguruan tinggi dengan dukungan pemerintah, hingga pada tiap diri mahasiswa agar mampu mengembangkan mutu pendidikan yang lebih baik.(*)

*Alifa Rahma Afiani, lahir di Bantul, 1 Oktober 2003, mahasiswa PBSI UNY angkatan 2022 kelas C. Pernah menulis buku antologi Wishpering of The Soul (2021), antologi puisi Malam yang Sunyi (2021), antologi cerpen Antologi Cerpen Siswa (MAN 3 Bantul, tahun ajaran 2022/2023). Pernah menjuarai terbaik 1 lomba baca puisi Kemah Budaya 2018 se-DIY, terbaik V lomba baca puisi Festival Sastra (KMSI UGM 2021) tingkat nasional, terbaik 2 lomba ceramah di MAN 2 Kulon Progo se-DIY Jateng, Pemenang unggulan lomba baca puisi Papatong Award 2021 tingkat nasional, Harapan 2 lomba baca puisi Lafest tingka mahasiswa se-DIY. Tinggal di Bantul, Yogyakarta. Dapat dihubungi di: @rhalifa.a

 

 

Berita Terkait

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:58 WIB

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Selasa, 21 April 2026 - 10:59 WIB

Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB