Oleh | Diana Kartika Wibawanti
RESENSI BUKU, NOLESA.COM – Di antara desir angin pesisir Madura yang mengalunkan cerita dan keberagaman tradisi yang menjadi corak bagi daerahnya, Muna Masyari berusaha menjadi penjelajah setiap jiwa yang pernah hadir.
Jiwa yang tidak hanya memiliki kisah, namun juga dengan realitas yang pernah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, yaitu “Tanah Garam”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masyarakat dan tradisi diibaratkan seperti dua sisi mata uang karena saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, meskipun keduanya berbeda baik dari segi definisi dan fungsi. Keduanya merupakan dasar dalam menjalin simpul kehidupan bersama.
Tradisi masyarakat mengenai menyambut hari tertentu, kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun setiap keluarga, tentang kepercayaan, makanan daerah, cara berkomunikasi hingga cara menggapai titik terang suatu permasalahan yang terjadi merupakkan cerminan dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

“…memahami cara orang terdahulu berdoa. Berdoa bagi mereka tak cukup sekadar menadah tangan atau merapal potongan ayat-ayat alquran. Mengenakan kain putih bersih adalah simbol doa agar disucikan dari segala yang buruk. Dijauhi dari perkara pengundang petaka. Bertelanjang kaki juga demi mengecilkan diri di hadapan Gusti yang Mahatinggi” – Halaman 14.
Sebuah kutipan yang terdapat dalam buku “Kembang Selir” ini memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Madura menyikapi makna spiritualitas di dalam dirinya, kedalaman makna tradisi masyarakat dalam beribadah serta cara berdoa kepada Tuhan. Dengan begitu, bagi beberapa masyarakat yang digambarkan dalam buku ini, doa bukanlah sebatas hamba yang sedang berbicara kepada Penciptanya secara verbal, namun juga perihal kesiapan raga dan jiwa manusia.
Serpihan kedetailan yang diciptakan memberikan arti pada makna spiritual tantang penyerahan diri seutuhnya, komunikasi verbal yang tidak hanya dilafazkan, namun juga tentang keselarasan antara lahir dan batinnya.
Kumpulan cerpen berjudul “Kembang Selir” ditulis oleh Muna dengan ciri khasnya yang sangat kuat terutama berkaitan dengan budaya dan kehidupan masyarakat di tanah Madura. Muna kerap menyajikan tulisan tentang lokalitas Madura yang autentik, sehingga manjadi “gerbang” bagi pembaca untuk mempelajari sebuah keunikan dan keberagaman budaya yang seringkali tersembunyi dari pandangan luar.
Melalui 15 judul cerpen yang termuat dalam buku ini, Muna berhasil membawakan narasi yang penuh emosi. Buku yang dikemas dengan rapi tentang menyibak akar Madura, pembuktian tentang tradisi yang membentuk dan mengikat jiwa masyarakatnya, dan ilusi yang merengkuh realitas kehidupan.
Muna seolah mengajak pembaca untuk berkelana melihat bagiamana kondisi sosial masyarakat Madura yang masih kental akan ikatan tradisi, pergulatan batin, dan perjuangan seorang perempuan di bawah hasutan patriarki yang masih mengekang.
Akar yang Bertutur
Kumpulan cerpen “Kembang Selir” ini mengulas bagaimana Muna Masyari menghidupkan kembali tradisi Madura ke mata pembaca dan menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan turun temurun antar generasi yang membisu, melainkan nadi memberi kehidupan membentuk dan mengikat masyarakat di dalamnya.
Bukan tentang menjelekkan ataupun merendahkan, namun tentang bagaimana tradisi menjadi akar yang kuat bagi tumbuhan yang menjalar luas, membentuk identitas yang berbeda dari daerah lain, dan terkadang menjadi pembatas untuk menjalani kehidupan sesuai dengan alur yang ditunjukkan.
“Tahun pertama datang ke rumah ini, aku sempat heran ketika ibumu, dengan dibantu tetangga-tetangga dekat, memasak tajin merah-putih berisi bulatan-bulatan kenyal, dalam jumlah besar. Aku sempat berpikir, begitu nasionalisnya orang-orang di sini, hingga tajin pun sewarna bendera, dan kekompakan mereka seperti tengah menggelar upacra” – Halaman 26.
Sebuah kutipan yang berbicara mengenai salah satu tradisi masyarakat Madura yang masih dilakukan oleh beberapa masyarakat coba diungkapkan oleh Muna. Melalui penggambaran oleh tokoh sebagai “pendatang” di lingkup sosial tersebut, Muna secara halus menyoroti tradisi Tajin Sappar yang dianggap sebagai hari istimewa bagi mereka.
Bukan hanya sebuah hidangan yang tidak memiliki makna, namun sebagai simbol yang penuh arti bagi masyarakat untuk menunjukkan rasa bersyukur kepada-Nya. Terkadang tradisi yang diniali rumit dan menghabiskan waktu untuk menyajikannya hal-hal yang dianggap tabu dirasakan oleh pandangan orang modern yang tidak melihat makna simbolis di dalamnya.
Salah satu tradisi seperti Tajin Sappar dinilai sebagai pembangun keakraban antarmasyarakat. Warna yang diciptakan merah-putih sebagai penggambaran rasanasionalisme masyarakat dan nilai filosofi lokal yang mewarnai setiap Tajin Sappar yang dibuat.
Melalui ini, Muna mengemas suatu tradisi masyarakat dan mengubah pandangan menyimpang pada tradisi lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat Madura.
Dalam kumpulan cerpen “Kembang Selir” ini tradisi menjadi rangka untuk membangun setiap karakter sesuai dengan masyarakat sosial Madura. Melalui judul-judul cerpen pembaca akan menemukan jalinan kuat antara karakter dengan adat, kepercayaan, atau nilai-nilai yang masih dianut oleh masyarakat Madura.
“Tidur, makan dan berak dalam rumah, apa bedanya dengan kandang hewan? Nenek menyembur dengan cicbiran yang membuat bibirnya meliuk lucu, seraya membuang muka” – Halaman 64.
Tradisi tidak hanya mengikat pada bagimana aspek verbal masyarakat dibentuk, namun juga tentang bagaimana masyarakat mengatur etika di ruang hidupnya. Bagi sebagian masyarakat Madura pola pikir yang terbentuk melalui kebiasaan yang turun-temurun dilakukan menjadi tongkat penentu arah yang mengatur setiap tindakan.
Pada kutipan tersebut, Muna Masyari mencoba menggambarkan secarik kehidupan masyarakat Madura yang masih memiliki pandangan kuat terhadap tradisi mengenai etika kehidupan.
Bagi masyarakat modern, rumah identik berisi kamar mandi, ruang makan, kamar tidur, ruang tamu, dan dapur yang berada dalam satu ruangan untuk memudahkan aktivitas yang terjalin di dalamnya. Namun, bagi sebagian masyarakat Madura, hal itu tidak bisa mejadi satu kesatuan yang diletakkan secara berdampingan.
Pandangan tersebut secara kuat merefleksikan bagiamana kepercayaan masyarakat dan ilusi yang membangun begitu erat tentang tata letak hunian di masyarakat Madura. Bukan membahas efisiensi tentang fungsi sebuah ruangan, namun tentang sebuah norma dan keyakinan yang mengakar untuk memengaruhi ruang hidup manusia.
Dalam tulisan ini Muna berusaha memperlihatkan dari tradisi menjadi sebuah manifestasi dari upaya menjaga kesucian tempat tinggal dan menjauhkan dari hal-hal yang dianggap sebagai pengundang entitas negatif dalam kehiudpan.
Simpul Budaya dan Jiwa yang Terikat
Dalam kumpulan cerpen “Kembang Selir” Muna menuliskan budaya yang masih kerap ditemui terutama dalam masyarakat Madura. Mengangkat isu-isu permasalahan sosial yang kerap terjadi sering menjadi topik dasar dalam menulis beberapa karyanya seperti budaya patriarki.
Budaya yang menempatkan laki-laki di posisi paling dominan di segala aspek kehidupan dan menjadikan perempuan sebagai pengikut di bawahnya. Digambarkan secara gamblang oleh Muna melalui perjuangan karakter perempuan yang berusaha menemukan suara dan ruang mereka di tangah simpul budaya masyarakat yang mengikat haknya.
Melalui tulisannya tersimpan kemauan untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dan pantas bersanding di posisi yang semestinya. Sejak dulu, perempuan diharuskan untuk memikul beban ganda yang seharusnya tidak ia tanggung sendiri. Muna berusaha menggambarkan bagaimana realitas sosial di dalam masyarakat berpihak pada seorang perempuan serta keadilan dan hak yang seharusnya mereka dapatkan.
“Yang membuatku sangat geram, ketika tadi pagi kulihat kau ditampar hanya gara- gara kopi yang kausuguhi sudah setangah dingin, sementara saat dipanggil kau tak segera menghadap karena sedang menjemur pakaian” – Halaman 97.
Sebuah kutipan tersebut menggambarkan bagimana seorang perempuan diperlakukan dengan begitu rendah bak embun yang terinjak oleh jejak seorang laki-laki di atasnya. Muna lewat tulisannya menyoroti permasalahan sosial patriarki yang selalu menempatkan perempuan pada posisi yang lapuk.
Bukan hanya tentang kopi dingin yang ia suguhkan, namun tentang tingkat kesetaraan dan kekuatan yag tidak seimbang antara dua insan tersebut. Pandangan tentang perempuan yang diharuskan selalu tunduk dan diam tak bersuara menjadi permasalahan sosial masih banyak dirasakan.
Melalui narasi yang diciptakan oleh Muna Masyari lewat gaya bahasa yang lugas ditambah beberapa diksi lokal Madura yang ia gunakan mengiring pembaca untuk seolah berada langsung di tengah-tengah sosial yang menjadi sorot cerita tersebut. Alur singkat yang dirangkai mampu meninggalkan kesan tersendiri di hati para pembaca dan menjadikannya sebagai bahan perenungan.
Budaya patriarki yang masih terbelenggu di kehidupan masyarakat dan beban perempuan yang harus dijalani atas sesuatu yang terjadi. Karakter seorang perempuan yang dibangun dalam cerita ini berada di dalam kepungan pilihan yang sama-sama menyesakkan.
Perempuan tidak ditakdir hanya untuk menjadi “pemuas” bagi seekor singa yang lapar. Perempuan memiliki suara, ruang bagi dirinya, hak dan keadilan yang seringkali terpinggirkan bahkan direnggut.
Melalui cerpen “Kembang Selir” ini Muna Masyari berusaha untuk mengenalkan tardisi Madura yang harus dijaga dan meruntuhkan belenggu tradisi yang malah menjadi permasalahan sosial bagi masyarakatnya. Menghadirkan tema-tema universal melalui lensa lokal menjadi tujuan Muna untuk mengenalkan “Tanah Garam” kepada pembaca.
*Diana Kartika Wibawanti lahir di Sleman, 23 Maret 2004. Saya seorang mahasiswa aktif di Universitas Negeri Yogyakarta, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang saat ini sedang menempuh semester 6. Saya memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan khususnya pada karya sastra. Alamat saya di Kaliwaru, RT 001, RW 001, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Nomor HP 081327425238, alamat email aktif diyanakartika71@gmail.com dan media sosial Instagram @_dianakartikaa. Karya yang pernah saya tulis salah satunya esai yang berjudul “Berdamai dengan Alam Sebagai Bentuk Keharmonisan Hubungan Sesama Manusia: dalam Cerpen Bunga Kayu Manis dan Cerita-Cerita Lian Karya Nurul Hanafi”.










