Idul Adha dan Pesan Kepemimpinan Nabi Ibrahim

Redaksi Nolesa

Minggu, 16 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojodo (Foto: dok. nolesa.com)

Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojodo (Foto: dok. nolesa.com)

Oleh H. Achmad Fauzi Wongsojudo

(Bupati Sumenep)


Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, bukan hanya sekadar perayaan ibadah umat Islam, melainkan juga sebuah momen reflektif yang mengandung pesan mendalam tentang kepemimpinan dan kebijaksanaan dalam kehidupan politik modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu kisah paling terkenal yang terkait dengan Idul Adha adalah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Namun, dalam menjalankan perintah ini, Nabi Ibrahim menunjukkan kebijaksanaan luar biasa sebagai seorang pemimpin keluarga dengan melibatkan Nabi Ismail dan ibunya, Siti Hajar, dalam sebuah musyawarah.

Kisah ini bukan hanya mencerminkan kepatuhan yang tulus kepada perintah Allah, tetapi juga mengajarkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang relevan dan dapat diaplikasikan dalam konteks kepemimpinan politik modern.

Kisahnya dimulai ketika Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah yang memintanya untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail. Bagi seorang ayah, permintaan ini sangatlah berat dan penuh dengan ujian iman.

Baca Juga :  Mahluk Tuhan Paling Dahsyat

Namun, yang menarik adalah cara Nabi Ibrahim menyikapi perintah tersebut. Dia tidak serta merta menjalankan perintah itu, tetapi terlebih dahulu berdiskusi dengan putranya. Nabi Ibrahim dengan bijaksana mendatangi Ismail dan mengutarakan perintah Allah yang datang melalui mimpi.

Dalam Al-Qur’an, dialog ini direkam dalam surah Ash-Shaffat ayat 102: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ismail menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”

Tindakan Nabi Ibrahim untuk berdiskusi dengan Ismail menunjukkan penghormatan terhadap putranya serta mengajarkan pentingnya komunikasi dan musyawarah dalam mengambil keputusan penting. Ismail, yang juga menunjukkan kedewasaannya, menerima perintah tersebut dengan sabar dan taat, menegaskan nilai-nilai keikhlasan dan kepatuhan kepada Allah.

Setelah mendapat persetujuan dari Ismail, Nabi Ibrahim juga berdiskusi dengan Siti Hajar, ibunda Ismail. Keputusan untuk melibatkan Siti Hajar dalam musyawarah ini mencerminkan pengakuan atas perannya sebagai ibu dan anggota keluarga yang penting.

Baca Juga :  Mengakhiri Politik Identitas dan Politik Uang

Musyawarah dalam keluarga Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik bukanlah otoriter, melainkan inklusif dan menghargai pendapat semua anggota keluarga/pihak terkait dalam konteks kehidupan politik modern hari ini.

Dalam konteks kepemimpinan politik modern, banyak hal yang bisa dipelajari dari kebijaksanaan Nabi Ibrahim. Seorang pemimpin yang baik harus mampu mendengarkan dan mempertimbangkan pandangan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Hal itu penting untuk menciptakan keputusan yang tidak hanya efektif tetapi juga adil dan dapat diterima oleh semua pihak. Seorang pemimpin yang bijaksana tidak bertindak sepihak, melainkan selalu berusaha untuk melibatkan orang lain dalam proses pengambilan keputusan, yang pada akhirnya akan memperkuat legitimasi kepemimpinan tersebut.

Musyawarah, atau konsultasi, adalah salah satu prinsip penting dalam Islam yang juga sangat relevan dalam demokrasi modern. Dalam sistem politik, musyawarah dikenal dengan berbagai istilah seperti dialog, konsultasi publik, atau partisipasi warga. Semua ini merujuk pada satu konsep dasar yang sama: bahwa keputusan terbaik adalah keputusan yang dibuat dengan melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan.

Baca Juga :  Ibnu Khaldun; Runtuhnya Suatu Imperium Biasanya Diawali dengan Kezaliman

Dengan cara itu, kebijakan yang dihasilkan akan lebih mencerminkan kebutuhan dan aspirasi masyarakat, serta lebih mudah diterima dan dijalankan dalam implementasinya.

Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, keterlibatan publik dalam proses pengambilan keputusan menjadi semakin penting. Teknologi informasi telah membuka peluang baru bagi partisipasi warga dalam politik; media sosial, platform diskusi online, dan berbagai aplikasi e-governance memungkinkan warga untuk menyampaikan pendapat dan usulan mereka secara langsung.

Dan, inilah yang selama tengah kami perjuangkan di Kabupaten Sumenep. Menghidupkan partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan melalui kepemimpinan inklusif.

Pemimpin yang bijaksana harus mampu memanfaatkan teknologi ini untuk memperkuat musyawarah dan partisipasi publik.

 

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru