Oleh | Nova Nur Halimah
OPINI, NOLESA.COM – Penolakan merupakan bagian yang tak terhindarkan dalam hidup. Berkali-kali melamar pekerjaan, mengikuti organisasi dan volunteer, mengirim naskah lomba, portofolio beasiswa, bahkan berusaha masuk kampus impian, lagi-lagi yang hadir penolakan.
Tak terkecuali penolakan yang justru hadir dari orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar. Terbesit dalam benak, “apa aku seburuk ini?” “apa orang sepertiku selalu pantas ditolak?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Brown dan Levinson (1987) dalam jurnal Penolakan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia F.X. Nadar dkk, menyebutkan bahwa penolakan sebagai suatu tindakan yang dapat mengancam muka atau citra diri seseorang.
Menurut Abraham Maslow dalam “Teori Motivasi Manusia”, menyatakan bahwa penolakan sosial erat kaitannya dengan tingkat kebutuhan sosial yakni rasa cinta dan memiliki serta kebutuhan harga diri. Pada tingkat kebutuhan sosial, manusia akan dimotivasi oleh keinginan yang terhubung secara emosional seperti persahabatan, hubungan keluarga, keromantisan pasangan, dan kelompok sosial.
Support system dari orang-orang yang memiliki hubungan secara emosional sangat penting. Kurangnya kepuasan dalam hal ini dapat menyebabkan perasaan kesepian, kecemasan, bahkan depresi.
Penolakan sendiri datang dalam berbagai situasi dan bentuk. Penolakan dari orang terdekat biasanya meninggalkan luka lebih dalam karena menyentuh rasa percaya diri dan harga diri. Selain itu, terdapat pula penolakan aktif dalam lingkungan sosial seperti perundungan, sering kali dianggap berbeda, sehingga merasa sendirian dan dikucilkan dalam lingkungan sosial.
Dalam lingkungan profesional, penolakan dapat berupa ditolak pekerjaan, ditolak apply beasiswa, ditolak perguruan tinggi impian, dan lain sebagainya. Berbagai kasus perundungan dan tekanan akademik yang terjadi beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa adanya penolakan dan kurangnya dukungan dari pihak terdekat dapat berefek pada keputusan yang fatal.
Takut ditolak adalah emosi kuat yang dialami banyak orang setidaknya sekali seumur hidup. Penolakan memiliki implikasi serius bagi kondisi psikologis seseorang, hal tersebut dapat memengaruhi emosi, kognisi, bahkan kesehatan fisik. Dr. Guy Winch dalam bukunya yang berjudul Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, and Other Everyday Hurts, mengemukakan bahwa otak memproses penolakan dengan cara yang sama seperti rasa sakit fisik, itulah mengapa ditolak terasa benar-benar menyakitkan.
Secara psikologis, penolakan membuat otak mengaktifkan area yang memproses rasa sakit sehingga emosi terasa lebih kuat. Jadi, bukanlah hal yang terdengar aneh ketika seseorang dengan beribu-ribu penolakannya merasa gagal, frustrasi, putus asa, hingga bertanya-tanya “apakah aku masih berguna?” Jika dikaitkan lagi dengan “Teori Motivasi Manusia” Abraham Maslow, seorang individu juga termotivasi oleh harga diri dan pengakuan.
Pada tahap ini, fokus seorang individu adalah mendapatkan rasa hormat serta pengakuan dari orang lain dan kepercayaan diri. Ketika tidak mendapatkannya, dari sinilah seseorang merasa ragu, tidak percaya diri, dan merasakan turunnya harga diri. Banyak hal akan terganggu dalam dirinya, baik pikiran, fisik, maupun semangatnya sehingga tak jarang timbul pertanyaan, “apakah harus terus melangkah ke depan atau berhenti di titik ini?”
Mendengar tentang penolakan rasanya menyakitkan dan melelahkan. Namun pertanyaannya di sini, apakah sebuah penolakan berarti sebuah kegagalan yang hakiki? Seorang penulis buku memoir berjudul Eat, Pray, Love, yakni Elizabeth Gilbert pernah mengutarakan bahwa penolakan adalah perlindungan alam semesta terhadap sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu.
Meskipun terasa menyakitkan, ternyata penolakan juga memberikan pelajaran yang mungkin tidak didapatkan ketika berhasil. Cara menghadapi penolakan, tidak muluk-muluk harus
menepis semua penolakan itu mentah-mentah. Kim Liao dalam esainya berjudul Why You Should Aim for 100 Rejections a Year? bahkan menargetkan 100 penolakan per tahun sebagai langkah awal belajar menghargai proses.
Dr. Guy Winch, seorang psikolog dan penulis buku yang banyak meneliti tentang luka emosional, menawarkan cara sederhana untuk menghadapi penolakan. Pertama adalah mengakui dan memvalidasi perasaan. Rasa sakit, malu, kecewa, atau marah adalah respons manusiawi. Akui hal tersebut sebagai respons alami dan coba identifikasi, apakah itu rasa malu, takut, marah, atau sedih.
Dengan penamaan emosi akan membantu untuk lebih memahami apa yang sebenarnya sedang dialami. Setelah itu, hindari self-critism secara berlebihan. Penolakan sering kali membuat seseorang berkecil hati dan merasa gagal, tak heran timbul pikiran-pikiran negatif seperti “Saya gagal!” “Saya tidak pantas!” Padahal penolakan bukanlah cerminan nilai diri, melainkan hasil dari situasi tertentu. Menjadi realistis membantu untuk melihat bahwa penolakan bukan untuk disesali, tapi untuk dievaluasi.
Pemulihan harga diri juga penting, setelah menghadapi penolakan cobalah mencari dukungan orang terdekat yang memang benar-benar tulus. Dukungan dari orang terdekat seperti orang tua ataupun sahabat dapat memulihkan kepercayaan diri sehingga seseorang merasa diterima dan dihargai.
Dari sana, seseorang bisa belajar bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa diperbaiki, apa yang bisa dihindari, dan tujuan apa yang ingin dicapai setelah ini. Menjaga kesehatan emosional pun tidak boleh diabaikan. Memberi ruang bagi diri melalui istirahat, olahraga, hobi, atau bahkan konseling profesional bila diperlukan, membantu untuk kembali stabil.
Pada akhirnya, cara paling penting dari Dr. Guy Winch adalah jangan berhenti mencoba. Penolakan hanyalah satu sudut pandang, bukan penilaian final atas diri. Satu pintu tertutup tidak berarti semua pintu tertutup.
Jadi, ketika kalian berpikir penolakan berarti kegagalan yang hakiki, maka anggaplah seperti sebuah tulisan, terkadang seseorang akan menjumpai tanda koma ataupun titik sebelum lanjut pada kalimat berikutnya.
Begitulah penolakan, bukan meminta berhenti dan menyerah di tengah jalan tetapi meminta untuk beristirahat sejenak serta merenungi yang tengah terjadi sebelum melanjutkan perjalanan. (*)
*) Mahasiswa Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta










