Tanggapi Amien Rais, Mahfud MD: Amandemen Bisa Setiap Tahun, tapi Kalo Tak Bermoral Percuma Saja

Redaksi Nolesa

Sabtu, 15 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasional, NOLESA.COM – Ketua Mahkamah Konstitusi (2008-2013) Mahfud MD menanggapi pernyataan Amien Rais yang menyesali telah melakukan amandemen terhadap UUD 1945 saat menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) pada periode 1999-2004.

Penyesalan Amien Rais terkait amandemen UUD 1945 yang ditanggapi Mahfud MD itu terkait dua hal pokok.

Pertama, soal pemilihan presiden dari yang awalnya dipilih oleh MPR menjadi dipilih secara langsung oleh rakyat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, soal ketentuan calon presiden yang awalnya harus “orang asli Indonesia” menjadi “warga negara Indonesia”.

Menurut Amien Rais, dirinya tak menyangka pemilihan langsung yang dulu dianggap paling baik kini berubah menjadi simalakama.

Dulunya dirinya menganggap dengan pemilihan langsung, maka pemilihan umum di Indonesia akan berjalan lebih demokratis. Sebab tidak mungkin seorang calon presiden akan menyogok pemilih Indonesia yang berjuta-juta.

Baca Juga :  Bersiap Sambut Dua Ajang Olahraga Internasional, Pemerintah Siapkan Paket-Paket Wisata

“Jadi dulu, itu kita mengatakan kalau dipilih langsung one man one vote, mana mungkin ada orang mau menyogok 120 juta pemilih, mana mungkin, perlu puluhan mungkin ratusan triliun. Ternyata mungkin. Nah itu,” kata Amien Rais usai bertemu dengan MPR RI pada Rabu, 5 Juni 2024.

Namun, menurutnya, perkiraan yang dibuatnya itu salah. Hal yang dulunya dianggap mustahil itu ternyata terjadi di masa kini.

Karena itu, dirinya meminta maaf kepada rakyat Indonesia yang telah mempelopori perubahan pemilihan presiden dari pemilihan tertutup ke pemilihan langsung itu.

Untuk itu, Bapak Reformasi itu mendorong MPR untuk kembali melakukan amandemen mengembalikan aturan pemilihan presiden pada aturan lama.

Tanggapan Mahfud MD

Menurut Mahfud MD dalam tulisannya di Harian Kompas, 15 Juni 2024, perubahan UUD 1945 pada saat itu merupakan arus besar yang tak bisa dibendung.

Karenanya, jika perubahan itu dianggap salah, menurut Mahfud MD rasanya kurang tepat jika hanya Amien Rais yang meminta maaf tanpa diikuti permintaan maaf dari seluruh pejuang Reformasi yang turut menjadi motor amandemen pada saat itu.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Akan Lantik Kepala Daerah Hasil Pilkada Serentak 2024, Berikut Jadwalnya

“Kalau amandemen tersebut salah, itu adalah kesalahan kolektif kita,” tulis Mahfud MD.

Sementara itu, terkait usulan Amien Rais untuk kembali melakukan amandemen UUD 1945 guna mengembalikan kewenangan MPR untuk memilih presiden, hal itu merupakan hal yang wajar mengingat UUD 1945 sendiri tidak anti-perubahan.

Menurut Mahfud MD, dengan mengutip KC Wheare, konstitusi adalah kesepakatan (resultante) para pembentuknya berdasarkan kondisi sosial, politik, ekonomi yang terjadi pada saat pembentukan UUD.

Karenanya, kapanpun, asalkan ada kemauan dari pembentukan undang-undang, UUD 1945 bisa dilakukan perubahan sesuai dengan perkembangan kebangsaan di masa kini.

Menurut Mahfud MD, sejarah memperlihatkan bahwa kita sudah berkali-kali melakukan amandemen sejak UUD 1945 disahkan pada 18 Agustus 1945. Namun belum sampai pada modelnya yang tepat hingga terus digugat dan dipermasalahkan setiap waktu.

Baca Juga :  Di Era Presiden Prabowo, Serapan Beras Tertinggi dalam 58 Tahun

“Jika dihitung dari sejarah perjalanan bangsa, baik secara resmi maupun dalam praktik ketatanegaraan sejak tahun 1945, kita sudah melakukan perubahan konstitusi tidak kurang dari sepuluh kali, yang kemudian selalu digugat untuk diamandemen lagi,” tulis Mahfud MD.

Namun begitu, menurut Mahfud MD, persoalan utama bangsa ini sebenarnya bukan hanya pada aturan-aturan konstitusional saja, melainkan juga pada persoalan moral dan etika berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, diamandemen setiap tahun pun, namun tak ada perbaikan pada aspek moral dan etika kehidupan berbangsa dan bernegara, maka semuanya akan sia-sia belaka.

“Diubah tiap tahun pun, jika moral, etik, dan konsistensi kita dalam berhukum tidak diperbaiki, amendemen seperti apa pun tidak akan ada gunanya,” tegas Mahfud MD diakhir tulisannya.

Penulis : Wail Arrifki

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

BM PAN Periode 2026–2031 Gelar Meet and Greet, Teguhkan Soliditas dan Satu Komando
Mengapa Purbaya Dipecat? Ini Kata Ekonom
Elektabilitas PAN Capai 5,6 Persen, BM PAN Dorong Kader Perkuat Kerja Nyata
Novita Hardini Dorong Hilirisasi Komoditas Pertanian dan Penguatan UMKM di Tapanuli Utara
Presiden Prabowo Minta Anggaran Mitigasi Bencana Ditambah
SE Menkomdigi Untuk Lindungi Sisa Kuota Pelanggan Seluler
Suarakan Inklusivitas di Muktamar NU, PP IPNU Gelar Bedah Buku Fiqh Disabilitas
Legislator PKB Apresiasi Ojol Jadi Pelaku Usaha Mikro, Dorong Perlindungan dan Akses Pembiayaan

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 11:02 WIB

BM PAN Periode 2026–2031 Gelar Meet and Greet, Teguhkan Soliditas dan Satu Komando

Senin, 14 September 2026 - 14:59 WIB

Elektabilitas PAN Capai 5,6 Persen, BM PAN Dorong Kader Perkuat Kerja Nyata

Rabu, 9 September 2026 - 00:22 WIB

Novita Hardini Dorong Hilirisasi Komoditas Pertanian dan Penguatan UMKM di Tapanuli Utara

Senin, 7 September 2026 - 23:08 WIB

Presiden Prabowo Minta Anggaran Mitigasi Bencana Ditambah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:17 WIB

SE Menkomdigi Untuk Lindungi Sisa Kuota Pelanggan Seluler

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Psychological Safety

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:52 WIB

Politik

Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura

Senin, 14 Sep 2026 - 20:18 WIB