Mabrur Tanpa Berhaji

Redaksi Nolesa

Jumat, 30 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Sujono

MIMBAR, NOLESA.COM – Kebaikan apakah yang engkau kerjakan sehingga engkau memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah?

Alkisah, Abdullah bin Mubarak adalah termasuk golongan ulama salaf setelah berakhirnya Khulafaur Rasyidin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika beliau baru selesai menjalankan seluruh rangkaian rukun haji, beliau sempat tertidur di Baitullah, tidak jauh dari Ka’bah. Dalam tidurnya -antara sadar dan tidak- tiba-tiba ia melihat suatu pemandangan di mana dua malaikat turun dari langit menuju area (lokasi) thawaf.

Salah seorang dari mereka berkata; Berapa orang yang berhaji tahun ini?”

“Enam ratus (600) ribu orang,” jawab malaikat satunya.

“Berapakah yang diterima hajinya? tanya malaikat tadi.

“Tidak seorang pun,” jawab malaikat satunya.

“Tidak seorang pun?” tanya malaikat yang pertama, merasa heran.

“Tetapi seorang tukang sol sepatu di Damaskus bernama Muwafiq yang tidak jadi berhaji, justru diterima hajinya oleh Allah. Dan berkah dari diterimanya hajinya Muwafiq ini, diterimalah semua ibadah haji pada tahun ini,” kata malaikat kedua itu.

Setelah itu, Abdullah bin Mubarak segera terbangun. Ia berpikir dan heran dengan mimpi yang dialaminya itu. Benarkah seperti itu keadaannya? Bisiknya!

Tidak ada pilihan lain, kecuali membuktikan adanya seorang tukang sol sepatu yang bernama Muwafiq tersebut. Dari Mekkah, Abdullah bin Mubarak tidak langsung pulang, tetapi meneruskan perjalanannya menuju Damaskus di Syam (Syiria).

Baca Juga :  Membela Bupati Fauzi

Setibanya di Damaskus, beliau langsung mencari tahu tentang Muwafiq tersebut, dan ternyata tidak kesulitan. Profesinya sebagai tukang sol sepatu selama puluhan tahun membuatnya ia banyak dikenal oleh orang-orang Damaskus.

Setelah ditunjukkan rumahnya dan bertemu dengan Muwafiq, Abdullah bin Mubarak tidak melihat sesuatu yang istimewa pada dirinya. Ia hanya seorang laki-laki sederhana, bahkan cenderung miskin. Hanya tampak jelas ketulusan dan keikhlasan pada sinar wajahnya.

Setelah dipersilahkan duduk dan memperkenalkan diri, Abdullah bin Mubarak bertutur;

“Wahai saudaraku, Muwafiq, kebaikan apakah yang engkau kerjakan sehingga engkau memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah?”

Muwafiq tampak tidak paham dengan pertanyaan Abdullah bin Mubarak, lalu berkata;

“Wahai saudaraku, ada apakah gerangan? Tiba-tiba saja engkau menemuiku dan bertanya seperti itu?”

Kemudian Abdullah bin Mubarak menceritakan kalau dirinya baru saja selesai menunaikan ibadah haji. Dan ketika saya tertidur di Baitullah, tidak jauh dari Ka’bah, saya bermimpi… (Abdullah bin Mubarak menceritakan mimpinya), yang kemudian membawa langkahku untuk menemuimu.

Mendengar kisah mimpi Abdullah bin Mubarak, mata Muwafiq tampak berkaca-kaca penuh haru. Alhamdulillah, ucapnya, sebagai ungkapan rasa syukurnya. Tanpa disadarinya, airmata-nya jatuh karena saking dalamnya perasaan bahagianya.

Baca Juga :  Melihat Segumpal Realitas Kehidupan Masyarakat dalam Sastra

Setelah Muwafiq mulai bisa menguasai emosinya, ia bercerita kalau sudah sejak lama ia ingin menunaikan ibadah haji. Ia menabung dan menyisihkan sebagian dari hasil pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu selama bertahun-tahun. Tahun ini, uang simpanan itu sudah terkumpul tiga ratus (300) Dirham. Ini sudah cukup untuk perjalanan haji dan bekal kehidupan keluarga yang ditinggalkannya, kata Muwafiq.

Muwafiq berkisah…

“Suatu ketika, istrinya yang sedang hamil, mencium bau masakan dari rumah tetangganya. Layaknya seorang yang hamil muda, istrinya ngidam. Ia sangat ingin merasakan masakan tetangganya tersebut. Muwafiq membujuknya untuk membuatkan atau membelikan masakan yang sama lezatnya. Tetapi istrinya tetap menolak, kecuali masakan tetangganya itu.”

Akhirnya, dengan berat hati Muwafiq mendatangi rumah tetangganya tersebut, yang ternyata adalah seorang janda dan anak-anak yatimnya. Begitu dibukakan pintu, Muwafiq berkata;

“Wahai ibu, istriku sedang hamil, ia sangat ingin sekali merasakan masakan yang ibu masak, karena aromanya menembus ke seluruh dinding-dinding jiwa dan rumah kami. Bolehkah aku meminta sedikit saja untuk memenuhi keinginan istriku?”

Mendengar seruan tukang sol sepatu yang menghanyutkan jiwa itu, sang ibu janda ini tak kuasa menahan tangis, lalu bertutur;

“Wahai Muwafiq, makanan itu halal bagiku, tetapi haram bagimu dan istrimu.”

Baca Juga :  Kapan Mobil Dinas Pejabat Libur?

“Mengapa demikian, wahai ibu?” tanya Muwafiq sambil merasa heran.

Kemudian wanita janda itu berkisah tentang keadaannya.

Kata sang ibu; “Aku dan anak-anak yatimku sedang kelaparan. Sudah tiga hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut kami, kecuali air. Pagi tadi, aku mencoba untuk keluar dan ketika berjalan aku melihat seekor keledai yang telah mati. Aku memotong sebagian daging bangkai keledai itu dan membawanya pulang, kemudian memasaknya.”

(Bau atau aroma sedap masakan itulah yang sempat bertiup di langit jiwa istri Muwafiq, yang membuat sang istri ngidam)

Mendengar cerita ibu janda itu, Muwafiq bergegas pulang dan mengambil simpanan tiga ratus (300) Dirham yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun, lalu segera diberikannya kepada ibu janda tersebut.

Muwafiq berkata;

“Nafkahilah anak-anak yatimmu itu dengan uang ini.”

Setelah itu, Muwafiq pulang sambil berkata dalam hati; “Sesungguhnya haji berada di pintu rumahku.”

Abdullah bin Mubarak yang mendengar kisahnya Muwafiq, terkagum-kagum dan berkata; “Shadaqah-mu kepada tetangga dan anak yatimnya itulah yang membuat haji-mu diterima, dan memberkahi haji kami semua tahun ini, sehingga diterima juga di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Wallahu a’lam…

(Diadaptasi Dari Siyar A’lam an-Nubala; Karya Imam adz-Dzahabi)

*) Penulis lepas tinggal di Perum Sumekar Kota Sumenep

Berita Terkait

Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha
Uji Nyali Hakim Kasus ODGJ Sapudi: Catatan Jurnalis
Tentang Waktu
Hanya Demi Memburu Sebuah Hadits
Menggali Kekuatan Jiwa
Muhasabah: Belajar Menggali Kekuatan Jiwa

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:37 WIB

Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:45 WIB

Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern

Senin, 19 Januari 2026 - 22:02 WIB

Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:29 WIB

Uji Nyali Hakim Kasus ODGJ Sapudi: Catatan Jurnalis

Berita Terbaru