Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Kemarin, 22 November 2025, saya bertemu sahabat di acara Wisuda ke-1 Universitas PGRI (UPI) Sumenep. Beliau ini junior saya di LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep. Dengan sedikit basa basa-basi, dia tanya ke saya, “Mas, ada ide tentang Hari Guru?”
Sambil tersenyum, saya hanya bilang, “Tenang, nanti akan saya tulis.” Setelah pertemuan itu, berkelindan dalam benak saya tentang banyak hal terutama beragam persoalan yang selama ini dihadapi para guru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dipahami bahwa setiap tanggal 25 November, bangsa ini merayakan Hari Guru dengan seremonial meriah. Dalam konteks ini, kita akan diramaikan dengan unggahan media sosial yang penuh dengan ucapan terima kasih. Atau, upacara yang akan terus mengulang kalimat heroik dan pidato-pidato yang menyebut guru sebagai “pelita peradaban”, atau bahasa klise “pahlawan tanpa tanda jasa”.
Namun di balik gegap gempita itu, ada ironi yang terus menganga, bahwa perayaan Hari Guru kerap tidak benar-benar memihak pada guru. Ia menjadi panggung seremonial untuk memproduksi harapan tanpa menghadirkan perubahan struktural bagi mereka yang seharusnya dihormati.
Bahkan, di balik ritual yang penuh penghormatan itu, ada sebuah kenyataan yang sulit disembunyikan bahwa keberpihakan terhadap guru di negeri ini sering kali berada di wilayah abu-abu: tidak sepenuhnya hadir, tidak sepenuhnya hilang, tetapi selalu menggantung.
Pada ranah ini, sering mengemuka penghormatan yang tak diiringi penghargaan. Dalam ruang publik, sosok guru ditempatkan dalam posisi mulia. Mereka dipuji sebagai pilar bangsa dan agen perubahan. Namun penghargaan struktural yang seharusnya menjadi fondasi profesi guru sering tidak mengikuti “romantisme” itu. Keberpihakan yang abu-abu tampak ketika guru dihormati dalam narasi, tetapi dibiarkan berjuang sendiri dalam praktik.
Guru dihormati dalam bahasa, tetapi tidak selalu dihargai dalam kebijakan. Mereka sering kali diperlakukan sebagai “mesin kurikulum” yang harus selalu siap mengimplementasikan perubahan, menjalankan administrasi yang menumpuk, dan menanggung ekspektasi sistem tanpa diberi dukungan memadai.
Dalam banyak kasus, ungkapan “pahlawan tanpa tanda jasa” berubah menjadi justifikasi halus bahwa guru boleh terus berjuang tanpa diberi kesejahteraan yang layak. Harga diri guru dijunjung tinggi, tetapi kualitas hidup mereka tidak selalu demikian.
Di sisi lain, beban administrasi yang menggerus ruang mengajar terus menghantui para guru. Di ruang kelas, guru mengajar. Di luar kelas, guru didesak menjadi operator. Makin banyak kebijakan dibuat, makin tebal pula berkas yang harus ditandatangani.
Makin panjang laporan yang harus disiapkan, makin sering aplikasi harus diisi ulang dari awal. Banyak guru yang akhirnya melepas idealisme pedagogisnya bukan karena enggan mengajar, tetapi karena energi mereka terkuras oleh administrasi yang tidak esensial. Maka, Hari Guru tak memihak pada guru ketika kualitas mengajar justru dikalahkan oleh rutinitas administratif.
Yang lebih ironis lagi adalah fenomena kesenjangan guru ASN dan non-ASN. Banyak sekolah menggantungkan keberlangsungan pembelajaran pada guru honorer. Mereka bekerja dalam kondisi ketidakpastian: gaji rendah, status tidak jelas, kesempatan pengembangan diri terbatas. Namun setiap Hari Guru, semua guru diperlakukan setara dalam seremonial, meski dalam kenyataan kesejahteraan mereka timpang. Untuk itu, betapa peringatan Hari Guru tak memihak ketika ketimpangan struktural diabaikan demi merawat citra nasional yang manis.
Di tengah ketimpangan struktural ini pula mengemuka tanggung jawab moral yang tak seimbang. Masyarakat menuntut guru untuk menjadi teladan moral, figur spiritual, sumber nilai, konselor, sekaligus pendidik. Namun siapa yang menjaga guru? Siapa yang memastikan mereka memiliki ruang untuk bertumbuh, waktu untuk memulihkan diri, dan dukungan untuk menghadapi tekanan psikologis? Sistem sering mengukur kualitas guru hanya dari skor penilaian, bukan dari kesejahteraan emosional dan lingkungan kerjanya. Di sinilah perspektif bahwa Hari Guru kehilangan keberpihakan ketika guru diwajibkan sempurna tanpa diberikan ekosistem yang memampukan mereka untuk berkembang menjadi fakta yang niscaya.
Padahal, Guru adalah pilar masa depan yang tidak didengarkan.
Diskursus pendidikan nasional kerap menempatkan guru sebagai aktor utama, tetapi dalam perumusan kebijakan, suara guru justru minim. Keputusan dibuat dari ruang rapat birokrasi yang jauh dari ruang kelas. Akibatnya, kebijakan sering baik di atas kertas tetapi menyulitkan di lapangan. Hari Guru tidak memihak pada guru ketika suara mereka tidak menjadi pusat dalam merancang masa depan pendidikan.
Dari fenomena di atas, kiranya niscaya untuk mengembalikan hari guru pada esensinya. Jika bangsa ini sungguh memihak pada guru, maka Hari Guru seharusnya bukan sekadar ritual, tetapi momentum refleksi nasional untuk mengurangi beban administrasi agar guru kembali menjadi pendidik, bukan operator. Hari Guru adalah entitas untuk menjamin kesejahteraan yang setara dan layak, terutama bagi guru non-ASN. Hari Guru hadir sebagai refleksi untuk menyediakan ruang pengembangan profesional yang berkelanjutan dan relevan, mendengarkan aspirasi guru sebagai sumber kebijakan pendidikan. Hari guru juga menjadi momentum nyata dalam membangun ekosistem yang menyehatkan, bukan menekan.
Keberpihakan yang abu-abu pada guru adalah simbol ketidaktuntasan. Kita telah memberi penghormatan, tetapi belum memberi perlindungan. Kita telah memberikan harapan, tetapi belum menyelesaikan persoalan. Jika ingin menjadikan guru sebagai pilar masa depan bangsa, maka keberpihakan tidak boleh lagi samar.
Oleh karena itu, peringatan Hari Guru yang sejati bukan tentang bunga, ucapan, atau seremonial. Ia adalah keberanian untuk mengakui bahwa pendidikan tidak mungkin kuat bila guru dibiarkan rapuh. Hari Guru yang tak memihak pada guru adalah cermin bahwa kita masih lebih sering merayakan simbol daripada menyentuh akar persoalan. Guru tidak membutuhkan pujian. Mereka membutuhkan penghargaan yang diwujudkan dalam kebijakan nyata, perlindungan struktural, dan penghormatan yang tercermin dalam kehidupan keseharian mereka.
Menghormati guru adalah “tindakan”, bukan “slogan”. Semoga!
*) Pembina Komunitas Kata Bintang










