Bedah Seni dan Budaya Lokal, Lesbumi Sumenep Hadirkan TA Bupati Bidang IPTEK

Redaksi Nolesa

Senin, 8 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bedah Seni dan Budaya Lokal, Lesbumi Sumenep Hadirkan TA Bupati Bidang IPTEK (Foto: Istimewa)

Bedah Seni dan Budaya Lokal, Lesbumi Sumenep Hadirkan TA Bupati Bidang IPTEK (Foto: Istimewa)

SUMENEP, NOLESA.COM – Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Sumenep menggelar Malem Salekoran. Kegiatan ini bertempat di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Ahad 7 Juni 2026.

Forum Malem Salekoran ini digelar rutin setiap tanggal 21 Hijriah. Kali ini mengangkat tema “Titik Koma Kesenian Sumenep”.

Tujuan diselenggarakannya Malem Salekoran ini untuk membedah dinamika kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Sumenep.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hadir Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim serta Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan Ibnu Hajar sebagai narasumber.

Kiai Widadi menilai perkembangan kesenian di Sumenep bergerak melalui komunitas yang berjalan secara organik.

“Kita melihat kesenian di Sumenep ini kadang masih berjalan di ruang masing-masing. Seni rupa punya jalannya sendiri, sastra sendiri, komunitas lain juga begitu. Padahal kalau dirangkul bersama, dampaknya akan lebih besar,” paparnya.

Baca Juga :  Poli Urologi Hadir, Kader Kesehatan Apresiasi Layanan RSUD Sumenep yang Terus Berkembang

Berangkat dari perspektif Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Widadi memandang kesenian tidak hanya sarana ekspresi. Lebih dari itu, juga dapat menjadi media dakwah untuk mengusung nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

“Kesenian bagi NU menjadi panggung dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Disampaikan Ibnu Hajar, perkembangan dan dinamika kesenian dan kebudayaan di Sumenep tidak bisa lepaskan dari tradisi pesantren yang selama ini menjadi salah satu penyangga kehidupan budaya di Kota Keris.

“Kalau bicara kesenian Sumenep, kita tidak bisa memisahkannya dari pesantren. Banyak dinamika kebudayaan di daerah ini lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren,” kata Ibnu.

Ibnu juga menceritakan dibentuknya Lesbumi di Sumenep. Menurut dia, gerakan tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas Jaringan Seniman Sumenep (JSS) yang pada masanya menjadi ruang berkumpul para pegiat seni dan budaya.

Baca Juga :  Tiga Piala untuk Sumenep

“Dulu ada ruang yang mempertemukan para seniman, salah satunya JSS. Dari situ kemudian lahir semangat yang ikut menjadi bagian dari tumbuhnya Lesbumi di Sumenep,” jelasnya.

Dia menyinggung perjalanan Lesbumi pada masa kepemimpinan Ketua PCNU Sumenep Kiai Ilyasi Siradj. Lesbumi disebut pernah melahirkan buku antologi puisi Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan yang diterbitkan LKiS.

Sastrawan angkatan 1990-an itu mengajak Lesbumi Sumenep agar tidak berhenti pada forum kegiatan seremonial semata. Melainkan juga bergerak secara substantif.

Dia mengibaratkan Lesbumi seperti seorang koki yang tinggal mengolah kembali warisan para seniman sebelumnya.

“Lesbumi ini seperti koki, bumbunya sudah disiapkan para pendahulu. Tinggal bagaimana diolah menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan hari ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Achmad Fauzi Upayakan Pengiriman Bantuan ke Masalembu Lewat Jalur Kalimantan

Sementara itu, Ketua Lesbumi PCNU Sumenep Moh Junaidi mengatakan, apa yang disampaikan dua narasumber di atas akan menjadi catatan penting. Terutama untuk merealisasikan berbagai program yang sudah dibentuk.

“Itu spirit dan perspektif yang harus kami terima sebagai catatan bagaimana Lesbumi akan berjalan ke depan,” ungkapnya.

Diamenegaskan, bahwa kesenian dan kebudayaan itu tidak melulu perkara tontonan semata. Melainkan juga menjadi ruang poduksi ide, gagasan, dan kekaryaan.

Karenanya, tugas Lesbumi, kata dia adalah memosisikan diri sebagai fasilitator. Tujuannya untuk turut mengintervensi ekosistem kesenian dan kebudayaan yang tidak hanya bertumpu pada panggung dan pertunjukan semata.

“Makanya, Malem Salekoran ini, sebagai warisan dari kepengurusan Lesbumi sebelumnya tetap kami adopsi. Terutama sebagai bagian dari proses transfer pengetahun,” tandasnya. (*)

Penulis : Rusydiyono

Berita Terkait

Yogyakarta Jadi Tuan Rumah PIT IAGI ke-55 dan GEOSEA XIX 2026, Hadirkan Forum Geologi Asia Tenggara
Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton
Hari Sumpah Pemuda, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan
Refleksi Hari Listrik Nasional, Bupati Sumenep Tekankan Pemerataan Akses Energi
BLK dan GP Ansor Sumenep Jalin Kerjasama Perkuat Keterampilan Kader Muda NU
Hadapi POPDA Jatim 2026, Atlet Sumenep Diminta Junjung Sportivitas
Bupati Sumenep Dorong Pelestarian Ayam Bekisar Lewat Lomba Nasional
Kopi Surga PC ISNU Sumenep, Sajikan Kopi Gratis di Malam Puncak HSN 2026

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 18:16 WIB

Yogyakarta Jadi Tuan Rumah PIT IAGI ke-55 dan GEOSEA XIX 2026, Hadirkan Forum Geologi Asia Tenggara

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:32 WIB

Hari Sumpah Pemuda, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:38 WIB

Refleksi Hari Listrik Nasional, Bupati Sumenep Tekankan Pemerataan Akses Energi

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:11 WIB

BLK dan GP Ansor Sumenep Jalin Kerjasama Perkuat Keterampilan Kader Muda NU

Berita Terbaru

Bupati Fauzi mengenakan baju adat keraton dalam sebuah acara (Foto: Istimewa)

Daerah

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Kamis, 29 Okt 2026 - 07:07 WIB