Akal sebagai Pemimpin

Mohammad Arif Arifin

Jumat, 3 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi by pixabay.com

Ilustrasi by pixabay.com

NOLESA.com— Pada proses penciptaannya, manusia dijadikan sebagai mahluk paling sempurna karena ia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya. Keistimewaan inilah yang juga membuat kehidupan manusia semakin berkembang dan mampu untuk terus bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Keistemewaan manusia ini dikenal sebagai akal. Akal adalah hal yang paling signifikan dalam membedakan manusia dan mahluk lainnya terutama hewan. Akal manusia selama bertahun-tahun telah membuat manusia mampu untuk membedakan apa yang baik maupun buruk bagi dirinya, apa yang mesti dikembangkan untuk kelangsungan hidupnya maupun apa yang harus mereka tinggalkan agar tidak menghancuran kehidupannya.

Setelah manusia mengenal agama akallah yang pada akhirnya juga membantu manusia untuk memahami agama yang dipeluknya, menafsirkan ajarannya dan juga menjadi penunjuk jalan untuk mempertahankan ajaran agamanya agar tidak punah.

Hari ini saat agama berjalan dengan sekaligus berhadapan dengan perkembangan teknologi yang menggerus keberadaannya, peran akal untuk menjaga eksistensi agama haruslah ditingkatkan.
Peran akal ini berhubungan dengan fungsinya dalam menjaga keseimbangan dalam diri manusia agar selamat dalam hidupnya. Karena harus diakui hari ini saat manusia dimudahkan untuk melakukan segala sesuatu oleh perangkat-perangkat canggih yang dihasilkan tehnologi hari ini peluang nafsu dalam memimpin manusia jauh lebih besar dibanding akal.

Padahal memfungsingkan akal secara maksimal di zaman ini dengan berpegang pada ajaran agama sangatlah penting untuk dilakukan. Akallah yang seharusnya menjadi pemimpin dalan megendalikan segala bentuk perbuatan manusia melalui anggota tubuh lainnya.

Baca Juga :  Sumenep Pasca Desentralisasi, Kemiskinan, dan Fiksi Politik Kesejahteraan

Maka dalam hal ini penting untuk melihat kembali peran akal sebagai medium berpikir dalam rangka menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Dalam Islam akal berperan penting untuk menjadi pemimpin bagi anggota tubuh yang lain dalam rangka kemaslahatan hidup manusia di dunia dan juga keselamatan manusia di akhirat.

Dalam Islam, kehidupan setelah mati, utamanya di hari perhitungan amal, persaksian dilakukan oleh anggota tubuh manusia yang lain karena mulut yang sedianya selama kehidupan manusia di dunia menjadi sumber persaksian di akhirat ia berakhir perannya karena anggota tubuh yang lain yang menjadi saksi atas perbuatannya masing-masing.

Sebab itu, penting untuk selalh menjaga peran akal selama kita masih hidup untuk memaksimalkan fungsinya dalam memimpin anggota tubuh yang lain secara bijaksana. Karena harus di akaui, dengan melihat kenyataan hari ini akal seringkali kehilangan peran karena anggota tubuh yang lain secara cepat telah merespon segala sesuatu nya di luar kendali akal, seperti jari-jari manusia hari ini yang dengan cepat merespon apa yang dilihatnya dengan bentuk komentar yang seringkali dangkal bahkan salah karena tidak tau secara menyeluruh apa yang dikomentarinya, yang pada sisi terjauhnya berakibat pada terciptanya dosa karena menyinggung perasaan orang lain.

Baca Juga :  Two State Solution

Oleh karena itu, penting untuk terus memposisikan akal sebagai pempimpin bagi anggota tubuh yang lain agar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dan menyelamatkan manusia selama di dunia maupun setelah hari setelah kematiannya.

Jumat, 3 Juni 2022

Berita Terkait

Indonesia Negara Bersama
Mahluk Tuhan Paling Dahsyat
Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 
Mengapa Suara Ganjar Anjlok?
Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif
Memanfaatkan Masa Tenang sebagai Ritual Pemilu Damai
HPN, Pilpres, dan Demokrasi Kita
HPN 2024 dan Jurnalisme Masa Kini

Berita Terkait

Senin, 25 Maret 2024 - 04:23 WIB

Indonesia Negara Bersama

Rabu, 20 Maret 2024 - 07:02 WIB

Mahluk Tuhan Paling Dahsyat

Kamis, 22 Februari 2024 - 13:01 WIB

Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 

Kamis, 15 Februari 2024 - 16:26 WIB

Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Kamis, 15 Februari 2024 - 07:15 WIB

Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif

Minggu, 11 Februari 2024 - 19:00 WIB

Memanfaatkan Masa Tenang sebagai Ritual Pemilu Damai

Jumat, 9 Februari 2024 - 14:10 WIB

HPN, Pilpres, dan Demokrasi Kita

Jumat, 9 Februari 2024 - 13:09 WIB

HPN 2024 dan Jurnalisme Masa Kini

Berita Terbaru

Suara Perempuan

Menjadi Mahasiswa Cerdas dan Tangguh

Sabtu, 20 Apr 2024 - 15:09 WIB