Wabah Politik Kebinatangan, Jokowi Perusak Demokrasi

Redaksi Nolesa

Jumat, 26 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh FAIZAL ASSEGAF *

Sudah banyak pelanggaran serius dan kecurangan bernegara dilakoni Presiden Jokowi. Tapi, rakyat yang memberi upah buat politisi di DPR dan MPR, seolah jadi sarang tikus. Pembohong dan pencuri saling melengkapi.

Praktek kekuasaan dalam sistem presidensial telah dibajak oleh kejahatan dinasti politik Jokowi. Peran DPR/MPR sebagai pengawas eksekutif lumpuh total. Walhasil, laju kejahatan bernegara makin mencemaskan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Demokrasi dirusak oleh wabah kebinatangan politik. Hadir dalam rupa modus kebejatan atas nama kekuasaan untuk menipu dan menindas rakyat.

Baca Juga :  Etika dan Politik

Terkesan Presiden diposisikan sebagai tuan besar, bertindak bebas dan menabrak semua etika dan konstitusi. Sementara para wakil rakyat di parlemen tersirat kumpulan para budak. Kenyataan itu membuat rakyat gusar.

Maraknya kejahatan korupsi, pencurian sumber daya alam, pesta bagi-bagi proyek, dll, menjadi ruang kolusi. Partai-partai terjebak berebut jatah dan membongkok pada dinasti politik. Kehilangan martabat dan akal sehat.

Demokrasi dirusak oleh wabah kebinatangan politik. Hadir dalam rupa modus kebejatan atas nama kekuasaan untuk menipu dan menindas rakyat. Tak ada satupun lembaga negara hadir dan berpihak pada nurani rakyat.

Baca Juga :  Kodifikasi UU Pemilu, Sebuah Keniscayaan!

Dinasti politik yang dipamerkan Jokowi dan keluargnya menjadi sentrum kekuasaan otoriter. Nyaris semua elemen bangsa tak bernyali untuk bersatu dan melawan. Semua patuh dan takluk pada syahwat dinasti bertopeng demokrasi.

Bahkan tragisnya, para pejabat publik di lingkar kekuasaan seolah hidup dalam kandang dan digembala. Demi kepentingan isi perut, berubah jadi kambing, kucing, bebek bahkan sebgian bangga berperilaku bagai tikus selokan.

Baca Juga :  Catatan Sederhana Haul KH Kariman Wirayudha

Wajar bila rakyat menyimpulkan negara tak ubahnya hutan rimba. Mereka yang berkuasa, pemodal besar dan jago menipu menjadi monster yang super rakus dan jahat. Tatanan negara dan demokrasi terancam bangkrut.

Bobroknya perilaku bernegara tersebut bersumber dari dinasti politik berwatak korup dan jago berbohong. Daya rusaknya makin mengancam kehidupan rakyat banyak. Tapi lucunya DPR masih memilih bungkam dan cuek.

Jokowi, berhentilah menipu rakyat…!


*) Kritikus politik

Sumber Berita: X/Twitter

Berita Terkait

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin
Desa Tangguh Bencana
Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan
Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Desa Tangguh Bencana

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:39 WIB

Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam

Berita Terbaru