Fatayat NU Sumenep Dorong Perempuan Jadi Garda Pencegah Radikalisme melalui Literasi Keagamaan

Redaksi Nolesa

Selasa, 14 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fatayat NU Sumenep Dorong Perempuan Jadi Garda Pencegah Radikalisme melalui Literasi Keagamaan (Foto: Istimewa)

Fatayat NU Sumenep Dorong Perempuan Jadi Garda Pencegah Radikalisme melalui Literasi Keagamaan (Foto: Istimewa)

SUMENEP, NOLESA.COM – Di tengah masih munculnya penyebaran paham radikalisme yang menyasar berbagai lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan generasi muda, Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Sumenep menegaskan pentingnya penguatan literasi keagamaan sebagai benteng utama.

Komitmen Fatayat NU Sumenep itu diwujudkan melalui kajian bertajuk “Ngaji Perempuan dan Radikalisme” yang digelar di Graha Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Selasa, 14 Juli 2026.

Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU se-Kabupaten Sumenep, badan otonom Nahdlatul Ulama, hingga perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Forum itu menjadi ruang diskusi yang memadukan perspektif keagamaan, kebangsaan, dan pemberdayaan perempuan dalam menghadapi tantangan radikalisme.

Perwakilan panitia, Roudlatun atau yang akrab disapa Odax, mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Sumenep dan AMAN Indonesia yang memungkinkan kegiatan tersebut terselenggara.

Baca Juga :  Jogja Darurat Klitih, Ini Tanggapan LBH Ansor D.I.Y

Ketua PC Fatayat NU Sumenep, Dina Kamilia, mengatakan kajian itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader perempuan agar memiliki pemahaman keagamaan yang utuh sekaligus mampu berperan sebagai agen perdamaian di tengah masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai program pemberdayaan yang selama ini dijalankan Fatayat NU, seperti MAPAN (Madrasah Perempuan), LKP3A, dan Malate Center. Melalui program-program itu, Fatayat ingin melahirkan perempuan yang tidak hanya berdaya, tetapi juga mampu mengambil peran kepemimpinan di tengah masyarakat.

“Adanya kegiatan ngaji perempuan dan radikalisme ini diharapkan nantinya dapat melahirkan sosok pemimpin dari desa, sesuai tujuan gerakan AMAN Indonesia itu sendiri. Entah menjadi pemimpin untuk masyarakat luas atau untuk diri kita sendiri, karena seyogyanya tidak ada orang pintar yang ada hanya orang yang mau untuk terus belajar,” ujar Dina.

Baca Juga :  Sambut Hari Santri dan Hari Jadi Sumenep, ASN dan PPPK Gelar Pembacaan Al-Waqi’ah

Dalam kajian tersebut, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep, K. Halqi, mengingatkan bahwa radikalisme tidak lahir begitu saja, melainkan berawal dari pemahaman agama yang tidak utuh dan penggunaan dalil secara serampangan.

“Namun, dinamika zaman memunculkan tantangan berupa agenda radikalisme ekstrem dan terorisme,” katanya.

Halqi menjelaskan, secara epistemologis istilah radikalisme tidak selalu bermakna negatif. Persoalan muncul ketika ajaran agama dipahami secara sempit, kemudian digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan atau terorisme.

Berdasarkan pengalamannya selama lima tahun menjadi ketua panitia seleksi calon dosen tetap, ia melihat kecenderungan tersebut sering muncul dari semangat beragama yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan kedalaman ilmu.

Karena itu, ia mengajak masyarakat mengedepankan prinsip tawasuth atau moderasi sebagai karakter Islam yang diajarkan Nahdlatul Ulama.

“Islam yang tawasuth adalah kunci dalam menjalankan kehidupan beragama sekaligus bernegara agar terhindar dari radikalisme destruktif,” ujarnya.

Baca Juga :  Dalam Rangka Harjad ke-757 dan HSN, Bupati Sumenep Keluarkan SE Pembacaan Surat Al-Waqi'ah

Selain membahas radikalisme, forum juga mengangkat persoalan bias gender dalam penafsiran agama. Halqi menilai minimnya mufasir perempuan dalam sejarah Islam membuat perspektif perempuan kurang terwakili dalam khazanah tafsir. Ia berharap perempuan masa kini terdorong menghasilkan karya-karya keislaman yang lebih inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Direktur AMAN Indonesia, Dwi Robiyati Chalifah, menutup diskusi dengan mengajak perempuan memperkuat budaya literasi sebagai benteng menghadapi berbagai narasi yang menyesatkan.

“Dengan memperbanyak membaca, kaum perempuan tidak akan mudah dibutakan atau dimanipulasi oleh narasi-narasi yang keliru,” katanya.

Melalui forum tersebut, Fatayat NU Sumenep menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas sosial dan ekonomi, tetapi juga memperkuat peran perempuan sebagai penjaga nilai-nilai keislaman yang moderat dan kebangsaan di tengah masyarakat. (*)

Penulis : Rusydiyono

Berita Terkait

BLK dan GP Ansor Sumenep Jalin Kerjasama Perkuat Keterampilan Kader Muda NU
Kopi Surga PC ISNU Sumenep, Sajikan Kopi Gratis di Malam Puncak HSN 2026
Bupati Sumenep Terus Perkuat Kolaborasi dengan Pesantren
Bupati Sumenep Sebut Santri Punya Peran Penting dalam Politik dan Pemerintahan
Bupati Fauzi Pastikan Sembilan Nelayan Sumenep Dipulangkan ke Pulau Ra’as
Panglima Santri Nusantara Pimpin Apel HSN Ponpes Dar el Hikmah Riau
Bupati Bangkalan Ajak Santri Berkontribusi Menuju Indonesia Emas
HSN 2026, Bupati Sumenep Dorong Santri Jadi Wirausaha Muda dan Penggerak Ekonomi Daerah

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:11 WIB

BLK dan GP Ansor Sumenep Jalin Kerjasama Perkuat Keterampilan Kader Muda NU

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:19 WIB

Kopi Surga PC ISNU Sumenep, Sajikan Kopi Gratis di Malam Puncak HSN 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Bupati Sumenep Terus Perkuat Kolaborasi dengan Pesantren

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Bupati Sumenep Sebut Santri Punya Peran Penting dalam Politik dan Pemerintahan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Bupati Fauzi Pastikan Sembilan Nelayan Sumenep Dipulangkan ke Pulau Ra’as

Berita Terbaru

Bupati Fauzi saat diwawancarai usai apel HSN 2026 (Foto: NOLESA.COM)

Daerah

Bupati Sumenep Terus Perkuat Kolaborasi dengan Pesantren

Jumat, 23 Okt 2026 - 07:00 WIB