SUMENEP, NOLESA.COM – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mengoptimalkan Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP). Upaya ini sebagai langkah nyata untuk menggenjot transformasi pertanian.
Inisiatif ini menjadi salah satu strategi utama dalam mengembangkan komoditas hortikultura di lahan kering secara berkelanjutan, sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, menegaskan bahwa HDDAP tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, melainkan juga mendorong perubahan menyeluruh dalam sistem pertanian. Transformasi tersebut mencakup pola budidaya, pengelolaan usaha tani, hingga penguatan aspek bisnis yang dijalankan oleh petani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“HDDAP dirancang untuk mendorong perubahan menyeluruh dalam sistem pertanian, sehingga petani mampu beradaptasi dengan tantangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Wabup Kiai Imam dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu.

Kabupaten Sumenep sendiri menjadi salah satu dari 13 daerah di Indonesia yang mendapatkan program ini. Pelaksanaannya difokuskan pada tiga komoditas unggulan, yaitu pisang, cabai rawit, dan bawang merah.
Pengembangan dilakukan melalui pendekatan berbasis klaster yang tersebar di sejumlah kecamatan guna meningkatkan efektivitas produksi dan distribusi.
Untuk komoditas pisang, pengembangan dipusatkan di Kecamatan Batuputih dengan dua klaster yang mencakup area sekitar 32 hektare.
Sementara itu, bawang merah dikembangkan di Kecamatan Guluk-Guluk dan Pasongsongan dengan total luas lahan lebih dari 100 hektare.
Adapun cabai rawit dibudidayakan di Kecamatan Ambunten dan Rubaru melalui puluhan klaster yang menjangkau lebih dari 170 hektare lahan.
Menurut Wabup Kiai Imam, HDDAP juga memberikan perhatian besar pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya para petani. Selain itu, program ini mendorong penguatan kelembagaan serta pengembangan rantai nilai agar produk hortikultura memiliki daya saing yang lebih baik di pasar.
“Petani tidak lagi hanya berperan sebagai produsen, tetapi harus menjadi pelaku usaha yang mampu mengelola pertanian secara modern, efisien, dan berorientasi pasar,” tegasnya.
Ketua DPC PKB Sumenep itu menambahkan, keberhasilan program ini tidak semata diukur dari peningkatan volume produksi, tetapi juga dari terciptanya sistem pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah daerah terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar implementasi HDDAP berjalan optimal dan tepat sasaran. Peran aktif petani sebagai subjek utama pembangunan menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Petani harus menjadi subjek utama. Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis pembangunan pertanian di Sumenep akan semakin maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemkab Sumenep diharapkan sektor pertanian terus mengalami peningkatan yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
Penulis : Rusydiyono









