Oleh | Abdul Warits
OPINI, NOLESA.COM – Misi dan propaganda orang barat dalam menyerang agama Islam melalui doktrin yang disampaikan melalui penyiaran atau pers. Mereka menyampaikan doktrinasi melalui distorsi terhadap agama Islam sebagai agama yang radikal, poligami, dan anggapan lainnya sebagai yang dilakukan oleh para misionaris pada zaman dahulu bahkan terjadi hingga sekarang.
Karena keterbatasan ruang dan media, mereka seringkali menyampaikannya di media cetak seperti koran, selebaran, majalah. Namun, hari ini, tantangannya cukup kompleks dan menggurita: generasi bangsa dan anak muda sedang menghadapi dunia cyber dan digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bangsa barat selalu menyebarkan propaganda agar agama Islam dinilai jelek di mata masyarakat dunia. Bibit radikalisme banyak sekali disebarkan melalui beberapa platform media. Pusatnya ada di website, youtube, instagram, facebook, tiktok dan media-media lainnya.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Habib Husein Jakfar pada Kegiatan Workshop dan Pelatihan Santri BNPT Melalui Bidang Agama Multimedia dalam rangka pencegahan paham radikal, terorisme di pesantren Tebuireng Jombang pada tanggal 14-17 Juni 2022. Ia mengatakan bahwa berdasarkan riset PPIM UIN Jakarta 2021 mayoritas generasi milenial dan generasi Z menjadikan media digital setiap hari dalam belajar agama dan mengikuti ustad pilihannya di youtube.
Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja seumpama air keruh yang mengalir ke muara hingga masuk ke sendi-sendi kehidupan anak bangsa, pemuda, perempuan dan masyarakat sehingga menyebabkan keyakinan mereka melemah terhadap bangsa dan negaranya.
Tanpa disaring, konten-konten radikal dan tokohnya idolanya mudah menyebar ke seluruh samudra pengetahuan manusia. Apalagi sampai menjadi gelombang bencana dan kejahatan intelektual bagi hak asasi manusia, bangsa, dan negara.
Kasus ini tentu harus direspons dan diantisipasi oleh para pelaku media, konten kreator, perempuan, dan pemangku literasi di negeri ini. Di era digital, mereka adalah pahlawan yang bergerak dalam dunia digital karena literasi di era digital pasti selalu ada hubungan yang sangat erat dengan pers (penyiaran) berbentuk teks, audio, dan video sehingga manusia akan mudah menangkap informasi dari media dengan berbagai sumber informasi. Mereka adalah leading sektor dalam melanjutkan misi dan jihad perdamaian dalam mendidik masyarakat agar tidak terpapar radikalisme dan terorisme yang menyeramkan.
Budaya Cyber harus dijaga kesuciannya dan kesakralannya agar tidak menimbulkan efek negativ kepada masyarakat yang setia membacanya. Konten-konten yang mengancam terhadap keimanan masyarakat pada negerinya tentu akan mempengaruhi psikologi seorang pembaca apalagi membuat stereotype kepada tokoh, kiai dan lebih-lebih merongrong keutuhan Negara Republik Indonesia.
Karenanya, dunia literasi di era digital harus menjadi garda terdepan dalam membentengi gerakan sporadis dari para pengadu domba dengan konten-konten yang berhasil mereka viralkan. Maka, konten kreator dari berbagai platform mediaapalagi perempuan sebagai penggeraknyamenjadi semacam gerilya dalam membentengi masyarakat dengan sebaik mungkin, terutama dalam diri pemuda bangsa yang dilahirkan dengan ide-ide kreatif, inovatif dan menarik perhatian.
Di era digital, setiap orang memiliki kebebasan berekpresi di sosial media. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu mengabarkan dirinya dan ingin eksistensinya diakui di hadapan public. Tak jarang ditemui beberapa status di media untuk kepentingan bisnis dan beragam kepentingan kelompok dan perorangan di dalamnya.
Dari itulah, kegiatan-kegiatan sosial berbasis keislaman, perdamaian, kemasyarakatan, harus diposting di dunia cyber. Kegiatan-kegiatan yang berbau Islam rahmatal lil alamin hendaknya diviralkan melalui website, face book, intagram, youtube atau bahkan media lainnya agar agama Islam tidak diklaim sebagai agama kolot, tidak berdaya. Maka, sebelum terjadi generalisasi dan hipotesis yang salah dalam pandangan mereka, kita harus mengantisipasi tuduhan tersebut dengan menyajikan konten-konten dan informasi yang bisa diterima secara rasional berdasarkan kepada fakta dan realita serta data-data sehingga menjadi propaganda terhadap lawan negara.
Tulisan menjadi salah satu senjata dalam bergerilya di media digital. Kekuatan tulisan akan menembus ribuan otak manusia yang ada di dunia digital apalagi ditambah dengan narasi-narasi videografi yang memberikan propaganda perdamaian. Karenanya, kreatifitas senantiasa diasah, ide-ide inovatifnya dalam membuat konten video dan lain sebagainya harus diberdayakan. Otak-otak konten kreator tentu sangat dinantikan di media digital. Karena mereka sebenarnya eksekutor perwajahan media digital yang berisi tentang perdamaian, anti terorisme dan radikalisme serta lainnya.
Tidak hanya mengisi ruang website, anak-anak muda juga bisa memanfaatkan tiktok sebagai media dakwah menyampaikan konten-konten viral perdamaian agar semakin ramai dan menarik dalam benak pembaca.
Berbagai media online yang ada di Indonesia kini sudah beralih kepada gerak konten kreator. Seperti media suara.com dengan beberapa subdomain, promedia teknologi dan media lainnya. Tentunya hal ini memungkinkan dalam membentuk opini publik distorsi radikalisme dengan skill yang mumpuni menjadi konten kreator dalam bidang apa saja: youtube, instagram, website, sosial media dan lainnya sehingg tingkat penyebaran nilai-nilai perdamaian akan semakin cepat.
Dengan gerakan melalui media dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian merupakan salah satu bentuk resistensi dalam menyuarakan agama yang telah difitnah. Peluang ini tentu semakin bisa dilakukan apalagi kaum perempuan merupakan salah satu generasi yang aktif dan bisa melakukan gerakan-gerakan yang persuasif, bukan malah menjadi objek dari agenda-agenda kapitalisme yang semakin meraja lela dan menelanjangi mereka melalui media-media. Apalagi bertentangan dengan nilai-nilai agama dan bangsa Indonesia.
Selain itu, cara untuk memviralkan konten perdamaian adalah dengan membuat hanstag dalam setiap postingannya di medsos. Sebagaimana yang dikatakan oleh Nuruddin dalam buku Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial bahwa Fakta-fakta baru media massa salah satunya bagaimana peran hanstag sebagai salah satu pemicu sekaligus menjadi pemersatu. Akan tetapi, gerakan hanstaq ini merupakan gerakan spontan masyarakat dari berbagai macam kepentingan. Sehingga hanstaq menjadi gerakan sosial masyarakat masa kini.
Oleh sebab itu, perempuan juga harus iku andil dalam menyebarkan gagasan tentang perdamaian ini. Sebagai penikmat media digital tentu tidak boleh memandang sebelah mata hanstaq yang ada di media sosial.
Lebih lanjut, menurut Nuruddin bahwa Hanstaq bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa membuat popularitas seseorang atau lembaga, mencari keuntungan dan lain-lain. Namun demikian, hashtag juga menjadi aturan hukum sementara hakimnya adalah individu. Netizen bisa menghakimi orang lain atau lembaga tertentu hanya dengan hanstaq sehingga kemudian menjadi trending topic di jagat media massa.
Biasanya di dalam membuat hashtag seorang juga harus dibekali bagaimana personal branding yang baik atau bagaimana konten kreator yang menarik memposting segala isu perdamaian di media sosial.
Konten kreator salah satunya berpikir bagaimana gagasan yang akan dibangun kepada pembaca sehingga bisa mempengaruhi ketertarikan seseorang dalam membaca konten yang dibuatnya.(*)
*Sekretaris Duta Damai Santri Jawa Timur









