YOGYAKARTA, NOLESA.COM – Di tengah rendahnya peringkat literasi Indonesia dalam berbagai penilaian global, akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggandeng SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta meluncurkan program pelatihan guru intensif untuk mereformasi pendekatan pembelajaran berbasis teks.
Program yang mulai digelar bulan ini menargetkan kesenjangan sistemik dalam kemampuan literasi siswa yang dinilai sebagai hambatan utama terhadap kualitas pendidikan nasional.
Kolaborasi ini merupakan respons atas data dari Programme for International Student Assessment (PISA) milik OECD, di mana Indonesia secara konsisten berada di sepertiga terbawah dunia dalam hal kemampuan membaca. Dengan ujian modern yang semakin menuntut analisis teks, para pendidik dihadapkan pada tuntutan mendesak untuk memperbarui metode pengajaran berbasis literasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala sekolah Hj. Retno Sumirat, M.Pd., mengaitkan peningkatan literasi dengan akuntabilitas lembaga, “Ini berdampak pada rapor mutu pendidikan.”
Selama dua sesi intensif pada 2 dan 11 Juni 2025, sebanyak 50 guru mengikuti lokakarya yang dipandu oleh Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UNY.
Ketua program pengabdian kepada masyarakat UNY, Dr. Dwi Hanti Rahayu, menyatakan, “Pelatihan ini dilakukan karena meningkatkan literasi siswa merupakan tanggung jawab bersama sebagai para pendidik.”
Integrasi Literasi
Hari pertama difokuskan pada strategi integrasi teks, di mana Dr. Esti Swatika Sari dan Dr. Beniati Lestyarini mempresentasikan pendekatan lintas disiplin. Rekan tim lain, Eko Triono, M.Pd., dan Silmi Nur Azizah Tara, M.Pd., memfasilitasi latihan kolaboratif yang mendorong guru membongkar elemen literasi dalam mata pelajaran masing-masing.
Sesi kedua beralih ke perancangan penilaian. Kelompok guru berdasarkan mata pelajaran menyusun alat evaluasi berbasis teks, yang kemudian akan ditinjau dalam sesi pendampingan lanjutan.
Pelatihan menekankan pentingnya pergeseran menuju deep learning—model pembelajaran yang mengutamakan keterlibatan kritis dibanding hafalan semata.
“Literasi bukan sekadar membaca; ini tentang menerjemahkan dunia,” tegas Dr. Esti Swatika Sari, M.Hum.
Saat Indonesia bersiap menghadapi siklus PISA 2026, upaya skala kecil ini menjadi sinyal bahwa perubahan sistemik tidak bermula dari kurikulum, melainkan dari kapasitas guru. Hasil dari evaluasi yang telah disusun para guru akan dipantau hingga 2026 sebagai tolok ukur reformasi yang dapat diperluas secara nasional.(*)
Penulis : Tri ET
Editor : Aidi










