Titik Krusial; Jangan Paksakan Anakmu untuk Menjadi Seperti Kamu

Redaksi Nolesa

Jumat, 22 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sujono (Foto: dokumen pribadi)

Sujono (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Sujono

(Penulis lepas tinggal di Perum Satelit, Sumenep)


Sikap jumud (anti perubahan) akan membuat kita sulit menerima nasehat yang disampaikan dengan penuh kasih-sayang sekali pun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam keadaan seperti ini, “amar ma’ruf nahi munkar” bisa terhenti; karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap ta’dzim kepada yang tua, kebaikan Insya-Allah masih bertebaran di dalamnya.

Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai.

Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah.

Baca Juga :  [Meng]apa Filsafat itu Penting?

Alhasil…

Generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na’udzubillahi min dzalik…

Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip, tetapi mengabaikan bentuk.

Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa depan.

Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal Ali bin Abi Thalib Ra, telah mengingatkan;

“Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zaman-mu.”

Baca Juga :  Doa untuk Kaum Muslim

Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Kita lupa bahwa sekali pun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan.

Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi.

Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah. Mana yang pasti dan mana yang praduga.

Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman, tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dengan pendidikan dan penyiapan generasi.

Dakwah berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan.

Baca Juga :  Kiai Fikri Tidak Gagal dan Juga Tidak Pernah Membelot!

Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan “ruh” yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan atau pujian orang-orang yang tulus, maupun mereka yang “Menikam Secara Halus” dengan memuji.

Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat Sayyidina Ali.

Akibatnya…

Gemerlapnya prestasi hari ini, tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan.

Sebaliknya…

Mereka menjadi orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.

Maka tak heran ketika banyak anak semasa sekolah atau kuliah rajin puasa Senin-Kamis, tetapi ketika harus bertarung dengan kesulitan hidup, yang kemudian Senin-Kamis adalah iman-nya. Kadang ada, kadan Kg nyaris tak tersisa. Wallahu a’lam…

Berita Terkait

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha
Uji Nyali Hakim Kasus ODGJ Sapudi: Catatan Jurnalis
Tentang Waktu

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:37 WIB

Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:45 WIB

Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern

Berita Terbaru

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menabur bunga saat ziara ke Makam Bung Karno, Minggu, 29/3/2026 (Foto: Istimewa)

Nasional

Dalam Suasana Lebaran, Ketum PDIP Ziarah ke Makam Bung Karno

Senin, 30 Mar 2026 - 15:24 WIB

Ketua Komisi III DPRD Sumenep Komitmen Kawal DAK 2026 (Foto: Humas DPRD Sumenep)

Daerah

Ketua Komisi III DPRD Sumenep Komitmen Kawal DAK 2026

Jumat, 27 Mar 2026 - 13:19 WIB

Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo (foto: Ist)

Daerah

Terapkan WFH, Bupati Sumenep Jamin Pelayanan Tetap Optimal

Jumat, 27 Mar 2026 - 00:15 WIB