TRENGGALEK, NOLESA.COM – Novita Hardini sebagai Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan memiliki komitmen tinggi dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan ketahanan pangan.
Salah satu upaya nyata yang dilakukan Novita Hardini yakni mendorong peran strategis Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai garda terdepan dalam menyelesaikan persoalan sampah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Legislator cantik yang akrab disapa Novita itu menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan di sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi solusi konkret atas persoalan lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu ia sampaikan pada saat berkunjung ke KWT Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan, pada Kamis pekan kedua Februari 2026.
Saat itu Novita mengajak perempuan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayur dan buah guna menekan biaya hidup keluarga. Lebih jauh, melalui KWT, Novita Hardini mendorong pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos sebagai langkah mandiri menghadapi kelangkaan dan mahalnya harga pupuk.
“Di satu sisi pupuk sulit dan mahal, di sisi lain sampah organik melimpah dan mencemari lingkungan. Jika dikelola dengan baik oleh KWT, ini bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Trenggalek menuju Net Zero Carbon, dengan memaksimalkan pengelolaan limbah organik di tingkat akar rumput.
“Kita dukung target Net Zero Carbon dengan memberdayakan KWT. Sampah organik harus diolah, bukan dibuang. Ini tentang membangun ekosistem yang berkesinambungan,” tegas politisi muda fraksi PDI Perjuangan itu.
Perempuam yang juga merupakan Ketua PKK kabupaten Trenggalek itu juga menyoroti pentingnya pengelolaan limbah dari dapur rumah tangga, SPPG, hingga industri padat karya agar tidak mencemari lingkungan. Ia mendorong Ketua Tim Penggerak PKK di setiap kecamatan berperan sebagai “ibu asuh” dalam memassifkan gerakan pengolahan limbah menjadi sumber ekonomi baru bagi KWT.
“Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang membangun desa yang mandiri, tangguh, dan ramah lingkungan.” tandas Novita. (*)
Penulis : Arif










