Dinas Kebudayaan DIY: Pencak Silat Bukan Sekadar Warisan Tradisi

Redaksi Nolesa

Kamis, 27 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Yogyakarta, NOLESA.COM — Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Komunitas Paseduluran Angkringan Silat DIY kembali menggelar Pencak Wisata Budaya (PWB) ke-5 pada 27–29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan pencak silat kepada masyarakat sebagai warisan budaya yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan kearifan lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan PWB 5 akan berlangsung selama tiga hari dengan kegiatan yang dipusatkan di kawasan pusat Kota Yogyakarta dan Camp Pencak Silat di Turi, Kabupaten Sleman.

Menurut Dian, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus diplomasi budaya untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai makna pencak silat. Pencak silat, kata dia, tidak seharusnya dipahami hanya sebagai tradisi fisik, olahraga, atau teknik bela diri, melainkan sebagai manifestasi kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur bangsa Nusantara.

“PWB 5 hadir sebagai panggung diplomasi budaya dan wahana edukasi publik untuk menegaskan pencak silat bukan sekadar warisan tradisi fisik belaka, melainkan manifestasi kearifan lokal yang sarat akan nilai-nilai luhur Bangsa Nusantara,” kata Dian dalam konferensi pers di Yogyakarta, Rabu (26/8).

Ia menuturkan, perhatian terhadap keberlanjutan pencak silat semakin penting setelah UNESCO menetapkan tradisi pencak silat ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 12 Desember 2019 di Bogota, Kolombia. Penetapan tersebut, menurutnya, sekaligus membawa tanggung jawab bagi Indonesia untuk menjaga, merawat, dan meneruskan pengetahuan serta nilai-nilai yang terkandung dalam pencak silat kepada generasi berikutnya.

Di tengah perkembangan zaman, tantangan pelestarian pencak silat bukan hanya berkaitan dengan keberlangsungan praktiknya, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami makna di balik tradisi tersebut. Modernisasi dan globalisasi dinilai berpotensi membuat pencak silat dipersepsikan sebatas olahraga prestasi, aktivitas fisik, ataupun kemampuan bela diri praktis.

Baca Juga :  Bersiap Sambut MTQ Jatim, Pemkab Sumenep Lakukan Seleksi

Karena itu, penguatan kembali akar filosofis pencak silat menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan PWB. Paseduluran Angkringan Silat sendiri dibangun dari ruang-ruang diskusi kebudayaan yang mengedepankan persaudaraan, keterbukaan, dan kesetaraan. Nilai tersebut kemudian menjadi dasar dalam mengembangkan Pencak Wisata Budaya sebagai kegiatan yang mempertemukan aspek spiritualitas, seni gerak, etika, serta pariwisata berbasis budaya.

Tokoh Paseduluran Angkringan Silat Yogyakarta Yosi mengatakan pencak silat merupakan salah satu cermin jati diri Nusantara. Di dalamnya terdapat ajaran mengenai budi pekerti luhur, penghormatan kepada sesama, keberanian membela kebenaran, serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

“Melalui PWB 5, kami menegaskan kepada masyarakat luas, baik domestik maupun internasional, bahwa melestarikan pencak silat berarti mempertahankan pondasi moral dan kearifan lokal bangsa,” ujar Yosi.

Baca Juga :  Pengajian Ramadan 1444 Sukses; ASN di Lingkungan Pemkab Sumenep Tambah Semangat Melayani Masyarakat

Yogyakarta dipilih sebagai salah satu pusat kegiatan karena memiliki posisi strategis sebagai kota budaya, kota pelajar, sekaligus destinasi wisata internasional. Keberadaan mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Yogyakarta juga dinilai dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan nilai-nilai pencak silat kepada masyarakat internasional.

Yosi menilai mahasiswa asing dapat menjadi bagian dari strategi diplomasi budaya jangka panjang. Setelah mengenal dan memahami filosofi pencak silat selama berada di Yogyakarta, mereka diharapkan dapat membawa pengetahuan mengenai kearifan lokal Nusantara tersebut ke negara masing-masing.

Dengan demikian, Pencak Wisata Budaya tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan keberadaan pencak silat sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Penulis : Wail Arrifki

Berita Terkait

Pemkab Bangkalan dan IDI Perkuat Sinergi, Dorong Layanan Kesehatan hingga Pelosok
Novita Hardini Dorong Susu Lokal Trenggalek Naik Kelas, dari Komoditas Jadi Penggerak Ekonomi
Bawa Keluhan Warga, Bupati Sumenep Perjuangkan Transportasi Laut ke Kemenhub
Sri Sultan Hamengku Buwono Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT dan Mahasiswa Terdampak
Pemda DIY Protes BPS soal Perubahan Data Desil Kesejahteraan Warga
Pesan Bupati Sumenep pada Syukuran HUT ke-81 RI
Melalui JDIH Award 2026, Pemkab Sleman Dorong Kalurahan Buka Akses Informasi Hukum bagi Masyarakat
Malam Syukuran HUT ke-81 RI di Sumenep, Veteran hingga Pemenang Lomba Terima Apresiasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:31 WIB

Dinas Kebudayaan DIY: Pencak Silat Bukan Sekadar Warisan Tradisi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:55 WIB

Pemkab Bangkalan dan IDI Perkuat Sinergi, Dorong Layanan Kesehatan hingga Pelosok

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Novita Hardini Dorong Susu Lokal Trenggalek Naik Kelas, dari Komoditas Jadi Penggerak Ekonomi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Bawa Keluhan Warga, Bupati Sumenep Perjuangkan Transportasi Laut ke Kemenhub

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Pemda DIY Protes BPS soal Perubahan Data Desil Kesejahteraan Warga

Berita Terbaru