Judul: Sumur
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cetakan : Pertama, 2021
Tebal : 51 halaman
ISBN: 978-602-06-5342-2
Cerpen Sumur yang ditulis Eka Kurniawan ini agak sedikit menghibur bagi kita ketika akan membacanya. Mengapa tidak, satu cerpen ini dapat dibaca sekali duduk, bahkan saya sendiri sudah membacanya berkali-kali. Tak kalah pentingnya, cerpen Sumur sudah berhasil menjadi nomine Man Booker International Prize 2016 dan peraih Prince Claus Laureate 2018. Dan cerpen ini kali pertama diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Penguin Books pada 2020, yang masuk ke antologi Tales of Two Planets dengan judul “The Well”.
Jadi pada cerpen ini, kita harus dapat membedakan cerpen dengan novel yang dipendekkan. Tentu cerpen hadir dengan karakteristik yang berbeda, namun basic storytelling nya sama. Tetapi dalam sebuah cerpen kita akan menemukan hal-hal yang mendasar, hal yang berbeda dari menulis novel. Dalam menulis novel kita bisa menghadirkan banyak konflik, naik turun kehidupan, dan banyak karakter. Dalam menulis cerpen kita harus memilih dan memutuskan suatu konflik yang ingin dihadirkan, hanya satu konflik utama dalam menulis cerpen, karakrenya pun terbatas. Dalam ruang yang sempit kita harus bisa menghadirkan cerpen yang solid.
Eka Kurniawan dalam cerpen ini, menceritakan bagaimana kita harus bertahan dalam pertarungan untuk memperoleh air. Realitas yang terjadi di negara kita, air sudah merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi dalam kehidupan sehari. Air yang seharusnya dijaga, tetapi kita tidak bisa menjaganya akibat kerusakan tangan sendiri.
Cerpen ini berusaha mengkritik kondisi alam kita, krisis air di pelbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia. Pertarungan untuk memperoleh air sudah terbaca sejak kita mau memulai membacanya. Konflik sudah dihadirkan di depan dengan terbunuhnya ayah Siti, jadi kita bisa menebak bagaimana keadaan yang terjadi ketika sepasang sejoli yang sejak kecil memang saling mencintai, harus berpisah akibat sebuah peristiwa dan keduanya memilih bungkam, selama ayah Toyib berada di penjara. Sampai mereka berdua bertemu kembali di sebuah sumur—satusatunya sumber air—yang mereka gali untuk yang kesekian kalinya.
Dari sini, kemudian mereka sering bertemu untuk mengambil air. Siti memilih pergi meninggalkan kampung, dari pada hidup yang tak menentu di desa. Toyib juga melakukan apa yang dikukan oleh Siti—meninggalkan kampung halaman—tetapi kemalangan menimpa Toyib sehingga ia harus menunda niat untuk bertemu dengan Siti. Kita tidak bisa menebak bagaimana ending cerpen ini, tidak disangka-sangka ternyata keduanya—istri Toyib dan suami Siti—secara bersamaan tertelungkup di dasar sumur.
Menelisik—ulang—sejarah ke masa silam, sekitar tiga ratus tahun yang lalu, bumi Pamekasan pada masa Raja Panembahan Ranggasukawati, mengakhiri musim hujan yang menggantung di atas wilayah kekuasaanya selama tiga tahun berturut-turut. Jadi sudah sejak masa silam terjadi kekeringan di pelbagai daerah, terutama di pulau Madura. Saya jadi teringat perkataan Kiai A. Dardiri Zubairi, bahwa ketika penambangan fosfat itu terjadi, dapat dimungkinkan Madura pada tahun 2050-an akan kekurangan air.
Di mana penambangan batuan yang berada di wilayah batu karst, karena ini jenis batuan yang menyimpan SDA air. Ketika terjadi penambangan batuan, dalam jangka panjang akan dipastikan dampak kerusakan alam seperti terjadinya krisis air.
Penulis hanya dapat berandai-andai, tanah yang kita miliki dapat dijaga dengan sepenuh hati, agar tanah tersebut dapat memberikan keberkahan bagi pemiliknya. Menurut saya, tanah dapat menularkan tulah dan juga menjadi keberkatan, tergantung bagaimana kita menghormati dan menghargainya. Dari sini kemudian kita akan merasakan keberkatan jika menghargai tanah, kalau kita tidak menghormati maka akan dipastikan kena tulah.
Ketika membaca novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” salah satu karya Eka yang bercerita tentang Ajo Kawir, seorang jagoan yang tak takut mati. Hasratnya yang besar untuk bertarung, didorong oleh sebuah rahasia (impoten).
Ketika berhadapan dengan seorang Eka yang bercerita tentang Ajo Kawir, seorang jagoan yang tak takut mati. Hasratnya yang besar untuk bertarung, didorong oleh sebuah rahasia (impoten). Ketika berhadapan dengan seorang petarung perempuan tangguh bernama Iteung, Ajo babak belur hingga jungkir balik. Dia kemudian jatuh cinta.
Cerpen ini juga ada kesamaan dengan kisah Ajo Kawir, bagaimana ketika dilema dengan rasa cinta yang menggebu-gebu dan penuh obsesi. Hanya saja cerpen ini, mereka memilih untuk bersikap ambivalen terhadap pasangannya. Keduanya saling menanyakan kerinduan selama mereka dilema cinta, di dekat sumur. Mereka berpandangan dan bertukar cerita yang selama ini yang mereka lakukan, berlama-lama sampai akhirnya selesai mengobrolkan apa saja sesuka hati.Tetapi ada kemarahan diantara mereka, yang mengharuskan berpisah sejak lama.
“Kau tahu,” kata Toyib. Ia tak bisa menahannya lebih lama lagi. “Aku mencintaimu.” “Aku juga, dari dulu,” kata Siti. Ia tersenyum sambil menundukkan wajahnya, lalu berjongkok membelakangi ember air setelah menutupnya, mengikatnya dengan kain. Ia berdiri berpegangan kepada pokok kayu, dan berjalan meninggalkan Toyib sebelum lelaki itu mengatakan apa pun lagi.” hlm (44).
Gaya kepenulisan Eka Kurniawan juga tergambar sejak masa belia, ia juga sering menulis puisi serta cerita, terutama tentang dirinya sendiri. Ada banyak perkembangan mengenai kepenulisan Eka, mulai dari cerpen sampai novelnya. Eka menggunakan bahasa yang sederhana, bahasanya cenderung direct, dan menghindari penggunaan ornamen berlebihan.
Tulisan Eka ibaratkan seperti gedung-gedung tanpa dekorasi, kotak-kotak saja. Ketika membaca cerpen “Sumur”, saya jadi lebih banyak berpikir bagaimana kondisi lingkungan kita. Jadi menurut saya, setiap orang yang membaca cerpen ini pasti akan terkagum-kagum ketika membacanya.
Di tulis dengan bahasa yang ringan, dan indah serta di padukan dengan kondisi alam kita. Keterbatasan cerpen ini hanya di cetak secara terbatas. Pasti suatu hari nanti cerpen ini akan menjadi langkah. Jadi setiap cerpen pasti memiliki gaya gedor bagi pembacanya.









