YOGYAKARTA, NOLESA.COM – Gelak tawa dan riuh imajinasi anak-anak memecah ketenangan pagi di Pendapa Yogyatourium Dagadu, Minggu kemarin, 2 Agustus 2026.
Diiringi jemari mungil yang belepotan krayon, lembaran kardus bekas yang semula tak berharga perlahan disulap menjadi sosok-sosok gagah Bregada Keraton Yogyakarta.
Di balik keseruan lokakarya yang digelar Komunitas Wayang Merdeka tersebut, tersimpan sebuah misi besar: merawat tradisi lokal agar tak tergilas zaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Komodifikasi Barang Bekas Menjadi Wayang Bregada Keraton Yogyakarta dengan Media Augmented Reality Interaktif”, tim akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghadirkan cara baru mengenalkan budaya pada generasi digital native.
“Pelestarian budaya di era digital menghadapi tantangan besar dalam menjaga relevansi narasi tradisi bagi generasi muda,” ujar Novan Edo Pratama, ketua tim Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus dosen DKV FBSB UNY.
“Limbah barang bekas yang dibuat menjadi wayang oleh Komunitas Wayang Merdeka punya potensi luar biasa. Namun, media edukasi statis perlu disentuh inovasi agar mampu bersaing dengan gawai,” imbuhnya.
Didukung hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek, Novan tak sendiri. Ia menggandeng Mawaidi, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk mengemas narasi filosofis, serta Vina Meilinda, dosen Seni Rupa, yang mendampingi visualisasi bentuk wayang.
Lewat pendekatan Participatory Technology Development, anak-anak tak sekadar mewarnai dan merakit karakter prajurit keraton. Ketika wayang kardus selesai dibuat, kejutan sesungguhnya dimulai. Melalui aplikasi “Bregada-AR”, karya fisik anak-anak seolah hidup di layar ponsel lengkap dengan animasi gerak dan audio cerita sejarah secara real-time.
“Integrasi elemen kinetik digital ini terbukti meningkatkan pengalaman sensorik dan retensi memori anak-anak terhadap figur budaya lokal,” ujar Novan.
Kolaborasi seni rupa, sastra, dan teknologi ini juga dapat mengedukasi generasi muda, serta juga mendorong kemandirian komunitas lokal serta mendukung ekonomi sirkular berbasis kearifan lokal.
Siang itu, tradisi Jawa tidak lagi terasa kuno atau membosankan. Di tangan anak-anak dan sentuhan teknologi AR, Bregada Keraton Yogyakarta kembali berbaris gagah, menghubungkan masa lalu, dan masa depan dalam satu genggaman. (*)
Penulis : Wail Arrifqi/Tim









