Stoikisme: Seni Menikmati Kebahagian Hidup

Redaksi Nolesa

Jumat, 28 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh |  A. Ma’ruf Annas

OPINI, NOLESA.COM – Pada era yang dinamis ini, kita dituntut untuk semakin sadar terhadap realitas dunia yang dibanjiri dengan ketidakpastian akan suatu harapan. Keiginan akan masa depan yang cemerlang sering berbanding terbalik dengan kenyataan.

Bukan hanya itu, tuntutan sosial, gaya hidup, perkataan dari orang lain, pekerjaan, dan ekonom terhadap dirinya membuat bayang-bayang ketakutan dan kecemasan. Permasalahan tersebut memberi dampak terhadap kesehatan mental bagi Gen Z.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal yang dibutuhkan generasi muda saat ini adalah kebahagian. Lantas, bagaimana cara menciptakan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan?

Pertanyaan tersebut akan memunculkan jawaban yang berbeda setiap anak muda. Bicara tentang kebahagian, hal ini erat kaitanya terhadap sesuatu yang bisa atau tidak bisa dikendalikan dalam hidup. Sering kali kita lebih berfokus pada hal yang tidak bisa dikendilakan.

Oleh karena itu, pentingnya sebuah literasi tentang menjaga kesehatan mental bagi Gen Z melalui filosofi Yunani-Romawi kuno yang disebut Stoikisme. Apa itu filosofi Stoikisme?

Filosifi Stoikisme lahir pada abad ke 3 SM yang dicetuskan oleh Zeno of Citium yang hidup pada periode Hellenistik. Zeno of Citium sebelumnya mendapat musibah besar yaitu kehilangan semua kekayaannya karena kapalnya tenggelam.

Kemudian dilanjutkan oleh Epictetus yang merupakan seorang budak. Setelah itu, dilanjutkan oleh Seneca seorang politikus Roma. Selanjutnya, dilanjutkan oleh Marcus Aurelius seorang kaisar Roma.

Filosofi Stoikisme dilatarbelakangi oleh kejadian buruk yang terjadi di luar dalam kendali diri. Hal ini membuktikan bahwa penerimaan takdir dan kendali diri tidak memandang latar belakang, melainkan keinginan semua manusia untuk bahagia.

Baca Juga :  Pathological Lying

Meskipun filosofi ini sudah lama, tetapi eksistensinya masih terkenal sampai sekarang. Hal tersebut karena mengajarkan suatu jalan hidup yang memberi dampak positif bagi kesehatan mental seseorang. Sangat relevan tentunya bagi Gen Z untuk mempelajari filosofi ini agar terhindar dari ganguan mental yang sering kali merenggut masa depan.

Di dalam filosofi Stoikisme, semua hal yang terjadi dalam hidup bersifat netral. Tidak ada hal baik maupun buruk yang terjadi dalam hidup, melainkan interpertasi dan persepsi diri sendirilah yang menentukan hal tersebut. Stoikisme mengungkapkan bahwa sikap kebijaksanaan merupakan sumber dari sebuah kebahagian.

Orang yang bijaksana adalah orang yang sudah terbiasa dengan masalah maupun penderitaan yang dialami dalam kehidupannya. Mengetahui bagaimana cara mengatasinya dan bangkit melangkah ke depan. Semua itu bisa dilewati dengan penilaian yang didasarkan pada tindakan penerimaan bukan hanya beralaskan perkataan. Sikap kebijaksanaan inilah yang melahirkan suatu kebahagiaan.

Seni Menikmati Kebahagiaan Hidup

Pada dasarnya segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari siklus kehidupan yang sedang, telah, dan akan terjadi. Oleh karena itu, kita perlu memiliki kemampuan untuk tetap tenang dalam mengahadapi realitas kehidupan. Ajaran dalam filosofi ini mengedepankan prinsip dikotomi kendali.

Prinsip ini mengajarkan bahwa ada hal yang bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan. Sering kali kita terlalu mengkhawatirkan hal yang berada di luar kendali yang dapat menyebabkan suatu kecemasan.

Baca Juga :  Jangan Salah Paham, Ini Makna Hari Kontrasepsi Sedunia yang Diperingati Setiap 26 September

Ketika kita mengalami suatu masalah yang dianggap buruk, misalnya tugas skripsi yang tak kunjung selesai, mahasiswa PTN Malang bunuh diri melompat ke sungai Brantas karena depresi. Padahal hal itu tidak bisa dikendalikan, namun kita masih bisa mengendalikan bagaimana reaksi menerimaya. Sedih atau tidaknya bahkan adil atau tidaknya suatu kejadian, diri sendirilah yang menentukan penerimaanya.

Seperti perkataan yang diucapkan Marcus Aurelius “Itu tidak menyakitiku kecuali jika aku menganggap kejadian itu menyakitkan untukku, aku bisa memilih tidak”. Kita seharusnya fokus dengan hal yang berada di dalam kendali. Hal ini penting untuk memiliki kemampuan mengubah ekspetasi menjadi realita, tetapi juga membantu kita dalam menerima kenyatan bukan berujung menyalahkan keadaan.

Amorfati merupakan bagian dari filosofi Stoiksime yang mengajarkan cinta akan suatu takdir yang terjadi, bukan mimpi yang belum tentu terjadi. Epicetus pernah berkata ”Jangan mencari sesuatu yang terjadi seperti yang anda inginkan. Sebaliknya, berharaplah apa yang terjadi seperti bagaimana itu terjadi, maka anda akan bahagia”. Semua orang pasti mempunyai mimpi tersendiri, namun kita tidak boleh berlebihan mencintai mimpi tersebut.

Banyak Gen Z susah melupakan masa lalunya, entah itu terkait mimpinya, percintaan, pekerjaan, dan lain-lain. Kemudian tidak sedikit dari mereka terjebak dalam jurang kesedihan, bukan dijadikan sebagai sebuah pelajaran. Amorfati sangat bagus untuk membentuk mindset Gen Z saat ini untuk bisa menghadapi setiap peristiwa yang terjadi, bukan untuk di hindari jika tidak sesuai dengan ekspetasi.

Baca Juga :  HAM dan Raport Merah Polri

Pre mediation Malorum adalah kegiatan mengimajinasikan hal buruk yang akan terjadi untuk mempersiapkan diri terhadap kejadian yang tidak bisa dihindari. Dalam hidup kita tidak bisa menginginkan hal yang tidak seharusnya terjadi, bahkan hal yang tidak adil juga bisa terjadi. Contohnya kehilangan orang tua, kekasih, terjadi kecelakaan, sakit, dan lainnya.

Hal tersebut sering kali tidak bisa diprediksi dan dihindari sebagian orang. Namun, seharusnya kita bisa mempersiapkan diri terhadap hal buruk yang mungkin akan terjadi. Sehingga mental kita akan siap menerima keadaan tersebut, bukan berlarut dalam kesedihan dengan menyalahkan suatu keadaan.

Hidup terus bergerak ke depan sampai kematian yang menghentikan. Tidak ada yang mampu mengendalikan waktu, namun menjalani hidup tidak lepas dari kenyataan. Diri sendirilah yang bisa mengubah ketidakadilan menjadi sebuah seni menikmati kebahagiaan hidup melalui filosofi Stoikisme.

Filosofi ini cukup relevan bagi kaum Gen Z yang mudah mengalami ganguan mental dalam menghadapi realitas kehidupan. Tiga konsep yang diajarakan dalam Stoikisme, yaitu dikotomi kendali, amorfati, dan pre meditatio malorum sangatlah bermanfaat dalam mengendalikan diri dan membangun mindset Gen Z terhadap masalah kehidupan. Di saat kesehatan mental Gen Z kita terjaga disitulah peluang menuju Indonesia Keemasan. (*)

*) Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia dari UIN Raden Mas Said Surakarta

Berita Terkait

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:58 WIB

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Selasa, 21 April 2026 - 10:59 WIB

Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB