Menyingkap Tabu, Menantang Sunyi

Redaksi Nolesa

Jumat, 20 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Nafiah Nur’aini*

RESENSI BUKU, NOLESA.COM – “Sayapku tidak perlu mengepak. Aku hanya butuh embusan angin.” (Tak Ada Embusan Angin, hal 178).

Kutipan ini muncul menjelang akhir novel Tak Ada Embusan Angin yang ditulis oleh Aveus Har—nama pena dari Suharso. Sepintas sederhana, tapi sesungguhnya menyimpan beban yang berat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Novel ini adalah satu dari sedikit karya fiksi yang berani membicarakan perang tanpa meniru suara maskulin yang biasanya mendominasi narasi sejenis. Setiap narasi tentang perang nyaris selalu dituturkan dengan cara yang sama, yakni keras dan maskulin.

Namun, bagaimana jika perang dilihat dari mata seorang perempuan yang tak ingin menjadi pahlawan, dan tak pula ingin dikenang sebagai korban?

Alih-alih menyuguhkan heroisme, ia justru mengupas tentang luka yang tak selalu berdarah. Ia bicara tentang tubuh perempuan, cinta yang tak diizinkan tumbuh, dan suara-suara kecil yang sering disapu bersih oleh narasi besar.

Suaranya tidak melawan, tapi juga tidak tunduk. Ia tidak berteriak, tapi menolak dibungkam. Tak heran jika novel ini menjadi salah satu naskah yang menarik perhatian Dewan Kesenian Jakarta pada Sayembara Novel 2023.

Tubuh, Identitas, dan Ingatan

Berlatarkan Aceh, tanah yang dikenal sebagai Serambi Mekah, sakral dan penuh batas—novel ini justru mengupas hal yang paling tak biasa. Apa jadinya ketika tubuh menjadi ladang perang? Ketika kesunyian adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuk menyembunyikan diri?

Dikisahkan lewat suara Maneh Maulu, novel ini terbagi dalam sebelas bagian yang mengalir seperti potongan-potongan ingatan. Maneh adalah perempuan biasa, yang hidupnya terjalin rapuh di antara benang-benang takdir yang bukan pilihannya.

Baca Juga :  Mendengarkan Maarten Hidskes

Politik yang mengguncang, kekuasaan yang membelenggu, bahkan tubuhnya sendiri yang menjadi medan pergulatan. Konflik yang membayanginya adalah jejak nyata dari tanah Aceh yang berdarah, di mana suara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan gema pemerintah pusat bertaut dalam sebuah perang kala itu.

Tidak ada heroisme. Tidak ada tokoh yang menyelamatkan siapa pun. Yang ada hanyalah manusia, dengan pikirannya yang saling silang, “Kamu adalah apa yang kamu pikirkan.” (Tak Ada Embusan Angin, hal 51). Kalimat ini, di tengah konflik, menjadi semacam perisai. Sebab saat tubuh tidak lagi punya kuasa, pikiran adalah tempat persembunyian terakhir. Di situlah Maneh bersembunyi, dan di situlah ia bertahan.

Novel ini mengungkap luka sekaligus keberanian untuk tetap ada, untuk tetap merasa, dan untuk tetap hidup meski dengan tubuh yang remuk. Aveus Har tidak menulis dengan kemarahan, tetapi dengan kejujuran. Dan kadang, kejujuran lebih menyakitkan daripada amarah.

Luka yang Tak Perlu Dibumbui

Gaya bahasa Aveus Har sangat tenang. Tidak meledak-ledak, tapi justru karena itu ia terasa jujur. Pembaca tidak dipaksa untuk menangis, tapi diberi ruang untuk merasa. Tidak ada dramatisasi, karena kehidupan tokoh-tokohnya sudah cukup dramatis tanpa perlu dibumbui.

Salah satu kutipan yang paling menohok, “Ia adalah cara patriarki menunjukkan kekuasaannya dengan menghancurkan kepemilikan laki-laki lain atas perempuan-perempuan mereka.” (Tak Ada Embusan Angin, hal 62). Dalam satu kalimat, Aveus Har merobek logika patriarki dan kekuasaan. Perempuan, di mata para penakluk, hanyalah perpanjangan dari kepemilikan, dan kekerasan seksual menjadi instrumen dominasi.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan

Di sela-sela kelamnya narasi, terselip satu kutipan sajak Chairil Anwar, “Luka dan bisa kubawa berlari, hingga hilang pedih perih.” (Tak Ada Embusan Angin, hal 136). Kutipan ini seperti gema yang menyatu dengan langkah Maneh. Ia tidak menantang nasib, ia terus bergerak meskipun sambil memanggul luka yang belum sempat kering.

Sebelas bagian dalam novel ini mengalir sebagai satu suara. Tidak ada jeda, tidak ada bab yang benar-benar terputus. Hal ini membuat pembaca seolah berada dalam satu tarikan napas panjang—lelah, tapi tak ingin berhenti. Pembaca diajak menyelam terus-menerus dalam alur yang rapat.

Kesunyian yang Bersuara

Salah satu kekuatan novel ini adalah keberaniannya menyentuh isu yang selama ini dianggap tabu atau terlalu sensitif, seperti konflik bersenjata dan kekerasan seksual, relasi kuasa dalam keluarga, hingga keraguan terhadap politik, seperti tampak pada kutipan: “Kamu boleh percaya kepada apa pun, kepada siapa pun, tetapi tidak kepada politikus.” (Tak Ada Embusan Angin, hal 98).

Yang tak kalah menarik adalah cara novel ini menggunakan lanskap Aceh sebagai ruang makna. Aceh menjadi simbol dari batas-batas, dari suara yang ditindas, dari hal-hal sakral yang terkadang justru menjadi alat untuk mengatur dan menekan. Di sanalah, di tengah “Serambi Mekah” itu, tokoh utama mencoba mencari jalan keluar, dengan terus hidup.

Baca Juga :  Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang

Beberapa kekurangan tetap ada. Misalnya, beberapa karakter terasa kurang tergarap. Mereka muncul, lalu hilang, tanpa cukup penjelasan. Selain itu, dengan alur yang rapat, terkadang justru pembaca merasa belum siap saat cerita tiba-tiba melompat ke fase baru dalam hidup tokohnya. Tapi memang begitulah realitas hidup di tengah konflik, tidak pernah memberi waktu untuk bersiap.

Sebagai sebuah karya fiksi, Tak Ada Embusan Angin berhasil menghadirkan suara yang jarang diberi ruang, yakni suara tubuh yang tidak ingin dijadikan medan tempur. Novel ini sangat direkomendasikan untuk pembaca yang tertarik pada isu gender, sejarah, dan politik yang tidak memanjakan pembaca dengan aksi, tetapi justru mengajak untuk merenung.

Pada akhirnya, mungkin memang tidak ada embusan angin. Namun, bukan berarti tidak ada arah. Sebab, seperti Maneh Maulu, kita belajar untuk tetap berdiri, bahkan ketika dunia di sekitar kita sedang runtuh.(*)

*Nafiah Nur’aini, lahir pada 11 Agustus 2004. Saat ini sedang menempuh pendidikan semester 6 di Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Aktif di UKM Penelitian dan pernah mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka batch 4 sebagai bagian dari upaya memperkaya wawasan di bidang bahasa dan budaya. Alamat di Desa Cilongkrang, RT 01/RW 01, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Untuk informasi lebih lanjut, dapat dihubungi melalui email di nuraini.nafiahn@gmail.com, serta melalui Instagram dengan username @naafhnr.

Berita Terkait

Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang
Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan
Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame
Impian di Tengah Finansial Kaum Menengah
Manifestasi Martabat Perempuan yang Terbungkus Tradisi
The Life That’s Waiting: untuk Jiwa yang Sedang Lelah
Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam
You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:40 WIB

Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:16 WIB

Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:44 WIB

Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:51 WIB

Impian di Tengah Finansial Kaum Menengah

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:35 WIB

Manifestasi Martabat Perempuan yang Terbungkus Tradisi

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Kamis, 4 Jun 2026 - 19:58 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Jun 2026 - 18:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Jantung Batik Solo

Kamis, 4 Jun 2026 - 17:44 WIB